Diduga Galian C Illegal di Kerinci Pasok Material ke PLTA

Ket Foto: Galian C Ilegal Milik Putra Apri Remon yang Berlokasi di Siulak Deras Kabupaten Kerinci Jambi. (Dok)

KERINCI,GEGERONLINE.CO.ID-Kegiatan penambangan galian C milik Putra Apri Remon yang berlokasi di Siulak Deras, Kecamatan Gunung Kerinci, Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi diduga kuat beroperasi tanpa mengantongi izin (Illegal).

Selain diduga tak mengantongi izin, titik koordinat dan legalitas izin seperti IWUP, IUP Produksi perusahaan galian C tersebut juga diduga bermasalah. Dan kasusnya pernah dilaporkan ke pihak Polres Kerinci, namun hingga kini belum ada status hukumnya, apakah kasus tersebut dilanjutkan atau dihentikan?.

Bacaan Lainnya

Hal ini dibeberkan Khumaini aktivis Senior Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh. Menurut dia, saat ini galian C di Siulak Deras masih melakukan pengerukan hingga ke pinggir jalan Nasional.

Untuk diketahui, Tim Dittipiter Mabes Polri pernah turun langsung ke lokasi galian C tersebut sekitar akhir bulan April lalu. Sayangnya belum juga ada tindaklanjutnya.

Untuk lokasi galian C milik Putra Apri Remon, izin usaha pertambangannya sudah berakhir pada 20 Juni 2021 dan sampai saat ini penambangan masih terus beroperasi dan melakukan penjualan material ke PLTA yang merupakan salah satu perusahaan Nasional yang bergerak di Kabupaten Kerinci, tambahnya.

“Aktivitas pertambangan tersebut tentunya sudah keluar dari aturan dan ketentuan. Ditambah lagi, hasil galian juga dipasok ke PLTA, dikhawatirkan PLTA ikut terbawa masalah karena menampung hasil pertambangan yang bermasalah, hingga saat ini pemilik menyatakan sudah ada pengurusan IUP.”

“Jika demikian, maka disinyalir aktivitas selama ini tanpa IUP alias illegal, dan pihak ESDM Provinsi jambi dengan tegas menyatakan tidak pernah memberikan rekomendasi perpanjangan izin atas nama Perusahaan CV. PILAR USAHA,” ungkapnya

Selain persoalan tersebut, kata Khumaini, lokasi galian tersebut juga memberi dampak buruk terhadap lingkungan, karena tidak terdapat pengendalian lingkungan kolam endapan atau proses limbah hasil galian C. Sehingga limbah galian mencemari sungai dan berdampak pada kerusakan lingkungan.

“Setiap pertambangan itu wajib memperhatikan dampak lingkungan. Limbah hasil galian harus ada proses pengendapan sebelum sampai ke sungai, tapi di lokasi ini malah itu yang tidak dilakukan,” ujarnya

Dia berharap kepada Aparat Penegak Hukum (APH) untuk dapat mengusut kasus tersebut, karena pertambangan tidak cukup hanya bermodal izin yang terindikasi bermasalah saja, tetapi kewajiban memelihara lingkungan itu lebih penting.

“Kita yakin dan percaya, Polres Kerinci dapat memproses kedua lokasi galian C tersebut. Sehingga kedepan, jika ada usaha pertambangan yang beroperasi, pengelolaan lingkungan wajib ada sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” tandas Khumaini. (DP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *