Geger Online — JAKARTA – PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT) mencatat kinerja keuangan yang impresif sepanjang semester I-2026, dengan laba bersih melonjak 301,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan signifikan ini ditopang oleh lonjakan ekspor yang mendominasi pendapatan perseroan.
Pendapatan dari kontrak dengan pelanggan tercatat sebesar Rp 9,27 triliun, menunjukkan peningkatan 39,16% dari Rp 6,6 triliun pada semester I-2025. Namun, pendorong utama kenaikan ini adalah penjualan ekspor yang mencapai Rp 8,08 triliun, melonjak 52,9% secara tahunan dari Rp 5,2 triliun.
Dengan demikian, pasar ekspor kini menyumbang 87,17% terhadap total pendapatan CBUT, meningkat dari kontribusi 79,3% pada semester I-2025. Sebaliknya, penjualan domestik mengalami penurunan 13,6% menjadi Rp 1,19 triliun.
Dominasi ekspor membuat kinerja CBUT semakin dipengaruhi oleh perkembangan pasar global, harga produk sawit, nilai tukar rupiah, serta kebijakan pemerintah terkait Devisa Hasil Ekspor (DHE). Meskipun beban pokok penjualan meningkat 25,2% menjadi Rp 7,24 triliun, pertumbuhan ini masih lebih rendah dibandingkan kenaikan pendapatan.
Hasilnya, laba bruto melonjak 130,4% menjadi Rp 2,03 triliun dari Rp 882 miliar, dengan margin laba bruto melebar menjadi 21,9% dari 13,2%. Laba usaha juga meningkat 137,5% menjadi Rp 323,4 miliar.
Secara keseluruhan, laba bersih CBUT melesat 301,9% menjadi Rp 169,6 miliar dari Rp 42,2 miliar pada semester I-2025. Laba per saham dasar pun meningkat menjadi Rp 54,3 per saham dari Rp 13,5 per saham.
Peningkatan ini dicapai meski beban keuangan naik 4,5% menjadi Rp 106,3 miliar, terutama terkait penggunaan fasilitas pinjaman bank dan volatilitas nilai tukar rupiah. Laba sebelum pajak penghasilan tercatat Rp 219,1 miliar, melonjak 323,3% dari Rp 51,7 miliar.
Ekspansi bisnis tercermin pada neraca CBUT. Total aset per 30 Juni 2026 mencapai Rp 5,9 triliun, naik 43,4% dari akhir 2025. Aset lancar tumbuh 59,9% menjadi Rp 4,5 triliun, didorong lonjakan piutang usaha pihak ketiga menjadi Rp 972,6 miliar dari Rp 95,6 miliar.
Namun, kas dan setara kas CBUT turun 18,8% menjadi Rp 231,07 miliar. Perseroan juga mencatat saldo bank yang dibatasi penggunaannya sebesar Rp 866,97 miliar, terkait implementasi ketentuan DHE pemerintah.
Liabilitas CBUT juga meningkat 52,87% menjadi Rp 4,6 triliun pada Juni 2026. Kenaikan terbesar berasal dari pinjaman bank jangka pendek yang melonjak 123,57% menjadi Rp 2,72 triliun, termasuk fasilitas Kredit Agunan Tunai DHE.
CBUT meningkatkan penggunaan fasilitas modal kerja dalam dolar AS untuk mendukung pembelian bahan baku seiring meningkatnya skala produksi. Penarikan fasilitas ini meningkat dari sekitar US$ 68 juta menjadi US$ 103 juta.
Pertumbuhan ekspor CBUT berjalan seiring peningkatan kebutuhan modal kerja, yang menjadi faktor penting bagi investor terkait pengelolaan modal kerja, piutang, dan risiko nilai tukar. Meskipun liabilitas meningkat, ekuitas CBUT tetap tumbuh 17,89% menjadi Rp 1,31 triliun.
Kinerja semester I-2026 menunjukkan bahwa hilirisasi sawit memberikan ruang pertumbuhan bagi CBUT melalui ekspansi pasar ekspor. Dengan kontribusi ekspor yang kini lebih dari 87% pendapatan, peluang pertumbuhan CBUT ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan mempertahankan pasar internasional, menjaga margin, serta mengendalikan kebutuhan modal kerja.
Ikuti Geger Online
