— Bitcoin dan emas menunjukkan performa kuat pada pekan ini, didorong oleh tekanan di pasar obligasi Amerika Serikat (AS). Kondisi ini membuat investor beralih mencari alternatif investasi di tengah kekhawatiran terhadap arah fiskal AS. Bitcoin sempat menyentuh level mendekati US$ 80.000, sementara emas menutup bulan Agustus dengan kenaikan 15% mencapai kisaran US$ 4.651 per troy ons.

Menurut Head of Research Pluang, Jason Gozali, penguatan kedua aset tersebut tidak semata-mata dipicu oleh sentimen dari pasar aset kripto. Ia menilai pasar merespons kegagalan Departemen Keuangan AS dalam menekan biaya utang melalui program pembelian kembali (buyback) obligasi. Skala program tersebut dinilai terlalu kecil jika dibandingkan dengan total utang AS yang sudah mendekati US$ 40 triliun.

“Kondisi tersebut memberi dorongan terhadap Bitcoin dan emas secara bersamaan,” ujar Jason. Pluang sendiri mempertahankan target harga emas di US$ 5.200 per troy ons dan Bitcoin di US$ 100.000 dalam 12 bulan ke depan.

Namun, Jason mengingatkan investor untuk tetap berhati-hati terhadap pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek. “Sebagian reli aset kripto terbesar dunia ini ditopang likuidasi posisi short, sehingga dorongannya berpotensi bersifat sementara,” kata Jason di Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Sebelumnya, Bitcoin pada Senin sempat mendekati US$ 80.000 untuk pertama kalinya sejak pertengahan Mei. Harga Bitcoin tercatat mencatat kenaikan mingguan sebesar 22,6%, yang merupakan kinerja terbaik sejak Maret 2023.

Bitcoin dilaporkan naik 1,5% menjadi US$ 78.980,4 pada pukul 17.45 waktu Amerika Serikat atau 21.45 GMT. Level ini tercapai setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sesi di US$ 79.975,8.

Kebangkitan pasar aset kripto juga mendapat dorongan dari perkembangan regulasi yang lebih kondusif di AS, peningkatan aliran dana institusional, serta perdagangan yang didorong oleh kekhawatiran terhadap penurunan nilai mata uang di tengah aksi jual obligasi Treasury AS.

Sentimen regulasi turut mendapat perhatian setelah Presiden AS Donald Trump meminta para pembuat kebijakan untuk meloloskan versi yang adil dari Clarity Act. Rancangan undang-undang ini diharapkan dapat membentuk kerangka regulasi yang lebih luas bagi industri aset kripto di AS.

Meskipun demikian, pembahasan Clarity Act masih menghadapi perbedaan pendapat di Kongres. Perdebatan tersebut mencakup klasifikasi aset kripto sebagai sekuritas atau komoditas, serta perlakuan terhadap pembayaran imbal hasil pada stablecoin.

Harga Emas Melonjak 15%

Tidak hanya Bitcoin, emas juga mencatat performa yang sangat kuat. Harga emas menutup bulan Agustus dengan kenaikan mencapai 15% ke kisaran US$ 4.651 per troy ons. Kinerja ini disebut sebagai yang terbaik dalam satu bulan sejak tahun 1999.

Menurut Pluang, pergerakan harga emas ini berkaitan erat dengan tekanan yang terjadi di pasar obligasi AS. Upaya Departemen Keuangan AS melalui program buyback dinilai belum cukup untuk meredam kekhawatiran pasar mengenai besarnya beban utang negara.

Skala program buyback tersebut dianggap kecil jika dibandingkan dengan total utang AS yang telah mendekati US$ 40 triliun. Situasi ini memperkuat minat investor terhadap aset-aset yang dipandang dapat memperoleh manfaat dari kekhawatiran terhadap nilai mata uang dan arah kebijakan fiskal.

Dalam skenario tersebut, Pluang tetap mematok target harga emas di US$ 5.200 per troy ons dalam 12 bulan ke depan. Target untuk Bitcoin juga dipertahankan di US$ 100.000 pada periode yang sama.

Meskipun demikian, jalur kenaikan kedua aset ini tidak selalu berjalan mulus. Risiko koreksi Bitcoin dalam jangka pendek tetap perlu dicermati, terutama karena sebagian kenaikan terbaru berasal dari likuidasi posisi short, bukan semata-mata masuknya permintaan baru.