Hamparan Rawang Negeri yang Terombang – Ambing

IMG 20241122 WA0000

Oleh : Harul Mukti Ananta

Tak ada yang mewah dari sebuah Negeri yang dijuluki “Tiga di Hilir empat tanah Rawang, tiga di Mudik empat tanah Rawang”. Masyarakatnya sederhana, sebagian dari mereka sibuk di sawah, itu pun jika sawahnya tak kebanjiran.

Bacaan Lainnya

Musibah semacam itu kerap terjadi, tapi mereka hanya bisa berdoa, alih-alih menunggu Pemerintah mencari solusi. Namun, walaupun demikian, ada sesuatu yang menarik dari Negeri ini, anggap saja sebuah keistimewaan yang tertidur.

Masyarakat Hamparan Rawang dulunya terkenal dengan semangat gotong royong yang tinggi, hal ini dapat dibuktikan saat kenduri, pernikahan (bakejoi), rentak kudo yang dilakukan secara bersama. Keinginan untuk saling membantu itu disebabkan oleh hubungan darah dan kekerabatan. Gotong royong dan semangat kebersamaan juga tercipta oleh satu kesamaan adat dan istiadat.

Hal itu merupakan salah satu keistimewaan di Negeri tersebut. Hari-hari ini, keistimewan itu tidak mampu diberdayakan oleh tokoh-tokoh yang ada di Hamparan Rawang, sehingga kekerabatan masyarakat telah memudar oleh perkembangan zaman diiringi dengan ketidakpedulian kita kepada masyarakat. Ditambah lagi dengan situasi politik yang selalu saja melahirkan perpecahan yang ada di masyarakat. Sayangnya, keadaan itu terpampang nyata di Hamparan Rawang.

Kemudian Mahasiswa Hamparan Rawang cukup eksis di dalam kehidupan masyarakat, hal ini dapat dilihat dari beberapa kegiatan yang telah diselenggarakan oleh organisasi mahasiswa yang ada di Hamparan Rawang. Kegiatan seperti Pekan Olahraga, Festival Anak Sholeh, bahkan Festival Budaya yang telah diselenggarakan oleh mahasiswa, menunjukkan bahwa mahasiwa Hamparan Rawang memiliki keinginan baik untuk Negerinya. Keinginan baik itu adalah manifestasi dari kecintaan terhadap tanah kelahirannya.

Namun, beberapa pihak yang ada di Hamparan Rawang tidak memperhatikan potensi itu sehingga kurang mau mendukung, bahkan membatasi kreativitas mahasiswa. Pembatasan ini menciptakan iklim yang tidak kondusif bagi perkembangan kreativitas, karena mahasiswa tidak merasa bebas untuk mengungkapkan ide-ide atau gagasan kritis mereka.

Selain kekerabatan masyarakat dan mahasiswa. Hamparan Rawang memiliki tokoh adat, alim ulama, dan cerdik pandai sebagai komunikator yang paling berpotensi mengubah kiblat berpikir masyarakat, sebagai komunikator yang selalu menyerukan kebaikan pada masyarakat. Tetapi pada kenyataannya kerenggangan antara tokoh-tokoh dan masyarakat membuat Negeri ini sukar untuk dipersatukan.

Sayangnya, hari-hari ini harapan yang kita taruh pada mereka tak mampu diemban dengan baik. Sehingga hal inilah yang menjadikan Hamparan Rawang sebagai Negeri yang terombang-ambing.

Maka dari itu pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan dalam mengatasi terombang-ambingnya Negeri ini, dengan adanya pemberdayaan masyarakat, mahasiswa yang berkeinginan baik untuk hamparan, tokoh masyarakat sebagai pendidik dan tauladan dalam negeri merupakan indikator penting dalam mewujudkan Hamparan Rawang yang memiliki pendirian, tidak terombang-ambing oleh pengaruh luar. Semua itu memang harus diawali dengan niat dan harapan.

Setiap permasalahan yang ada di Hamparan Rawang adalah tanggung jawab mereka yang terdidik. Negeri ini tidak kekurangan orang-orang terdidik, Negeri ini adalah negeri yang kaya dengan kebudayaannya. Mari berbuat untuk hamparan, ada keistimewaan di Negeri ini yang mesti kita bangunkan.

Tulisan ini merupakan bentuk keresahan dan kecintaan pada tanah kelahiran. Tulisan yang menginginkan Hamparan Rawang sebagai Negeri yang tidak dibayang-bayangi oleh siapapun, murni untuk kepentingan masyarakat. Pilkada akan dilaksanakan dalam waktu dekat, semoga ketegangan politik tidak menjadi benih perpecahan dalam masyarakat Hamparan Rawang.

Terima Kasih.Cinta dan Cita untukmu Hamparan.

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *