Surau-Surau yang Terlupakan di Bumi Hamparan Rawang

Ket Foto: Banjir yang Mengenangi Kecamatan Hamparan Rawang Kota Sungai Beberapa Waktu Lalu. (dok)

Oleh: Harul Mukri Ananta Mahasiswa Universitas Islam Negeri

1. Pendahuluan

Bacaan Lainnya

Hamparan Rawang merupakan salah satu nama Negeri yang berada di Provinsi Jambi, tepatnya di kota Sungai Penuh. Hamparan Rawang pada awalnya terdiri dari delapan Desa, yaitu Kampung Dalam, Larik Kemahan, Maliki Air, Koto Beringin, Koto Dian, dan Kampung Diilir. Dikarenakan adanya pemekaran, delapan Desa tersebut bertambah, diantaranya ada Desa Cempaka, Simpang Tiga Rawang, Tanjung, dan Tanjung Muda.

Negeri dengan julukan “Tiga di Hilir Empat Tanah Rawang, Tiga di Mudik Empat Tanah Rawang” memiliki sebuah kawasan yang disebut sebagai Tanah Sabingkeh atau Tanah Sabingkeh Payung Sekakai yang merupakan kedudukan Depati Delapan Helai Kain Alam Kerinci yang memimpin kedepatian Hamparan Besar Tanah Rawang. Sebelum penjajahan Belanda, kedepatian merupakan pemerintahan tertinggi di Hamparan Rawang. Di sekitar kawasan Tanah Sabingkeh, juga terdapat Masjid Raya Rawang yang dibangun pada abad ke-19 oleh Depati Delapan Helai Kain Alam Kerinci.

Dahulunya masyarakat Rawang memiliki adat dan budaya yang sangat kental. Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan zaman adat budaya di Hamparan Rawang mulai pudar dikarenakan pengaruh yang datang dari luar bumi Hamparan Rawang, seperti era globalisasi yang mempengaruhi keadaan sosial di Hamparan Rawang. Hal inilah yang menyebabkan anak-anak di hamparan melupakan atau bahkan tidak mengenal kebudayaan negerinya sendiri.

“Anek Awo” merupakan panggilan yang seringkali diucapkan oleh penduduk daerah lain dalam memanggil penduduk asli Hamparan Rawang. Istilah ini biasanya diucapkan oleh remaja atau anak-anak muda di Hamparan Rawang. Dahulunya pada waktu setelah sholat maghrib atau diwaktu sore anek awo memiliki kebiasaan datang ke surau untuk mengaji ilmu agama islam sebagai bekal dasar untuk mereka. Namun, kenyataan yang terjadi kebiasaan itu mulai pudar di era sekarang. Hal ini salah satunya disebabkan karena kurangnya kepekaan sosial masyarakat Hamparan Rawang dalam melihat realitas itu. Kenyataan seperti itulah yang seharusnya menjadi tanggung jawab besar bagi masyarakat itu sendiri, terkhususnya bagi tokoh adat, alim ulama, dan cerdik pandai. Hamparan Rawang tidak kekurangan dalam melahirkan tokoh intelektual, hanya saja mereka yang dari kalangan terdidik membiarkan budaya buruk dari luar menggerogoti anak-anak di bumi Hamparan.

Surau adalah salah satu institusi dalam mendidik anak-anak dan remaja, baik dalam memberi ilmu pengetahuan maupun dalam menanamkan nilai-nilai moral pada anak. Tetapi sekarang surau hanya dijadikan sebagai tempat ibadah. Anak-anak yang ingin bermain didalam surau telah dibatasi seolah-seolah surau merupakan tempat yang serius dan kaku. Faktor inilah yang sebenarnya menyebabkan surau tidak diminati oleh anak-anak dan remaja, dan hal ini pula yang membuat kebiasaan untuk mengaji di surau menjadi hal yang tidak menarik bagi anak-anak dan remaja, karena baginya surau telah dianggap sebagai tempat yang hanya dihuni oleh orang dewasa.

