— Harga Bitcoin (BTC) melonjak hingga menembus level US$ 80.000 pada perdagangan Jumat (28/8/2026) pagi. Kenaikan ini didorong oleh sentimen positif dari kinerja perusahaan teknologi Nvidia yang berhasil mendorong aset berisiko, termasuk mata uang kripto.

Berdasarkan data CoinMarketCap yang dilaporkan pada pukul 06.20 WIB, harga Bitcoin (BTC) hari ini tercatat naik 2,02% menjadi US$ 80.314,42 per koin. Nilai ini setara dengan sekitar Rp 1,42 miliar, dengan asumsi kurs Rp 17.740 per dolar AS.

Kapitalisasi pasar kripto global juga menunjukkan penguatan sebesar 1,8% dalam 24 jam terakhir, mencapai US$ 2,7 triliun. Indeks CoinDesk 20, yang melacak kinerja 20 aset kripto terbesar, melesat 1,99%. Sementara itu, Ethereum (ETH) naik 0,81% menjadi US$ 2.514, dan Binance Coin (BNB) juga mengalami kenaikan 1,06% menjadi US$ 712.

Menurut laporan Cointelegraph, penguatan Bitcoin terjadi seiring dengan reli saham Amerika Serikat, yang dipicu oleh laporan kinerja kuartal kedua Nvidia yang melampaui ekspektasi pasar. Bitcoin sempat bergerak menuju US$ 81.000 pada Kamis (27/8/2026). Data dari TradingView menunjukkan Bitcoin mencetak level tertinggi lokal di US$ 80.808, dengan pelaku pasar kembali berupaya menjadikan US$ 80.000 sebagai level support.

Nvidia melaporkan pendapatan kuartal kedua sebesar US$ 96,2 miliar, hampir US$ 4 miliar di atas perkiraan pasar. Kinerja gemilang ini mendorong saham Nvidia melonjak lebih dari 9% pada perdagangan Kamis, dengan penambahan kapitalisasi pasar perusahaan lebih dari US$ 400 miliar.

Lonjakan kinerja Nvidia turut mengangkat aset-aset berisiko, termasuk Bitcoin. Penguatan ini sekaligus meredakan kekhawatiran pasar mengenai kelanjutan belanja besar perusahaan teknologi untuk kecerdasan buatan (AI).

Fokus Simposium Jackson Hole

Perhatian pasar kini mulai beralih ke simposium tahunan The Fed yang diselenggarakan di Jackson Hole, Wyoming. Ketua The Fed, Kevin Warsh, dijadwalkan menyampaikan pidato utama pada Jumat.

Pernyataannya dinilai penting mengingat pasar masih menghadapi ketidakpastian terkait arah inflasi, suku bunga, serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Di pasar derivatif, tekanan jual Bitcoin mulai menunjukkan tanda-tanda melemah menjelang berakhirnya kontrak opsi Agustus senilai US$ 6,58 miliar di bursa Deribit.

Analis David Eng menyatakan bahwa dinding likuiditas jual atau ‘sell wall’ yang sebelumnya menghambat kenaikan Bitcoin kini mulai menipis. “Bitcoin tertekan di bawah resistance ketika struktur derivatif yang menahannya mulai melemah. Jika menembus US$ 82.000, jalur menuju US$ 85.000 atau lebih akan semakin terbuka,” ujar Eng.

Sebelumnya, zona likuiditas jual Bitcoin terbentang hingga sekitar US$ 86.000, menjadi hambatan bagi kenaikan lebih lanjut. Data CoinGlass menunjukkan likuidasi posisi kripto mencapai sekitar US$ 417 juta dalam 24 jam terakhir, mencerminkan meningkatnya volatilitas setelah Bitcoin kembali mendekati level US$ 81.000.