— Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono menekankan peran krusial perguruan tinggi dalam upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia. Menurutnya, institusi pendidikan tinggi memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak utama melalui pengembangan ilmu pengetahuan, riset, inovasi, serta pemberdayaan masyarakat.

Pernyataan ini disampaikan Agus Jabo saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat XI (SNasPPM XI) yang diselenggarakan oleh Universitas PGRI Ronggolawe (UNIROW). Tema seminar yang diangkat adalah ‘Peran Strategis Pendidikan Tinggi untuk Membangun Generasi Tangguh Menuju Indonesia Emas 2045’. Kegiatan ini digelar secara hybrid, dengan Agus Jabo mengikuti secara daring dari kantor Kementerian Sosial di Jakarta.

Agus Jabo menjelaskan bahwa kemiskinan tidak hanya berkutat pada masalah pendapatan, melainkan juga mencakup akses terhadap pendidikan, kesehatan, gizi, keterampilan, modal, serta kesempatan kerja. Ia menegaskan bahwa pendidikan memiliki kaitan erat dalam memutus rantai kemiskinan antargenerasi.

“Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah. Pendidikan adalah alat perjuangan sosial, alat mobilisasi sosial, dan alat pembebasan manusia dari kemiskinan dan keterbelakangan,” ujar Agus Jabo dalam keterangannya.

Dalam konteks ini, Agus Jabo menyoroti pentingnya Sekolah Rakyat sebagai salah satu upaya pemerintah dalam memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan rentan. Sekolah Rakyat, menurutnya, lebih dari sekadar penyediaan ruang kelas dan asrama; ia merupakan bagian integral dari perjuangan memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.

“Sekolah Rakyat bukan sekadar sekolah. Sekolah Rakyat adalah gerakan sosial, gerakan pembebasan melawan kemiskinan, gerakan untuk memuliakan rakyat, dan gerakan untuk membuka jalan bagi anak-anak dari keluarga miskin,” katanya.

Lebih lanjut, Agus Jabo mendorong perguruan tinggi untuk mengambil peran yang lebih proaktif. Ia menekankan agar ilmu pengetahuan dan hasil riset perguruan tinggi dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas. Ia berpendapat bahwa ilmu pengetahuan yang tidak bersentuhan langsung dengan persoalan rakyat akan kehilangan sebagian dari maknanya.

“Ilmu pengetahuan tidak boleh hanya berputar di ruang seminar, riset tidak boleh hanya berhenti di jurnal, mahasiswa tidak boleh hanya mengejar nilai, dosen tidak boleh hanya mengejar publikasi. Karena ilmu pengetahuan yang tidak menyentuh persoalan rakyat akan kehilangan sebagian dari maknanya,” tegasnya.

Agus Jabo mengajak kampus untuk mengukur keberhasilan tidak hanya dari jumlah lulusan atau publikasi penelitian, melainkan juga dari perubahan positif yang dihasilkan bagi masyarakat. Ia memberikan contoh pertanyaan reflektif:

“Jangan hanya bertanya berapa banyak penelitian yang kita publikasikan, tetapi tanyakanlah berapa banyak petani, nelayan, UMKM, dan masyarakat miskin yang produktivitasnya meningkat karena dukungan dari kampus dan lulusan-lulusan perguruan tinggi.”

Ia melihat adanya potensi kolaborasi yang kuat antara Kementerian Sosial (Kemensos) dan perguruan tinggi dalam program pemberdayaan masyarakat. Kemensos memiliki data sasaran program, pendamping sosial, sentra, serta berbagai instrumen layanan sosial, sementara perguruan tinggi memiliki keunggulan dalam ilmu pengetahuan, sumber daya dosen dan mahasiswa, laboratorium, riset, dan inovasi.

“Kalau kekuatan ini kita gabungkan, kita bisa melakukan sesuatu yang jauh lebih besar. Kemensos membawa persoalan nyata, kampus membawa ilmu pengetahuan, dunia usaha membawa modal dan pasar, pemerintah daerah membawa potensi wilayah, masyarakat akan menjadi pelaku utamanya. Inilah yang saya sebut sebagai ekosistem pemberdayaan masyarakat,” jelasnya.

Meskipun demikian, Agus Jabo menegaskan bahwa perlindungan sosial tetap menjadi prioritas bagi masyarakat yang menghadapi krisis dan membutuhkan bantuan. Namun, ia menekankan bahwa intervensi sosial harus diarahkan untuk mencapai kemandirian masyarakat.

“Tugas kita bukan membuat masyarakat harus menunggu bantuan sosial. Tugas kita adalah membuat masyarakat bisa berdaya dan mandiri, hidup sejahtera,” kata Agus Jabo.

Untuk itu, Kemensos mendorong pendekatan pemberdayaan ekonomi yang mengintegrasikan kewirausahaan, bantuan modal, dan pelatihan keterampilan. Perguruan tinggi dinilai dapat berkontribusi melalui pendampingan berkelanjutan, mulai dari asesmen, pelatihan, praktik, akses modal dan pasar, pengembangan usaha, hingga evaluasi dan graduasi.

Agus Jabo juga mengajak perguruan tinggi untuk membangun gerakan ‘Kampus Berdaya Menuju Masyarakat Mandiri’. Gerakan ini dapat diwujudkan melalui program seperti desa binaan, UMKM binaan, laboratorium kewirausahaan sosial, serta program pemberdayaan yang melibatkan mahasiswa secara langsung.

Ia menekankan pentingnya mengukur dampak nyata dari berbagai kegiatan yang dilakukan. Ukuran keberhasilan seharusnya berfokus pada peningkatan pendapatan masyarakat, pertumbuhan usaha, penciptaan lapangan kerja, jumlah keluarga yang keluar dari kemiskinan, dan tingkat kemandirian masyarakat.

“Bukan berapa banyak kegiatan yang kita lakukan, tetapi berapa banyak pendapatan masyarakat meningkat, berapa banyak usaha tumbuh, berapa banyak lapangan kerja kita ciptakan, berapa banyak keluarga keluar dari kemiskinan, dan berapa keluarga yang sudah berdaya dan mandiri,” tegasnya.

Agus Jabo berharap perguruan tinggi dapat melahirkan generasi penerus yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki produktivitas tinggi, karakter yang kuat, kreativitas, serta kepedulian terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Dari kampus kita bangun ilmu, dari ilmu kita bangun inovasi, dari inovasi kita bangun produksi, dari produksi kita bangun kemandirian dan kesejahteraan. Dan dari kesejahteraan rakyat, kita bangun Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.