2. Pembahasan

Adat dan kebudayaan merupakan kebiasaan atau aturan-aturan yang ada pada masyarakat. Adat dan kebudayaan juga menjadi ciri khas dari sebuah negeri yang menandakan negeri tersebut memiliki sebuah peradaban. Adat dan kebudayaan di Hamparan Rawang memiliki keunikan tersendiri, diantaranya ialah Rentak Kudo, Anyaman Lapaik (Tikar atau alas duduk), dan kebiasaan anak-anak dan remaja pergi mengaji di surau. Hal ini menjadi tanggung jawab kita dalam menjaga dan melestarikannya, tetapi dalam kenyataannya bahwa rentak kudo telah menyimpang dari norma adat dan agama islam. Rentak kudo yang awalnya merupakan tari tradisional, sekarang menjadi tradisi pesta minuman keras bagi remaja. Kebudayaan yang menyimpang itulah yang sebenarnya harus diperbaiki.

Selain itu ada Anyaman Lapaik yang juga merupakan salah satu budaya yang ada di masyarakat Hamparan Rawang, Tepatnya di desa Koto Dian. Budaya ini merupakan salah satu tradisi yang harus dilestarikan dan dikembangkan. Hal ini tentunya membutuhkan usaha yang cukup besar dalam mengajarkan anak-anak dan remaja terkait dengan cara menganyam lapaik, karena minat anak-anak dan remaja terhadap kebudayaan yang seperti itu hampir sudah tidak ada.

Begitu juga dengan surau yang merupakan salah satu tempat penting dalam pengembangan nilai-nilai moral agama dan adat yang ada di Hamparan Rawang. Surau berperan penting dalam melahirkan anak-anak cerdas di bumi Hamparan. Hasil dari pendidikan moral yang ada di surau ditandai dengan ketaatan anak-anak dan remaja dalam beribadah. Tetapi sekarang surau telah dianggap sebagai tempat yang hanya dihuni oleh orang dewasa, dianggap sebagai tempat yang kaku dan serius. Padahal seharusnya surau harus dibuat lebih terbuka untuk anak-anak dan remaja, surau harus menjadi teman bermain dan berdiskusi. Sehingga anak-anak dan remaja memiliki ketertarikan untuk datang ke surau. Pemahaman seperti inilah yang sebenarnya menjadi tanggung jawab bagi pemimpin, tokoh adat, ulama, cerdik pandai dan masyarakat itu sendiri dalam mengembangkan minat anak-anak dan remaja yang memudar untuk datang ke surau.

Seiring berjalannya waktu, era globalisasi menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pudarnya lampu-lampu di surau, pudarnya suasana tradisional saat rentak kudo, pudarnya minat untuk menganyam lapaik. Maka tidak heran ketika melihat anak-anak di Hamparan Rawang tidak mencintai tanah kelahirannya sendiri. Kenyataan bahwa adat dan kebudayaan di Hamparan Rawang sudah mulai memudar merupakan sebuah perubahan sosial. Sehingga diperlukanlah upaya yang sungguh-sungguh dalam menjaga dan melestarikannya.

3. Penutup

Surau-surau yang terlupakan merupakan sebuah permasalahan yang mesti diperbaiki oleh masyarakat Hamparan Rawang. Hal ini menyangkut karakter dan pendidikan anak-anak dan remaja sekarang yang merupakan pemimpin Negeri Hamparan Rawang di zaman yang akan datang. Oleh karena itu, pengembangan nilai-nilai moral agama dan adat istiadat kepada anak-anak dan remaja sudah semestinya menjadi tanggung jawab bersama. Hal ini membutuhkan kekompakan masyarakat dalam mewujudkan harapan tersebut.

Artikel ini bertujuan untuk mengajak tokoh-tokoh yang ada di dalam masyarakat Hamparan Rawang untuk tetap menjaga kerukunan satu sama lain, sehingga dapat memaksimalkan perannya dalam mendidik anak-anak dan remaja hamparan rawang. Sebagai penutup kalimat, penulis ingin mengutip slogan dari organisasi Ikatan Mahasiswa Rawang-Padang (IMR-P) yang berbunyi “CINTA DAN CITA KAMI UNTUKMU HAMPARAN.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *