— Paparan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat menimbulkan risiko serius bagi ibu hamil dan janin yang dikandungnya. Salah satu ancaman yang paling dikhawatirkan adalah potensi kelainan pada alat reproduksi janin.

Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp. O.G, Subsp. F.E.R., MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM, seorang dokter spesialis obstetri dan ginekologi, menjelaskan bahwa asap karhutla pada dasarnya adalah bentuk polusi udara yang sangat tidak sehat. “Untuk perempuan sehat saja tidak baik, apalagi untuk ibu hamil,” ujarnya dalam sebuah acara temu media di Jakarta, Kamis.

Lebih lanjut, Prof. Budi memaparkan bahwa asap karhutla mengandung zat kimia pengganggu endokrin atau Endocrine-disrupting Chemicals (EDC). Zat-zat ini, seperti dioksin, karbon monoksida, dan bisphenol A (BPA), memiliki kemampuan untuk mengganggu fungsi hormon dalam tubuh.

Bahaya EDC menjadi semakin signifikan bagi ibu hamil, terutama pada usia kandungan di bawah 12 minggu. Jika zat kimia ini terhirup dan masuk ke dalam tubuh ibu, risiko bayi lahir dengan kelainan pada alat reproduksi dan alat kelamin dapat meningkat.

Mengingat risiko tersebut, Prof. Budi menekankan pentingnya bagi ibu hamil untuk melakukan segala upaya guna menghindari paparan asap karhutla. “Jadi sebisa mungkin ibu hamil harus menghindari asap-asap dari karhutla,” tegasnya.

Bagi ibu hamil yang berada di daerah terdampak asap, disarankan untuk mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan dan meminimalkan waktu berada di luar rumah. Selain itu, penerapan kebijakan bekerja dari rumah (work from home) juga dapat menjadi solusi efektif untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi di tengah kondisi udara yang buruk.