Sudah 145 Tahun Masjid Agung Pondok Tinggi Berdiri Kokoh Tanpa Paku

  • Whatsapp

Catatan : Bujang Purajuk

Sudah 145 tahun Masjid Agung Pondok Tinggi didirikan (bangun) oleh masyarkatnya, dengan semangat kebersamaan dan rasa ke Islaman yang mendalam, masyarakat Pondok Tinggi bahu membahu dan bergotongroyong, mendirikan rumah allah itu, sampai sekarang berdiri kokoh.

Bacaan Lainnya

Menariknya masjid tanpa paku yang kaya akan nilai sejarah kebudayaan ini dibangun pada tahun 1874 oleh masyarakat Pondok Tinggi secara swadaya pada masa itu.
Kini masih berdiri kokoh di Pondok Tinggi, Kota Sungai Penuh ini, didirikan masjid ini banyak memiliki nilai sejarah yang bisa dipelajari. Bangunan masjid mengandung banyak filosofis, dari tiang hingga bangunan atap.

Menurut juru pelihara masjid, Jumadi, awalnya masjid ini bernama Masjid Pondok Tinggi. Ia juga bercerita jika bangunan masjid ini terdiri dari empat tiang utama. Dari tiang ke tiang diikat dengan pasak, tanpa ada satu paku pun yang digunakan.
Empat tiang utama atau yang disebut sebagai empat ‘soko guru’ itu melambangkan empat kekuasaan adat istiadat yang ada di Pondok Tinggi.

“Ada empat Rio (kesukuan) di Pondok Tinggi. Empat soko guru itu melambangkan empat ninik mamak di Pondok Tinggi. Yaitu, ninik mamak Rio Temenggung, ninik mamak Rio Patih, ninik mamak Rio Singaro, dan ninik mamak Rio Mendaro,” kata Jumadi kepada , media ini, Jumat (19/4).

Diceritakan Jumadi, masjid ini dibangun secara gotong royong oleh masyarakat Pondok Tinggi. Di mana masyarakat pada masa itu menarik sendiri material kayu dari bukit untuk membangun masjid.
“Kalau kayunya itu ada kayu medang, ada medang batu. Kayu-kayu itu yang dijadikan tiang-tiang utama,” ungkap Jumadi.

Masjid Agung Pondok Tinggi, kata Jumadi, diresmikan oleh Wakil Presiden RI pertama, Muhammad Hatta, pada tahun 1953.
“Pada 1953 saat Bung Hatta berkunjung ke sini lewat Pesisir Selatan. Di sini belum masuk Provinsi Jambi. Waktu itulah diresmikan Bung Hatta menjadi Masjid Agung Pondok Tinggi,” urai Jumadi.

Jumadi menuturkan, bangunan masjid ini memiliki luas 30×30 meter. Dengan luas area masjid secara keseluruhan yakni 42×45 meter. Masjid Agung Pondok Tinggi memiliki Puncak dari Batu. Puncak aslinya, sejak awal berdiri bertahan hingga terjadinya musibah besar di Kerinci. Pada gempa 1995 yang melanda Kerinci Gempa yang maha dahsat, meluluh lantakkan Kerinci termasuk masjid yang terbuat dari batu pun ikut jatuh, saat ini puncak batu diganti dengan batu yang diduplikatkan mirip dengan puncak asli, ujarnya.

“Yang aslinya sampai sekarang masih ada tersimpan aman dan rapi masih dilestarikan. Puncak yang asli itu terbuat dari batu utuh yang dipahat. Kalau yang asli itu mengeluarkan cahaya biru pada saat malam hari,” ungkap Jumadi. Kita tidak ada apa, yang bisa bercahaya itu…?
Bentuk masjid ini sampai sekarang masih mempertahankan bentuk asli. Bahkan sejak awal dibangun masjid ini tidak mengalami renovasi yang berarti. Renovasi penting hanya dilakukan pada bagian atap bangunan.

“Kalau atap aslinya itu dari ijuk. Itu bertahan selama 25 tahun dan diganti dengan kayu sirap. Baru di tahun 1900-an diganti menggunakan atap seng,” kata Jumadi.

Bangunan inti masjid masih tanpa menggunakan paku. Namun untuk bagian atap sendiri sudah menggunakan paku karena memang atap masjid sudah diganti dengan seng. “Penggunaan paku cuma di bagian atap. Kalau dulu cuma diikat,” kata Jumadi menambahkan.

Masjid ini masih efektif digunakan tempat beribadah oleh masyarakat Pondok Tinggi, untuk Sholat lima waktu dan Sholat Jum,at. Bahkan untuk acara keagamaan Islam lainnya, pengajian Alqur,aan Nurqarim, kegiatan remaja Islam Masjid dan lainnya.
Masuk ke dalam bangunan masjid, jelas terlihat jika sentuhan budaya tradisional masih sangat melekat.

Ukiran-ukiran tangan masih bertahan di tiang-tiang dalam masjid. Di bagian dalam atas terlihat sebuah kotak yang dihubungkan dengan tangga. Di situlah azan dikumandangkan setiap masuk waktu sholat. Kondisi itu masih dipertahankan hingga saat ini.

Dari pengamatan awak media ini, dari berdirinya Masjid Agung Pondok Tinggi 1974 atau satu setengah abad silam banyak yang bisa kita petik [elajaran dari sana, (dari masyarakat) setempat antara lain, kuatnya rasa kebersamaan membangun rumah allah, tempat Sholat berjemaah yang hingga saat ini dilestarikan, dan digunakan sebagaimana mestinya.

Dan mereka menggukan pasak dari kayu yang sangat baik bermutu hingga bertahan sampai saat ini. Dan menjadi catatan sejarah Islam di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh, yang wajib di contoh. Dan terus dilestarikan oleh generasi muda saat ini.

Editor/ditulis ulang: Gafar Uyub Depati Intan/ Zoni Irawan.

  • Whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *