— Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) memangkas pelemahannya pada penutupan perdagangan Kamis, 27 Agustus 2026. Pasar mencermati sejumlah sentimen global, terutama perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Pada penutupan perdagangan sore ini, rupiah ditutup melemah 19 poin atau 0,11% ke level Rp 17.744 per dolar AS. Posisi ini membaik dari posisi pembukaan yang ambles 56 poin atau 0,32% di level Rp 17.781. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau stabil di level 99,16. Pada hari sebelumnya, Rabu (26/8/2026), rupiah ditutup melemah tipis 2 poin atau 0,01% ke level Rp 17.725 per dolar AS.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa pergerakan rupiah hari ini masih dipengaruhi oleh sentimen global. Hal ini mencakup perkembangan konflik di Timur Tengah, kondisi pasar minyak, serta ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

Menurut Ibrahim, pasar mencermati harapan akan pembicaraan antara Iran dan Qatar yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz. Jalur ini sangat vital bagi perdagangan energi global. Pembukaan kembali jalur tersebut diperkirakan dapat mengurangi gangguan pasokan akibat konflik di kawasan Timur Tengah.

Iran dan Oman dikabarkan tengah memfinalisasi rincian kesepakatan terkait pengendalian Selat Hormuz. Perkembangan ini muncul setelah Garda Revolusi Iran menyatakan kedua negara telah menyepakati pembagian akses serta pendapatan dari jalur perairan tersebut, yang menghubungkan negara-negara produsen minyak utama di kawasan Teluk dengan pasar dunia.

Perdana Menteri Qatar dijadwalkan bertolak ke Iran pada Kamis untuk kembali membuka pembicaraan diplomatik guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir enam bulan. Sebelumnya, Amerika Serikat menghentikan serangan terhadap Iran selama sekitar satu bulan dan berupaya meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran. Kondisi ini meningkatkan harapan pasar terhadap meredanya gangguan pasokan dari kawasan Teluk.

Namun, Ibrahim mengingatkan bahwa risiko geopolitik masih tergolong tinggi. Posisi kedua pihak masih berjauhan terkait tuntutan untuk mengakhiri konflik. Iran juga menyatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka sebelum Amerika Serikat memenuhi persyaratan yang diajukan Teheran.

Dari Amerika Serikat, pasar juga mencermati data Personal Consumption Expenditures (PCE). Indeks PCE inti, yang tidak memasukkan harga pangan dan energi, tercatat stabil di angka 3,3% secara tahunan pada Juli 2026, sesuai dengan konsensus pasar. Secara bulanan, indeks PCE dan PCE inti masing-masing meningkat 0,2% pada Juli. Data ini menyusul rilis inflasi Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) AS yang relatif moderat.

Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada data klaim awal tunjangan pengangguran mingguan AS dan pidato Gubernur The Fed, Kevin Warsh, dalam Simposium Jackson Hole pada Jumat (28/8/2026).

Sentimen Domestik

Dari dalam negeri, Ibrahim menambahkan, pasar juga mencermati perkembangan aksi demonstrasi di depan Gedung DPR RI pada Kamis. “Aksi berlangsung tertib dan damai, dengan sejumlah anggota DPR menemui massa untuk mendengarkan aspirasi,” jelasnya.

Massa dari sejumlah kelompok, termasuk Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), mendesak DPR segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset serta menerapkan hukuman mati bagi koruptor. Pimpinan dan sejumlah anggota DPR, termasuk Andre Rosiade dan Rieke Diah Pitaloka, menemui massa aksi.

Di saat bersamaan, DPR tetap menjalankan agenda sidang paripurna, salah satunya terkait laporan Komisi III mengenai perkembangan pembahasan RUU Perampasan Aset. Aksi kemudian berakhir kondusif setelah aspirasi diterima dan anggota DPR menyatakan akan terus mengawal pembahasan RUU Perampasan Aset hingga batas akhir pengesahan pada 15 Desember 2026.

Selain itu, lanjut Ibrahim, sentimen domestik juga dibayangi penurunan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Berdasarkan survei Tempo Data Science yang dilakukan pada 31 Juli–11 Agustus 2026, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran berada di 37% pada Agustus 2026. Angka ini turun dari 58% pada Maret 2026 dan 75% pada Desember 2025.

Persoalan ekonomi menjadi salah satu faktor utama penurunan tersebut, dengan harga kebutuhan pokok menjadi alasan terbesar masyarakat menyatakan ketidakpuasan.

“Untuk perdagangan Jumat (28/8/2026), rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 17.740 – 17.790 per dolar AS,” tutup Ibrahim.