— Kepolisian Nepal mengonfirmasi penemuan 157 jenazah pasca banjir bandang dahsyat yang melanda wilayah perbatasan dengan Tibet. Ratusan orang lainnya masih dilaporkan hilang dan belum diketahui keberadaannya.

Petugas bantuan menggambarkan kehancuran total di area terdampak, di mana seluruh pemukiman dilaporkan hanyut tanpa sisa. Rekaman kamera pengawas menunjukkan momen dramatis puluhan orang berlarian menyelamatkan diri ketika gelombang puing setinggi beberapa lantai menghantam wilayah tersebut, menyeret truk dan bus.

Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, menyampaikan dukacita mendalam melalui pernyataan di media sosial. “Rasa sakit dan kehilangan yang Anda alami tidaklah kecil. Namun saya ingin meyakinkan bahwa Anda tidak sendirian di masa sulit ini, negara hadir bersamamu dengan segala daya dan sumber daya yang ada,” ujarnya.

Puluhan Wisatawan Asing Belum Ditemukan

Kementerian Pariwisata Nepal melaporkan sekitar 403 wisatawan belum diketahui keberadaannya, dengan 341 di antaranya adalah warga negara asing. Data dewan pariwisata menyebutkan wisatawan asing yang hilang berasal dari India (142 orang), serta warga negara Australia, Inggris, Malaysia, Belanda, Portugal, Afrika Selatan, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.

David Fisher, kepala Federasi International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) untuk Nepal, menyatakan bahwa seluruh desa dan kawasan pasar telah lenyap. IFRC sedang menyalurkan pasokan darurat seperti selimut, perlengkapan pertolongan pertama (P3K), tandu, dan kantong jenazah.

Menurut media lokal Nepal, Kantipur, 157 jenazah yang telah ditemukan tersebar di beberapa distrik. Sebanyak 64 jenazah ditemukan di Chitwan, 27 di Dhading, 22 di Nawalparasi Timur, 19 di Gorkha, 13 di Nuwakot, 9 di Tanahun, dan 3 di Rasuwa. Pihak kepolisian masih terus melakukan evakuasi warga ke tempat aman dan operasi pencarian serta penyelamatan masih berlangsung di berbagai distrik yang berisiko.

Kesaksian Pilot Mengenai Ketinggian Gelombang

Seorang pilot helikopter yang menyaksikan langsung bencana tersebut menggambarkan ketinggian gelombang banjir bandang mencapai sekitar 5-6 meter. Pilot bernama Aman Budathoki kepada CNN menceritakan bahwa awalnya ia mengira debu yang membumbung tinggi dari sungai adalah tanda tanah longsor atau aktivitas militer menggunakan bahan peledak untuk pembangunan jalan.

Namun, dalam hitungan detik, ia melihat air banjir berwarna gelap bercampur puing-puing meluncur deras. Budathoki menyebut situasi di lokasi sangat menakutkan. “Kami bisa melihat gelombang air setinggi lima hingga enam meter. Kami mulai berputar-putar di atas desa-desa di sana dan melihat pohon-pohon besar serta beberapa kendaraan tersapu derasnya arus,” katanya. Ia menambahkan, “Situasinya sangat menakutkan. Kami bahkan sempat mencoba mengejar alur banjir tersebut sebentar untuk menilai kerusakan yang terjadi.”