— JAKARTA – Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menyoroti peran Nahdlatul Ulama (NU) sebagai institusi keagamaan bersejarah yang memiliki kontribusi besar bagi kemerdekaan Indonesia. Ia secara khusus mengapresiasi lagu ‘Syubbanul Wathan’ atau yang akrab dikenal ‘Ya Lal Wathan’ sebagai bukti nyata semangat nasionalisme dan cinta tanah air kalangan ulama NU, bahkan sebelum Indonesia memproklamasikan diri.

“Nahdlatul Ulama adalah institusi yang bersejarah, yang sangat besar jasanya dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Bukti yang jelas adalah lagu ‘Syubbaanul Wathan’ yang sekarang menjadi lagunya Nahdlatul Ulama,” ujar Prabowo saat membuka Muktamar ke-35 NU di Ponpes Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada Kamis (27/8/2026).

Menurut Prabowo, lagu tersebut dapat dikategorikan sebagai lagu patriotik dan nasionalis. Meskipun diciptakan oleh kelompok religius, semangat yang terkandung di dalamnya adalah cinta tanah air dan nasionalisme yang luar biasa.

Prabowo menjelaskan bahwa lagu ‘Syubbanul Wathan’ diciptakan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah belasan tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Pada masa itu, konsep negara Indonesia bahkan belum terbentuk secara jelas. Namun, para pemimpin dan tokoh agama kala itu telah berani menyuarakan semangat kebangsaan melalui sebuah lagu.

“Pada waktu itu kita juga belum tahu negara yang diproklamasikan bentuknya bagaimana, namanya saja belum begitu jelas, tapi pemimpin-pemimpin religius berani membuat lagu yang demikian patriotik dan demikian nasionalis, belasan tahun sebelum proklamasi kemerdekaan sudah ada lagu ini,” ungkapnya.

Ia kemudian mengutip sebagian lirik lagu tersebut, “‘Pusaka hati wahai tanah airku, cintamu dalam imanku… Jangan halangkan nasibmu, bangkitlah hai bangsaku!'”

Bagi Prabowo, pesan yang terkandung dalam kutipan lirik itu menunjukkan bahwa cita-cita para pendiri NU sejak awal tidak hanya berfokus pada kehidupan keagamaan, tetapi juga pada kebangkitan bangsa Indonesia. Seruan untuk bangkit dalam lagu tersebut mencerminkan gagasan agar Indonesia mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

“Jadi cita-cita, cita-cita pendiri NU adalah agar bangsa Indonesia bangkit, agar bangsa Indonesia setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini. Agar bangsa Indonesia kalau bangkit artinya bangsa Indonesia itu terhormat. Bangsa yang terhormat adalah bangsa yang adil dan makmur. Tidak ada bangsa yang dihormati kalau dia tidak makmur. Dan tidak ada kemakmuran tanpa keadilan,” pungkasnya.