— Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan kesepakatan dengan Oman untuk membagi pendapatan dari lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Keputusan ini diambil setelah pertemuan diplomatik tingkat tinggi kedua negara di Teheran.

Juru Bicara IRGC, Hossein Mohebi, mengonfirmasi bahwa Iran dan Oman telah mencapai kesepakatan mengenai batas wilayah perairan dan skema pembagian pendapatan di selat strategis tersebut. “Dalam negosiasi dengan Oman, beberapa kesepakatan telah dibuat terkait bagian wilayah perairan masing-masing negara di Selat Hormuz serta bagian pendapatan untuk Iran dan Oman,” ujar Mohebi.

Blokade Jalur Minyak dan Penolakan AS

Meskipun ada kemajuan dengan Oman, Iran mengkritik Amerika Serikat yang dinilai menghambat finalisasi kesepakatan secara menyeluruh. Upaya penyelesaian konflik permanen antara kedua negara masih menemui jalan buntu, terutama terkait tuntutan Iran untuk memungut biaya dari setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz, yang ditolak tegas oleh AS.

Poin Krusial Konflik Selat Hormuz

Dinamika konflik di Selat Hormuz mencakup beberapa poin penting. Iran dan Oman telah menyepakati koordinat geografis untuk jalur pelayaran baru, termasuk kerangka kerja koridor transit sementara dan pembersihan ranjau.

Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka sepenuhnya sebelum AS memenuhi tuntutan, seperti pencabutan blokade angkatan laut, penghentian sanksi minyak, dan pencairan aset Iran yang dibekukan di luar negeri.

Sebagai respons atas blokade Iran sejak 28 Februari 2026, AS menerapkan blokade balasan terhadap pelabuhan Iran dan mengancam sanksi baru. Mohebi menegaskan, Iran hanya akan membuka jalur pelayaran vital tersebut jika AS memenuhi seluruh tuntutan.

Peran Strategis Selat Hormuz

Selat Hormuz adalah salah satu jalur laut paling strategis di dunia, terletak di antara Iran dan Oman. Selat ini merupakan jalur utama distribusi energi global, menghubungkan produsen minyak Timur Tengah dengan pasar utama di Asia, Eropa, dan Amerika Utara.

Dalam kondisi normal, sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia diangkut melalui kawasan ini setiap hari. Gangguan, pemungutan tarif sepihak, atau blokade militer di Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga energi, mengganggu rantai pasok global, dan memicu krisis ekonomi dunia.