Geger Online — Harga kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) dilaporkan kembali mengalami tekanan pada perdagangan Kamis, 27 Agustus 2026. Pelemahan ini dipicu oleh penurunan harga minyak kedelai dan sikap kehati-hatian dari para pembeli.
Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO untuk pengiriman September 2026 tercatat jatuh sebanyak 37 Ringgit Malaysia, menjadi 4.593 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Oktober 2026 juga anjlok 45 Ringgit Malaysia ke level 4.716 Ringgit Malaysia per ton. Penurunan serupa juga terjadi pada kontrak November 2026 yang terpangkas 36 Ringgit Malaysia menjadi 4.816 Ringgit Malaysia per ton, dan kontrak Desember 2026 yang ambles 24 Ringgit Malaysia ke posisi 4.907 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Januari 2027 jatuh 12 Ringgit Malaysia menjadi 4.984 Ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak Februari 2027 terkoreksi 6 Ringgit Malaysia ke angka 5.035 Ringgit Malaysia per ton.
Menurut laporan Bernama, pelemahan harga CPO berjangka ini tidak lepas dari dampak perdagangan minyak kedelai yang melemah di Chicago Mercantile Exchange (CME), yang turut menekan sentimen pasar secara keseluruhan.
Analis Senior Fastmarkets Palm Oil Analytics, Sathia Varga, menjelaskan bahwa penurunan tajam harga minyak kedelai dipicu oleh pelemahan harga minyak mentah. “Momentum pembelian CPO berjangka secara bertahap memudar menjelang penutupan perdagangan, membuat enam kontrak pertama berada di zona negatif,” kata Sathia kepada Bernama.
Sementara itu, Head of Commodity Research Sunvin Group, Anilkumar Bagani, menambahkan bahwa beragamnya estimasi produksi sawit, ditambah dengan minimnya permintaan baru, membuat para pembeli mengambil sikap kehati-hatian. Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa harga CPO masih berada pada level premium jika dibandingkan dengan minyak kedelai, sementara selisih harga CPO dengan gas oil juga relatif tipis.
India, yang merupakan salah satu pembeli utama minyak sawit, dilaporkan telah mengimpor hampir 1,57 juta ton minyak nabati pada bulan Agustus. Jumlah impor ini turut membatasi potensi permintaan baru terhadap minyak sawit.
Dari sisi pasokan, sejumlah perkiraan mengenai produksi sawit di Malaysia menunjukkan hasil yang beragam. Malaysian Palm Oil Association (MPOA) memperkirakan produksi pada periode 1-20 Agustus mengalami kenaikan sebesar 1,08% dibandingkan periode yang sama di bulan Juli. Di sisi lain, UOB Kay Hian memperkirakan produksi berada dalam kisaran penurunan 3% hingga kenaikan 1%.
Data dari South Peninsular Palm Oil Millers’ Association (SPPOMA) mengindikasikan bahwa produksi minyak sawit di wilayah Semenanjung Malaysia bagian selatan justru mengalami penurunan hampir 4,7% pada 1-25 Agustus jika dibandingkan dengan periode yang sama pada Juli. Perbedaan estimasi produksi ini membuat para pelaku pasar masih terus mencermati keseimbangan antara pasokan dan permintaan CPO dalam beberapa pekan mendatang.
Ikuti Geger Online
