Geger Online — JAKARTA – Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I telah menyelesaikan normalisasi dan penguatan tebing Sungai Lawe Alas, yang melintasi wilayah Gayo Lues dan Aceh Tenggara. Proyek ini bertujuan untuk melindungi permukiman warga, lahan pertanian, serta akses masyarakat dari ancaman erosi, luapan air, dan banjir bandang.
Pekerjaan yang awalnya dijadwalkan selesai pada Agustus 2026 ini berhasil dirampungkan pada Juli 2026. Percepatan penyelesaian dilakukan agar kawasan di sekitar sungai mendapatkan perlindungan maksimal sebelum memasuki puncak musim hujan.
Site Manager Operasional Hutama Karya Utama menjelaskan bahwa fokus utama pekerjaan adalah normalisasi alur sungai dan pemasangan bronjong. Bronjong, yang merupakan struktur anyaman kawat berisi batu, berfungsi memperkuat tebing sekaligus menahan arus sungai agar tidak menggerus area sekitarnya.
Normalisasi ini menjadi krusial karena aliran Sungai Lawe Alas di beberapa titik telah bergeser dari jalur semula pasca-bencana. Pergeseran ini menyebabkan air sungai mendekati permukiman, lahan pertanian, dan akses jalan, sehingga memerlukan penanganan segera.
Untuk mempercepat proses penyelesaian, tim proyek menambah jumlah alat berat dan menerapkan sistem dua giliran kerja. Langkah ini diambil meskipun menghadapi kendala cuaca, keterbatasan akses, dan pasokan material ke lokasi pekerjaan.
“Kami lembur malam, dua shift sampai pukul 12 malam. Tantangan kami terkait material dan juga akses. Kalau selama ini, alhamdulillah, bisa kami atasi semua,” ujar Utama dalam keterangan tertulisnya, Kamis (27/8/2026).
Pejabat Pembuat Komitmen Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air BWS Sumatera I, Syafrepi Hasibuan, menambahkan bahwa pekerjaan ini merupakan bagian dari paket tanggap darurat yang meliputi 30 titik penanganan. Secara keseluruhan, proyek ini mencakup normalisasi sungai sepanjang 16.046 meter dan pemasangan bronjong sepanjang 5.938 meter.
Proyek senilai Rp 137 miliar ini didanai oleh Kementerian Pekerjaan Umum RI (PU). Bronjong dibangun dengan ketinggian rata-rata empat hingga lima meter untuk memberikan perlindungan yang lebih kuat bagi masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai.
Selain mengembalikan alur sungai ke jalur semula dan memperkuat tebing, penanganan ini juga berhasil membuka kembali akses jalan yang sebelumnya terendam akibat pergeseran aliran air. Syafrepi mengonfirmasi bahwa seluruh pekerjaan di wilayah Gayo Lues dan Aceh Tenggara telah selesai 100%.
Manfaat dari normalisasi ini telah dirasakan langsung oleh warga Kute Galuh, Kecamatan Lawe Bulan, Aceh Tenggara. Asmanida, salah seorang warga, mengaku keluarganya kini tidak lagi diliputi kecemasan saat hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
“Alhamdulillah, sudah tidak banjir lagi. Kami bisa tidur nyenyak,” tutur Asmanida. “Sebelum dipasang bronjong, kami ketar-ketir karena kalau hujan langsung banjir sepinggang. Sekarang sudah tidak,” tambahnya.
Di Kecamatan Bukit Tusam, warga Kute Lengat Pagan bahkan berinisiatif menanam pohon waru di sekitar bronjong. Kepala Desa Kute Lengat Pagan, Riko Miljar, menjelaskan bahwa pohon waru ini diharapkan berfungsi sebagai peredam alami. Tujuannya agar bronjong tidak langsung terkena hantaman arus deras, sehingga dapat berfungsi lebih lama.
“Ini dilakukan warga supaya bronjong tidak cepat rusak. Jadi, ada penahannya dari pohon waru ini,” pungkasnya.
Ikuti Geger Online
