Oleh: Prof. Dr. Rizal Djalil Ex Ketua BPK RI, Inisiator Pendirian Kota Sungai Penuh di DPR RI 2008
Hiruk Pikuk Kampanye telah Berlangsung lebih kurang satu bulan, 5 (lima )pasangan calon (Paslon) Walikota-Wakil Walikota Sungai Penuh telah memaparkan janji politik dan Program yang akan dilaksanakan bila ditakdirkan Terpilih.
Tim Sukses sibuk kesana kemari untuk meyakinkan tokoh masyarakat, Pemangku Adat, Ninik Mamak, Ulama, tokoh pemuda dan tokoh wanita : bahwa calon yang didukungnya paling oke, paling tepat untuk dipilih memimpin Kota Sungai Penuh 5 tahun kedepan.
Para calon mematut diri kesana kemari, berkunjung ke Pasar, Masjid dan Musholla- yamg selama ini mungkin jarang didatangi oleh para calon sendiri, itu bagus-bagus saja dan sah saja, karena musim kampanye. Tapi tetaplah 72.000 (rujuh puluh dua ribu) mata pilih -yang 30.000 (tiga puluh ribu) diantaranya pemilih kaum milinieal- yang akan menentukan siapa Walikota dan Wakil Walikota Sungai Penuh Periode 2024-2029.

Kelima pasangan calon yang berkompetisi adalah putra terbaik Kota Sungai Penuh, paling tidak menurut pendukung dan Partai pengusung calon tersebut. Soal apakah mampu memimpin Kota Sungai Penuh sang waktu yang akan membuktikannya nanti. Yang pasti 1 (satu) pasangan calon yang akan menjadi Walikota dan Wakil Walikota terpilih.
Dari tema kampanye yang telah disampaikan oleh para Paslon, kita dapat memillih dan memilah mana yang masuk akal dan mana yang sekedar ” Omon-omon” saja.
Masyarakat pemilih sebaiknya fokus pada topik bagaimana sampah di Kota Sungai Penuh hendak dikelola?…….
Bagaimana banjir hendak ditangani?….. Bagamana pembinaan karir ASN dilakukan: apakah setiap jabatan Da tarifnya?…..
Bagaimana taman (penghijauan) dan trotoar mau ditata?……
Apakah benar Pasar baru hendak dibangun?.
Bagaimana mau mengatasi banjir dengan dana sekecil itu?
Sebagai ilustrasi Total APBD Kota Sungai Penuh Rp 867 Miliar (un audited) dan defisit 43,5 Milyar. Dan sebagian besar Rp. 605 Milyar merupakan belanja operasional termasuk belanja pegawai. Hanya Rp 148 Miliar belajna modal untuk membangun. Yang riel pun sudah pasti tidak sebesar itu yang betul-betul dipergunakan untuk membangun. Saya kira anak SD pun paham penomena ini.
Bagaimana mau menata Desa dan Dusun? Uang tak cukup. Apalagi mau membangun taman baru. Untuk itulah kita memerlukan Walikota yang berkelas Nasional bahkan global yang mampu meyakinkan para Menteri sebagai Pengguna Anggaran di Pusat untuk mengucurkan dana program ke Kota Sungai Penuh.
Kalau sekedar pemain lokal, apa lagi tidak dikenal dilevel Nasional bukan tidak bisa, tapi berat. Ini lah kunci kita memilih Walikota yang mampu benar-benar membangun bukan hanya janji kosong.
Bak pepatah Sungai Penuh mengatakan “Melihat Tuah Pada yang Menang dan Melihat Contoh Pada yang Telah Sudah (menjabat),” dapat menjadi Renungan kita semua untuk menentukan siapa yang akan dipilih pada 27 November 2024 mendatang.