— JAKARTA – PT Data Sinergitama Jaya Tbk (ELIT) atau Elitery, sebuah perusahaan teknologi, berencana memperluas jangkauan layanan digitalnya ke kawasan ASEAN. Ekspansi ini akan didukung oleh pengembangan di bidang komputasi awan, kecerdasan buatan (AI), layanan teknologi terkelola, serta keamanan siber.

Langkah strategis ini diarahkan untuk meningkatkan penetrasi pasar perusahaan Indonesia di tingkat regional. Malaysia dipilih sebagai salah satu pijakan awal untuk memperluas jangkauan bisnis Elitery.

Direktur Utama Elitery, Kresna Adiprawira, menyatakan bahwa ekspansi regional memerlukan penguatan dalam tata kelola perusahaan, struktur keuangan yang solid, strategi investasi yang matang, serta jaringan bisnis internasional yang luas. Hal ini penting agar perseroan dapat mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan.

“Kebutuhan itu semakin relevan ketika perusahaan mulai mengarahkan pengembangan usaha ke Malaysia dan kawasan ASEAN sebagai tahapan menuju pasar yang lebih luas,” ujar Kresna dalam keterangan resminya, Kamis (27/8/2026).

Menurut Kresna, penguatan daya saing industri teknologi nasional tidak hanya bertumpu pada kemampuan menghasilkan dan menguasai teknologi. Kapasitas perusahaan untuk membawa layanan digital Indonesia ke pasar lintas negara juga menjadi faktor krusial. “Pengembangan pasar regional juga membuka peluang bagi perusahaan teknologi nasional untuk meningkatkan skala usaha dan memperoleh sumber pertumbuhan baru di luar pasar domestik,” tambahnya.

Ia melanjutkan, ekspansi lintas negara menuntut kesiapan yang lebih komprehensif. Perusahaan harus memiliki struktur permodalan yang memadai, manajemen risiko yang baik, tata kelola yang kuat, serta kemampuan adaptasi layanan sesuai dengan kebutuhan pasar tujuan.

Secara finansial, Elitery mencatat total aset sebesar Rp 303 miliar per kuartal II-2026, menunjukkan pertumbuhan 2,25 persen year-to-date (ytd) dibandingkan akhir 2025. Total liabilitas turun 8,59 persen (ytd) menjadi Rp 127 miliar, sementara ekuitas mengalami kenaikan 11,75 persen (ytd) menjadi Rp 176 miliar.

Rasio lancar (current ratio) perseroan meningkat menjadi 1,54 kali pada kuartal II-2026. Rasio utang terhadap ekuitas atau debt-to-equity ratio (DER) pun terpantau turun menjadi 0,72 kali. “Perbaikan likuiditas dan struktur permodalan ini menjadi salah satu faktor pendukung bagi perusahaan dalam memasuki tahap pengembangan usaha berikutnya, termasuk rencana memperluas jangkauan layanan di kawasan ASEAN,” jelas Kresna.

Dari sisi tata kelola, Elitery memperkuat organisasinya dengan perubahan susunan dewan komisaris. Perseroan menyetujui pengangkatan Sandiaga Salahuddin Uno sebagai Komisaris dan Meidyah Indreswari sebagai Komisaris Independen.

Sandiaga Uno juga akan memimpin Strategic Advisory Council, sebuah badan yang berfungsi memberikan masukan strategis terkait investasi, pengembangan bisnis internasional, dan sektor keuangan. Meidyah Indreswari membawa pengalaman lebih dari tiga dekade di bidang audit, pengawasan keuangan negara, dan manajemen risiko, termasuk pengalamannya di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

“Semangat pembinaan itu kini hadir secara formal memperkuat disiplin, tata kelola, serta pengalaman dan jejaring di bidang investasi dan keuangan,” ujar Kresna mengenai bergabungnya kedua tokoh tersebut.

Komisaris Elitery, Sandiaga Uno, menyatakan optimisme terhadap peluang perusahaan teknologi nasional dalam mengembangkan kompetensi pada teknologi yang kian dibutuhkan di era transformasi digital. “Saya selalu antusias mengikuti perkembangan teknologi seperti AI, cloud, dan keamanan siber, dan bangga melihat anak bangsa menguasai bidang-bidang ini,” kata Sandiaga.

Ia menambahkan bahwa Strategic Advisory Council akan berfokus membantu perusahaan dalam merumuskan strategi investasi, memperluas jangkauan bisnis internasional, serta membuka peluang pengembangan bisnis teknologi di sektor keuangan.