Geger Online — PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI tengah mengkaji pembangunan konektivitas angkutan barang dari dan menuju Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB)/Industropolis Batang, Jawa Tengah, ke sejumlah pelabuhan utama di Indonesia. Kajian ini melibatkan PT Pelabuhan Indonesia (Persero), PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (Perseroda) atau SPJT, Perusahaan Umum Daerah Aneka Usaha Kabupaten Batang atau Perumda Aneka Usaha Batang, dan PT KITB.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menjelaskan bahwa kajian tersebut diarahkan pada keterhubungan kawasan industri dengan fasilitas seperti dry port, seaport, jaringan kereta api, pergudangan, trucking, serta pelabuhan utama. Dalam pembahasan awal, konektivitas menuju Tanjung Priok di Jakarta, Tanjung Perak/Kalimas di Surabaya, dan Patimban menjadi beberapa arah yang akan didalami.
“Tanjung Priok dapat memperkuat akses barang dari KITB menuju jaringan perdagangan internasional, sementara konektivitas ke Tanjung Perak/Kalimas membuka akses ke jaringan distribusi dan pelayaran melalui kawasan timur Pulau Jawa. Patimban juga masuk dalam alternatif jaringan yang akan dianalisis berdasarkan asal-tujuan serta kebutuhan tenant KITB,” kata Anne dalam keterangan rilisnya.
Anne menambahkan bahwa kawasan industri membutuhkan jaringan logistik yang mampu menghubungkan pusat produksi dengan pusat distribusi dan pelabuhan secara efisien. KAI melihat kereta api memiliki potensi besar untuk memperkuat jaringan tersebut, terutama untuk pergerakan barang dalam volume besar dan jarak yang semakin panjang. Sepanjang Januari–Juli 2026, KAI telah melayani 38.648.919 ton barang, dengan mayoritas merupakan batu bara dan sisanya komoditas non-batu bara.
Pengalaman KAI dalam mengelola pergerakan barang bervolume besar menjadi modal penting dalam membaca potensi kawasan industri baru. Pertumbuhan aktivitas produksi di KITB dapat membuka arus barang baru apabila terkoneksi dengan terminal, pelabuhan, dan jaringan distribusi yang sesuai. Pemanfaatan kereta api akan ditentukan berdasarkan jarak, volume, jenis komoditas, frekuensi pengiriman, waktu perjalanan, proses handling, serta efisiensi keseluruhan rantai logistik. Relasi dengan jarak sekitar 150–200 kilometer ke atas menjadi salah satu rentang yang akan didalami, sementara untuk tujuan yang lebih dekat seperti Semarang/Tanjung Emas, pilihan moda akan dibandingkan untuk efektivitas distribusi.
Pengembangan ini sejalan dengan rencana ekosistem logistik Industropolis Batang yang mencakup seaport, dry port, warehouse, container yard, dan truck parking bay. Seaport kawasan telah beroperasi sejak 2025, sementara dry port ditargetkan beroperasi bertahap pada 2028.
Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Aditya Dwi Laksana, menilai ekspansi KAI ke sektor logistik dimungkinkan karena perannya sebagai operator kereta api satu-satunya di Indonesia. Ketersediaan jalur kereta yang ada dapat dimanfaatkan untuk menambah pendapatan sekaligus mengoptimalkan pengaturan rel. “PT KAI saya kira memiliki semua potensi itu, dan tentu akan bermanfaat besar dengan menggandeng investor melalui pembangunan jalur baru dan pemanfaatan jalur eksisting yang ada,” ujarnya.
Namun, Aditya menekankan tantangan ke depan adalah bagaimana menambah jalur atau rute baru dengan kerja sama pihak lain tanpa mengandalkan APBN. “Dan memang menggaet investor di sektor logistik memang paling masuk akal. Selama didukung regulasi dari pemerintah saya kira akan positif untuk penambahan jalur rel kereta baru,” pungkasnya.
Sebelumnya, PT KITB telah menyiapkan pembangunan pelabuhan daratan (dry port) dan sarana pendukung konektivitas logistik di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang. Direktur Utama KITB, Ngurah Wirawan, menjelaskan pengembangan dry port akan terintegrasi dengan konsep Transit Oriented Development (TOD) di lahan sekitar 50 hektare. Proyek ini akan dikerjakan melalui kerja sama dengan KAI dan Pelindo.
Ngurah menambahkan bahwa kawasan ini dirancang sebagai kota terpadu yang lengkap, tidak hanya pusat industri. Pemerintah juga merencanakan pengembangan sektor pariwisata dan pembangunan lapangan golf 27 hole. Selain itu, KITB mengkaji pengembangan waterfront city dengan pembangunan pulau buatan untuk melindungi pelabuhan dari gelombang laut sebagai alternatif breakwater konvensional.
Hingga akhir 2025, tercatat 39 Perjanjian Pemanfaatan Tanah Industri (PPTI) telah ditandatangani, 12 pabrik beroperasi, dan sekitar 20 pabrik masih dalam konstruksi. Kawasan ini diperkirakan dapat membuka 3.000 hingga 4.000 lapangan kerja baru setiap tahunnya, dengan pengembangan lahan industri telah memasuki fase kedua.
Layanan angkutan petikemas KAI terus mengalami pertumbuhan. Sepanjang Januari–Juli 2026, KAI melayani 3.437.795 ton petikemas, meningkat 20,28% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menunjukkan meningkatnya kebutuhan dunia usaha terhadap moda logistik berkapasitas besar, terjadwal, dan terhubung dengan kawasan industri, terminal petikemas, pergudangan, serta pelabuhan.
Anne Purba menyatakan bahwa angkutan petikemas memiliki posisi strategis dalam menjaga kelancaran arus barang dari pusat produksi menuju pelabuhan, pusat distribusi, dan wilayah pemasaran. “Pertumbuhan volume petikemas menunjukkan semakin banyak pelaku usaha memanfaatkan kereta api dalam rantai pasoknya. KAI terus memperkuat konektivitas antara kawasan industri, terminal petikemas, dan pelabuhan agar distribusi produk manufaktur berlangsung semakin efisien, terjadwal, dan memiliki kepastian waktu,” ujar Anne.
Bagi sektor manufaktur, kelancaran logistik sangat menentukan keberlangsungan produksi. Keterlambatan bahan baku atau produk jadi dapat menghambat jadwal pabrik maupun distribusi ke pasar. Dalam kondisi tersebut, angkutan petikemas berbasis rel menjadi pilihan untuk menjaga kestabilan arus barang bervolume besar karena kereta api beroperasi berdasarkan jadwal yang terencana, mendukung kebutuhan industri terhadap kepastian waktu dan kesinambungan pengiriman.
Ikuti Geger Online
