PPK Tutup Mata, Proyek Jalan Asrama Brimob Rp 11,8 M Diduga Terjadi Pencurian Volume

Ket Foto: Vidra Novianti Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Jalan Asrama Brimob-Air Terjun Kabupaten Kerinci. (Foto BZ)

KERINCI,GEGERONLINE.CO.ID-Pengerjaan Proyek Jalan Asrama Brimob-Air Terjun di Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi diduga terjadi pencurian volume yang berpotensi merugikan keuangan Negara itu, Aparat Penegak Hukum (APH) dapat bertindak tegas.

Pasalnya, mereka selaku Pengguna Anggaran (PA), Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) diduga kuat melakukan pembiaran terhadap pencurian volume pada pelaksanaan fisik proyek dengan menandatangani 100 persen pencairan.

Bacaan Lainnya

Tidak tertutup kemungkinan, kejadian sama terhadap fisik proyek dipusaran Jalan Asrama Brimob-Air Terjun yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun anggaran 2023, dengan nilai kontrak sebesar Rp.11.841.230.232,96- (11,8 M), Vidra selaku PPK dapat terjerat hukum.

Berdasarkan hasil investigasi dilapangan beberapa waktu lalu, mutu material dihamparkan sebelum aspal terindikasi adanya dugaan Mark Up harga satuan material.

Diketahui, proyek ini dikerjakan PT. Azka Jaya Mandiri milik Kontraktor Kondang, H. Andi Putra Wijaya, bahkan sudah 2 tahap dikerjakan orang yang sama dan Vidra (PPK), Edi Warman (PPTK), Konsultan sama dengan dugaan di swakelola Dinas PUPR Kerinci.

Atas pekerjaan ini, Adirozal selaku Bupati Kerinci diminta untuk bertindak tegas atas dugaan penyimpangan Proyek Jalan Asrama Brimob agar tidak turut menuai hujatan.

Proyek ini dikerjakan Perusahaan milik Andi Yusuf yang selama dua tahun belakangan telah menghabiskan anggaran mencapai Rp.26 milyar yakni, tahun 2020 (14 M) dan 2023 (11,8 M).

Patut diduga, dalam pelaksanaan proyek tersebut terindikasi pencurian volume serta menjadi lahan empuk korupsi berjamaah pihak yang diduga terlibat.

Menurut sumber Senin (2/10/2023) pukul 09:00 WIB, Material klas A dihamparkan tidak hasil dengan analisa yakni, produk Stone Crusher

“Ironis dilokasi hanya batu pecahan hasil excavator yang digiling vibro langsung berdebu bak klas A. Padahal hanya timbunan pilihan dengan analisa harga sekitar Rp.225 ribu per kubik hamparan, sementara analisa produk Stone Crusher jauh lebih besar.

“Seperti beton struktur FC 20 mpa, malah yang terlaksana dilapangan itu hanya beton pra cetak (precast). Sementara dalam RAB tidak ditemukan Item Precast.

Jika nanti addendum tentu harus ada alasan yang jelas mengapa di rubah karena tidak sesuai perjanjian kontrak.”

“Material klas A sangat jauh dari acuan Spesifikasi yang tertuang dalam RAB, masak klas A sekali digiling vibro langsung jadi debu,” ungkap sumber.

Dugaan pencurian volume dan penggunaan material tidak sesuai spesifikasi teknis berpotensi rugikan negara milyaran rupiah seolah terabaikan tanpa pengawasan berarti dari pihak dinas PU kerinci.

Jika Adirozal selaku Bupati Kerinci tidak segera mengambil tindakan terhadap dugaan penyimpangan milyaran rupiah pada pelaksanaan proyek tersebut, patut diduga juga ikut menikmati hasil kecurangan dan Mark Up harga satuan oleh kontraktor.

Parah lagi, permukaan jalan aspal hasil pekerjaan tahun 2021, malah dirusak akibat dilalui alat berat jenis excavator tanpa mengeluarkan biaya rolling.

Ditemukan juga pasangan batu dengan Mortar menggunakan Pasir Sungai Tuak, ini sudah jelas tidak sesuai spesifikasi teknis, namun tetap sebagai bahan material utama.

Vidra Novianto, selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) bungkam, wajar jika Pengawas, PPTK terkesan mengikuti aturan kontraktor untuk leluasa melakukan pelanggaran cacat konstruksi. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *