Geger Online — Harga emas dunia terpantau menguat pada perdagangan Kamis (27/8/2026), didorong oleh kekhawatiran terhadap pelemahan nilai mata uang atau currency debasement dan defisit anggaran Amerika Serikat (AS). Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang akan disampaikan dalam simposium tahunan Jackson Hole.
Saat berita ini ditulis, harga emas hari ini tercatat naik 0,88% menjadi US$ 4.634,7 per ons troi. Sementara itu, harga emas berjangka AS juga menguat 0,76% ke level US$ 4.688,5 per ons troi.
Analis senior OANDA, Kelvin Wong, menjelaskan bahwa narasi pelemahan dolar AS serta kekhawatiran terhadap defisit anggaran AS masih menjadi penopang harga emas dalam jangka menengah. “Narasi pelemahan dolar, ditambah kekhawatiran mengenai defisit anggaran AS, masih mendukung emas dalam jangka menengah,” ujar Wong mengutip Reuters.
Perhatian investor kini terpusat pada pidato Warsh dalam simposium Jackson Hole, Wyoming. Pernyataan tersebut dinilai krusial untuk memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga AS ke depan. “Pasar menunggu pidato tersebut untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut mengenai bagaimana The Fed akan menghadapi kondisi ekonomi saat ini,” kata Wong.
Menurut Wong, jika Warsh tidak memberikan panduan kebijakan moneter yang spesifik, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga kemungkinan tidak akan banyak berubah. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar saat ini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga AS pada September sebesar 36,5%, sementara peluang kenaikan hingga Desember mencapai 72,7%.
Sinyal dari Warsh menjadi semakin penting setelah data ekonomi AS menunjukkan inflasi tahunan pada Juli secara tak terduga bertahan pada level tinggi, jauh di atas target The Fed sebesar 2%. Kondisi ini berpotensi memperumit perdebatan di kalangan bank sentral AS mengenai apakah suku bunga perlu dinaikkan atau dipertahankan.
Defisit AS Topang Emas
Harga emas juga mendapatkan dukungan dari meningkatnya kekhawatiran mengenai pelemahan nilai dolar AS. Emas telah melonjak lebih dari 5% pada pekan lalu setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan perluasan pembelian kembali obligasi pemerintah AS berjangka panjang. Kebijakan ini memicu kembali kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dan potensi pelemahan nilai dolar.
Emas secara tradisional dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap risiko ekonomi dan geopolitik. Namun, kenaikan suku bunga dapat mengurangi daya tarik emas karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil bunga.
Di sisi lain, perkembangan geopolitik juga masih menjadi perhatian pasar. Perdana Menteri Qatar dijadwalkan mengunjungi Teheran untuk menghidupkan kembali jalur diplomasi setelah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran. Perkembangan ini dapat memengaruhi permintaan emas sebagai aset lindung nilai jika ketegangan geopolitik kembali meningkat.
Selain emas, harga logam mulia lainnya juga bergerak menguat. Harga perak spot melonjak 1,75% menjadi US$ 69,3 per ons troi, platinum melejit 1,19% menjadi US$ 1.857,15 per ons troi, sedangkan palladium naik 0,84% menjadi US$ 1.338,6 per ons troi.
Ikuti Geger Online
