— Arab Saudi tengah dilanda hujan deras disertai badai petir dahsyat yang menerpa Mekkah dan sejumlah kota lainnya. Fenomena cuaca ekstrem ini diperkirakan akan berlangsung hingga Kamis (27/8/2026), berdasarkan laporan dari Pusat Meteorologi Nasional (NCM) Arab Saudi.

Salah satu momen dramatis yang terekam kamera warga dan viral di media sosial adalah sambaran petir yang menghantam puncak Menara Abraj Al-Bait. Menara setinggi 601 meter ini merupakan bangunan ikonik yang berdiri megah di dekat Ka’bah, di dalam kompleks Masjidil Haram.

Di tengah kondisi cuaca ekstrem tersebut, suhu udara di beberapa wilayah terpantau mengalami lonjakan yang kontras. Suhu siang hari di Madinah tercatat mencapai 47 derajat Celsius, sementara Mekkah mencapai 43 derajat Celsius. Memasuki malam hari, suhu di kedua kota suci tersebut masih berkisar di angka 33 derajat Celsius.

Pihak meteorologi mengimbau masyarakat untuk senantiasa waspada. Selain hujan deras dan badai petir, potensi bencana susulan seperti tanah longsor, hujan es, hingga angin kencang yang dapat memicu badai debu masih diprediksi berpotensi terjadi.

Peringatan Tertinggi ‘Red Alert’

Menanggapi situasi yang dinilai kian mengkhawatirkan, Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi secara resmi menerbitkan status red alert atau waspada merah untuk wilayah Provinsi Mekkah. Status ini merupakan tingkatan peringatan tertinggi yang dikeluarkan oleh otoritas setempat ketika cuaca ekstrem dinilai berisiko tinggi mengancam keselamatan warga.

Otoritas Pertahanan Sipil mengimbau seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, mematuhi setiap panduan keselamatan resmi yang dikeluarkan, serta menjauhi area-area yang berpotensi rawan, seperti genangan air, lembah, dan bendungan.

Perubahan cuaca ekstrem ini sebenarnya telah terjadi selama beberapa hari terakhir. Pada 21 Agustus 2026, peringatan serupa juga sempat dikeluarkan untuk Provinsi Al-Ardiyat dan Al-Qunfudhah yang kala itu diterjang hujan lebat, badai es, angin kencang, serta ancaman banjir bandang.

Fenomena cuaca ekstrem yang melanda kawasan Arab Saudi belakangan ini disebut tidak lepas dari dinamika iklim musiman yang lazim terjadi di Semenanjung Arab. Wilayah seperti Mekkah, Madinah, dan sekitarnya umumnya memiliki iklim gurun yang sangat kering dan panas.

Namun, pada masa transisi atau bulan-bulan tertentu, masuknya arus udara lembap dari Laut Merah yang berinteraksi dengan suhu permukaan daratan yang tinggi seringkali memicu pembentukan awan konvektif secara masif. Interaksi teknis ini sering kali memicu fenomena lokal berupa hujan lebat mendadak, badai petir, hingga banjir bandang (flash floods) di area lembah (wadi).

Pembentukan badai di kawasan perkotaan yang padat seperti Mekkah juga menimbulkan risiko tinggi. Hal ini disebabkan oleh struktur geografisnya yang dikelilingi perbukitan batu, membuat daya serap air tanah menjadi sangat rendah dan mempercepat aliran air menuju area pemukiman serta fasilitas umum.