— PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) sedang melakukan transformasi signifikan, beralih dari bisnis pertambangan yang didominasi batu bara menuju diversifikasi sebagai produsen logam. Perubahan ini diperkirakan akan mendongkrak valuasi saham ADMR di masa mendatang.

Analis KB Valbury Sekuritas, Atikah Tri Adriyanti, menyatakan bahwa pengembangan fasilitas smelter aluminium menjadi pendorong utama potensi peningkatan valuasi saham ADMR dalam beberapa tahun ke depan. Transformasi ini membuka peluang perubahan profil bisnis perusahaan secara struktural.

Prospek cerah ini turut ditopang oleh kondisi pasokan aluminium global yang ketat, peningkatan produksi dari smelter, serta prospek batu bara metalurgi yang tetap kuat. “ADMR memiliki potensi re-rating yang bersifat struktural dan berlangsung dalam beberapa tahun, seiring kontribusi aluminium yang semakin besar terhadap bisnis perusahaan,” ujar Atikah dalam risetnya, dikutip Kamis (27/8/2026).

Kondisi pasokan aluminium global yang diprediksi defisit hingga 2,2 juta ton pada 2026 menurut Bloomberg Intelligence, memberikan latar belakang positif bagi ADMR dalam meningkatkan kapasitas produksi smelternya secara bertahap. Selain aluminium, bisnis batu bara metalurgi yang krusial untuk produksi baja juga masih memiliki prospek yang baik seiring perubahan pola permintaan global.

Sejalan dengan transformasi bisnis ini, KB Valbury Sekuritas memperkirakan laba bersih ADMR akan tumbuh dengan laju pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 24% antara 2025 hingga 2030, mencapai US$ 793,5 juta pada akhir periode tersebut. Pertumbuhan signifikan juga diprediksi terjadi pada laba kotor (CAGR 29%) dan EBITDA (CAGR 27,5%).

Rekomendasi dan Target Harga Saham ADMR

Sejumlah faktor dapat menjadi katalis positif bagi kinerja ADMR, di antaranya percepatan peningkatan produksi smelter aluminium. Katalis lain termasuk integrasi pembangkit listrik mandiri dengan biaya rendah, realisasi harga aluminium dan batu bara kokas yang lebih tinggi, serta ekspansi kapasitas smelter.

Namun, terdapat pula risiko yang perlu diwaspadai, seperti potensi keterlambatan operasional smelter, kenaikan biaya produksi yang melampaui asumsi, serta pelemahan harga komoditas aluminium dan batu bara kokas. Perubahan regulasi pemerintah yang tidak menguntungkan juga menjadi faktor risiko yang perlu dicermati.

Dengan mempertimbangkan transformasi menuju aluminium dan prospek pertumbuhannya, KB Valbury Sekuritas memulai cakupan riset saham ADMR dengan rekomendasi ‘buy’. Target harga saham ditetapkan sebesar Rp 2.100 per saham, menggunakan metode penjumlahan nilai masing-masing bisnis (sum of the parts/SOTP).

Pada target harga tersebut, valuasi ADMR mencerminkan price to earnings ratio (P/E) sebesar 10,8 kali berdasarkan estimasi tahun 2026 dan rasio EV/EBITDA sebesar 6,2 kali. Keberhasilan ADMR dalam meningkatkan produksi aluminium, perkembangan harga komoditas, serta eksekusi ekspansi smelter akan menjadi penentu utama prospek perusahaan ke depan.