Ditulis Oleh: Bopi Cassia Putra
Nantan Luncek itu ibunya orang Perut Pandak Luhah Rio Pati. Bapaknya orang Kumun (Keluarga dari Abu Hasan dan Muradi Darmansyah).
Beliau adalah saksi hidup berdirinya Mesjid Agung pada tahun 1874. Saat itu, beliau berumur 10 tahun. Makanya kita masih bisa tahu nama arsitek, Jenang, Tukang. Ketika itu keadaan Dusun Pondok Tinggi melalui sejarah yang diurai oleh Nantan Luncek sekitar tahun 1974 kepada tim penelusur sejarah Masjid Agung.
Pada tahun 1974, melalui Ketua pengkajian sejarah Masjid Agung (dalam rangka 100 tahun Masjid Agung) yang diketuai oleh Nantan Tuo A. Norewan, mengambil data primer dari Nantan Luncek.
Nantan Luncek sendiri selama hidupnya adalah Tuo Dukun dan ahli kebatinan di Pondok Tinggi. Bahkan bisa dikatakan beliau adalah “hulubalang”.
Beliau sendiri juga saudara sepupu (dusanak ibu) dari Haji Miskin, orang Perut Pandak Rio Pati (Laheik Umoh-Nanggut dari Ninik Mamak Rio Pati), dimana beliau juga dikenal sebagai Tuo Dukun dan seorang ahli tassawuf (sufi).
Haji Miskin sendiri oleh orang Pondok Tinggi pada zamannya digelari orang keramat hidup-hidup, karena beliau tahu kapan waktunya meninggal dunia (hari Jum’at) dan dimana dia akan meninggal (di tempat yang lengang – Mudik Air).
Jirat Haji Miskin masih ada di Mudik Air. Dekat dengan ladang kakanda Dpt. Aspar Nasir.
Nantan Luncek memiliki enam orang anak kandung dan satu anak sambung.
Beliau menikah di Larik Kemanyan, di Perut Panjang Luhoh Rio Pati (Rio Pati Putih).
Keenam Anak dari Nantan Luncek beliau adalah:
1. Indouk Tuo Mustapa (Tuo Tapa – Apoe Air Laheik Kanyan).
2. Rio Mat Hasan (Ayah Syamsir).
3. Siti Muna (Tino Wandri/ Januarisdi).
4. Ibnu Hakim (Nantan Beni).
5. Hamzah, Nantan Andok (Apoe Yanin).
6. H. Lukman Hakim (Nantan Nsouw Poe Lina – Nantan Pendi).
Setelah istri pertama meninggal, beliau menikah dengan adik istri pertama (ganti lapik). Itulah ibu dari Nantan Nek Thawalib, mantan Wadanres Kerinci tahun 90an).
Nantan Luncek sangat sayang dengan Nantan Nek Thawalib, bahkan beliau mendukung penuh upaya menyekolahkan Nantan Nek Thawalib untuk sekolah polisi.
Nantan Luncek dikenal sebagai orang yang cerdas dan tangkas. Beliau mampu menuliskan ranji silsilahnya ke atas sampai 4-5 generasi.
Makanya tidak heran beliau memiliki kemampuan menuturkan dengan baik, bahkan lengkap sejarah pendirian Masjid Agung pada panitia 100 tahun Masjid Agung pada bukan Juni 1974, yang saat itu diketuai oleh Nantan Tuo A. Norewan. Padahal saat pendirian Masjid Agung pada tahun 1874 itu, Nantan Luncek baru berumur 13 tahun. Tapi beliau mampu merekam persitiwa, termasuk tokoh-tokoh yang terlibat dalam pendirian Masjid Agung saat itu.
Bersambung..