Geger Online — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan pada Kamis (27/8/2026). Tekanan terhadap mata uang Garuda ini terjadi di tengah perhatian pasar terhadap aksi demonstrasi yang berlangsung di dalam negeri serta menanti arah kebijakan Bank Indonesia (BI).
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 11.05 WIB di pasar spot exchange, nilai tukar rupiah hari ini terkoreksi 37 poin atau 0,21% ke level Rp 17.762 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar tercatat melemah 0,02% ke level 99,14.
Sebelumnya, pada hari Rabu (26/8/2026), nilai tukar rupiah ditutup melemah tipis 2 poin atau 0,01% ke level Rp 17.725 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memperkirakan bahwa rupiah masih berpotensi melemah pada perdagangan hari ini dengan kisaran Rp 17.720 hingga Rp 17.800 per dolar AS.
“Pergerakan rupiah lebih banyak dipengaruhi sentimen domestik, terutama aksi demonstrasi yang berlangsung hari ini serta arah kebijakan BI di bawah kepemimpinan Dewan Gubernur BI yang baru,” ungkap Rully kepada Investor Daily, Kamis (27/8/2026).
Menurut Rully, sentimen domestik tersebut menjadi perhatian pelaku pasar. Perkembangan aksi demonstrasi dapat memengaruhi persepsi risiko terhadap aset Indonesia dan mendorong investor untuk mengambil sikap lebih hati-hati.
Di sisi lain, dari sentimen global, Rully mengatakan pergerakan rupiah masih dipengaruhi oleh dinamika dolar AS, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, serta ekspektasi kebijakan The Fed.
Rully menyebutkan, tren kenaikan indeks dolar AS sebelumnya didukung oleh peningkatan yield obligasi pemerintah AS jangka pendek.
“Pasar juga masih menunggu pandangan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan Jumat (28/8/2026), terutama terkait perkembangan inflasi AS, walaupun harga minyak menunjukkan tren penurunan,” tutup Rully.
Ikuti Geger Online
