Politik Sihir Vs Politik Logika, Jika Tidak Cerdas Korban Rakyat

  • Whatsapp

Oleh: Ozzi Sulaiman Sudiro

Aktifitas sihir menyihir adalah proses mempengaruhi objek dengan cara ilutif, rasionalisasi, dan akal-akalan. Mereka disebut ilusionis. Karena mereka mengaduk-aduk wilayah kesadaran yang lemah, telah mengkorup kesadaran dan memanipulasi imaginasi bagi jiwa-jiwa emosionalisme.

Bacaan Lainnya

Sihir tidak efektif terhadap mereka yang kuat, cerdas dengan kesadaran yang tinggi dalam logika dan nurani.

Sihir tidak selalu bermakna magis. Sihir dapat bekerja dalam pola apa saja dengan maksud mempengaruhi massa.

Aktifitas sihir bisa beroperasi melalui ucapan, tulisan, gerakan, teknologi, karikatur, organisasi, permainan bahasa dengan perjuangan kata-kata tanpa makna dsb.

Paham demokrasi adalah sihir. Dan efek sihir ini telah menjangkiti otak manusia sedunia. Hanya sedikit orang yang telah tercerahkan akalnya yang memang selalu imun dan kebal dari pengaruh sihir.

Demokrasi amburadul sangat tidak ilmiah dan efeknya sangat menderitakan umat manusia. Karena asas Demokrasi adalah “suara rakyat suara Tuhan”. Suara rakyat suara kebenaran mutlak dan hakiki yang tidak dapat diganggu gugat.

Ketika rakyat dibuat bodoh atau dibodohi dan hedon, dimana mereka apatis tak lagi peduli terhadap nasib negerinya, suara mereka mudah dibeli dengan harga yang sangat murah mengharapkan nasi kotak yang sudah terkotak-kotak oleh yang tidak punya otak.

Para bedebah dan kurcaci yaitu kapitalis dengan modal tak terhingga kemudian memilih para hedonis yang akan difeodalkan untuk memuluskan program ambisinya, kapitalisme mereka pada tingkat kebijakan.

Dengan modal besar tadi mereka dapat mendudukkan siapa saja yang mereka inginkan untuk menjadi boneka-boneka cerdas seperti badut berakrobat dipasar malam penuh lucu dan menawan, atau remot kontrol yang mudah diarahkan sekaligus dungu sebagai perpanjangan tangan, mereka telah menyihir masyarakat dengan istilah terpilih sangat demokratis.

Akal cemerlang tidak tertipu dengan gegap gempitanya istilah demokrasi. Bagi akal cemerlang, suara Tuhan adalah suara rakyat. Rakyat harus dicerdaskan dan ditingkatkan kesadarannya sehingga mereka memiliki kesadaran politik yang luhur dan bermartabat, peduli pada nasib bangsa jangka pendek dan panjang, dapat membedakan mana benar mana salah, mana pemimpin yang bermartabat dan mana yang dadakan “Abra kadabra” akal-akalan alias sulapan.

Ketika rakyat sudah berketuhanan dan berkemanusiaan, maka proses politik terjadi secara musyawarah yang dipimpin oleh tokoh-tokoh bangsa yang paling tinggi kesadarannya untuk hasil pembangunan yang membawa pada keadilan bagi seluruh rakyatnya.

Indonesia butuh “Pemimpin Rakyat” sebagai penentu kebijakan (Policy Maker)…bukan Pemimpin remote control untuk kepentingan balas budi, black market dan transaksional, yang hanya memberi kemakmuran jasmani kepada bedebah dan kurcaci “ruling party” Karena rakyat butuh Gizi bukan janji-janji…

Apakah kamu termasuk telah terkena sihir atau sudah imun terhadap virus sihir, hanya kecerdasan intelektual yang mampu menangkalnya, semua tinggal pilihan, karena akibatnya hanya kamu sendiri yang menanggungnya.

Penulis : Ketua Umum Komite Wartawan Reformasi Indonesia (KWRI), Seniman dan Budayawan.

  • Whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *