Makna Isra Miraj Nabi Muhammad

Istimewa

Isra Miraj merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam. Sebab, perintah melaksanakan salat wajib lima waktu turun ketika Rasulullah SAW melakukan perjalanan Isra Miraj.

Isra Miraj adalah perjalanan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis yang dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Rasulullah melakukan perjalanan Isra Miraj bersama Malaikat Jibril.

Bacaan Lainnya

Peristiwa Isra Miraj termaktub dalam surah Al Isra ayat 1. Allah SWT berfirman,

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ١

Artinya: “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Isra Miraj menyimpan beberapa makna yang mendalam bagi umat Islam. Berikut di antaranya.

Makna Isra Miraj

Melansir situs Kemenag, Rabu (7/2/2024), Analis Kebijakan Ahli Muda pada Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag RI Ihsan Faisal menjelaskan perjalanan Isra Miraj dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam waktu satu malam. Peristiwa penting ini membawa perintah untuk menunaikan salat lima waktu.

Terdapat beberapa perbedaan pendapat dari para ulama mengenai kapan terjadinya Isra Miraj. Namun, pendapat yang populer adalah Isra Miraj terjadi pada malam 27 Rajab.

Isra Miraj adalah perjalanan yang suci bagi Rasulullah SAW. Peristiwa ini juga menjadi titik balik bangkitnya dakwah Rasulullah SAW.

Menurut Jalaluddin Rakhmat, salah satu momen penting dalam peristiwa Isra Miraj adalah ketika Rasulullah SAW bertemu dengan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, “Attahiyatul mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah” yang artinya segala penghormatan, kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah saja.

Kemudian Allah SWT berfirman, “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh.”

Isra Miraj terbagi dalam dua peristiwa yang berbeda, yaitu Isra dan Miraj. Ketika Isra, Allah SWT memberangkatkan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram menuju Baitul Maqdis.

Kemudian ketika Miraj, Rasulullah SAW dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha. Rasulullah SAW mendapatkan perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan salat wajib lima waktu.

Allah SWT memberangkatkan Rasulullah SAW dari Baitul Maqdis karena Rasulullah SAW adalah satu-satunya nabi dari golongan Ibrahim AS yang berasal dari Ismail AS, sedangkan para nabi yang lain berasal dari Ishaq AS.

Allah SWT juga ingin memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya secara langsung kepada Rasulullah SAW. Sebab saat itu dakwah Rasulullah SAW sedang dalam masa sulit dan penuh duka.

Sebagai upaya untuk memotivasi dan menyemangati Rasulullah SAW, Allah SWT mempertemukan Rasulullah SAW dengan para nabi sebelumnya. Hal ini juga menjadi pelajaran bagi umat Islam jika Allah SWT mendengar semua keluh kesah hamba-Nya, termasuk jika mengalami keadaan yang sulit.

Isra Miraj merupakan peristiwa yang berharga bagi umat Islam karena turunnya perintah wajib salat lima waktu dan tidak ada nabi lain yang mendapat perjalanan hingga ke Sidratul Muntaha. Namun, Isra Miraj juga memuat beberapa hal yang membuat Rasulullah SAW sedih.

Masih mengacu pada sumber sebelumnya, terdapat beberapa nilai bagi sebuah kepemimpinan dalam peristiwa Isra Miraj, di antaranya:

Menjaga integritas moral (akhlakul karimah)

Untuk mewujudkan sikap menjaga integritas moral dapat dilakukan dengan reformasi moral (revolusi mental) yang dimulai dari tingkat aparaturnya.

Belajar kepada sejarah

Hal ini dapat berupa nilai-nilai yang berkaitan dengan masa lampau, dapat juga berupa pengalaman dari orang yang pernah menjalankan sebuah kepemimpinan. Dengan demikian, kontinuitas kesejarahan dapat terus dipertahankan dan dikembangkan.

Kebijakan pemimpin hendaknya membumi kepada hati dan rakyat.

Kebijakan yang membumi mutlak diperlukan. Dalam kaidah fikih dikatakan, kebijakan pemimpin itu akan senantiasa berlandaskan pada kemaslahatan untuk rakyat.

Pola hubungan antara hamba kepada Tuhannya dan antara manusia dengan sesamanya.

Hal ini tergambar dari amanat Rasulullah SAW untuk menegakkan salat. Dalam ajaran salat, seorang hamba harus berwudlu atau dalam keadaan suci. Pelaksanaan salat dimulai dengan mengagungkan Asma Allah SWT (takbiratul ihram) dan diakhiri dengan doa keselamatan bagi segenap umat manusia (salam).

Harus lurus dalam melaksanakan keadilan dengan didasari nilai-nilai persamaan di muka hukum.

Diharapkan sebuah kepemimpinan dapat berjalan lancar dan tidak mudah terpincut godaan. Hal ini akan berjalan baik ketika aparatur konsisten dan disiplin (istiqamah), dapat dipercaya (amanah), serta mau merundingkan segala persoalan dengan musyawarah.

Seorang pemimpin juga tidak boleh merasa paling tahu terhadap semua urusan (tanatthu’). Juga jangan sampai mempersulit (tasydid), dan kebijakannya tidak melewati batas kemampuan yang ada (ghuluw), baik bagi yang dipimpin atau sang pemimpin itu sendiri.

Dirangkum dari buku As-Sirah an-Nabawiyah karya Abul Hasan Ali al-Hasani an-Nadwi yang diterjemahkan Muhammad Halabi Hamdi dkk, peristiwa Isra Miraj telah memproklamasikan bahwa Rasulullah SAW bukan berasal dari kalangan pemimpin.

Namun, Rasulullah SAW berasal dari kalangan nabi dan utusan Allah SWT (Rasul) yang membawa risalah langit ke bumi, membawa risalah Sang Pencipta kepada makhluk, membahagiakan manusia dalam berbagai suku dan golongan, dalam berbagai masa dan generasi.

al-Mubarakfuri yang diterjemahkan Faris Khairul Anam, Isra Miraj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian. Ini adalah pendapat al-Allamah al-Mashurfuri. Namun, pendapat ini kurang diyakini kebenarannya.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Jalaluddin As-Suyuthi dalam al-Isra’ wa al-Mi’raj yang diterjemahkan Arya Noor Amarsyah memaparkan 14 pendapat terkait waktu terjadinya Isra Miraj. Adapun, mayoritas ulama sepakat Isra Miraj terjadi setelah kelahiran Fathimah, putri Rasulullah SAW. (red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *