— JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan atau Zulhas, memberikan jaminan bahwa pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) tidak akan mengancam mata pencaharian para pemulung. Ia menegaskan bahwa para pemulung tidak perlu merasa resah dengan kehadiran fasilitas pengolahan sampah modern tersebut.

“Pemulung tidak usah resah. Tetap bisa memulung sampah yang ada karena tidak semua sampah bisa diselesaikan dengan PSEL. Kemudian kalau PSEL sudah berjalan, pasti akan membutuhkan banyak tenaga kerja. Ini bisa menjadi lahan baru bagi para pemulung,” ujar Zulhas dalam keterangannya pada Kamis (27/8/2026).

Pernyataan ini disampaikan Zulhas saat menghadiri acara Apel Gebrak Pilah Sampah dan seremoni groundbreaking PSEL Kota Bekasi pada Rabu (26/8).

Zulhas merinci bahwa PSEL Kota Bekasi diproyeksikan akan membuka banyak lapangan kerja baru seiring dengan pengoperasiannya kelak. Fasilitas ini ditargetkan mampu mengolah sekitar 1.500 ton sampah setiap hari, yang mencakup kurang lebih 70% dari total timbulan sampah di Kota Bekasi.

“Pengolahan sampah ini akan menurunkan emisi dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sebesar 80% dan menciptakan 1.000 lapangan kerja. Jadi PSEL Bekasi ini mendatangkan empat manfaat, yaitu pengelolaan sampah, hasilkan energi hijau, mengurangi emisi, dan menggerakkan ekonomi lokal,” jelasnya lebih lanjut.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Asosiasi Pemulung Indonesia, Pris Polly, menyambut baik penjelasan yang diberikan. Ia mengaku sempat merasa khawatir.

“Awalnya kami resah karena kami takut mata pencaharian pemulung akan hilang dengan hadirnya PSEL. Tapi tadi Pak Menko sudah menjelaskan bahwa pemulung tetap dapat mengolah sampah yang ada dan bahkan bisa dilibatkan dalam proses pemilahan PSEL. Sekarang saya bisa keluar dengan tersenyum,” ungkap Pris Polly.

Pembangunan PSEL Bekasi ini dilakukan di tengah situasi darurat sampah yang melanda kota tersebut. Timbulan sampah Kota Bekasi diperkirakan mencapai sekitar 1.800 ton per hari dan sempat menjadi sorotan internasional akibat emisi gas metan dari TPA di kawasan Bantargebang.

Proyek PSEL Bekasi ini merupakan bagian dari upaya percepatan pembangunan PSEL secara nasional. Sebelumnya, pada Juli 2026, groundbreaking PSEL Bali dan Legoknangka, Jawa Barat, telah dilaksanakan. Pembangunan selanjutnya dijadwalkan untuk PSEL Bogor Raya-1.

Selain menangani timbulan sampah baru melalui PSEL, pemerintah juga berupaya mengatasi tumpukan sampah lama di TPA dengan menggunakan teknologi pirolisis. Teknologi ini diklaim mampu mengubah sampah lama menjadi sumber energi baru berupa Bahan Bakar Minyak (BBM) terbarukan yang setara dengan solar.

Pemerintah berharap persoalan sampah di Bekasi tidak lagi menjadi simbol krisis lingkungan, melainkan bertransformasi menjadi contoh pengelolaan sampah terintegrasi yang efektif, mulai dari tahap pemilahan di sumber hingga konversi sampah menjadi energi.

Seluruh upaya ini merupakan implementasi dari arahan Presiden untuk mendukung terwujudnya Indonesia yang ASRI, yaitu Aman, Sehat, Resik, dan Indah.