— Tekanan untuk selalu menjadi orang tua yang sempurna dapat membuat para ibu merasa lebih mudah lelah dan kewalahan dalam menjalankan peran pengasuhan. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk dapat menerima keterbatasan diri sekaligus tetap berupaya membangun hubungan yang sehat dengan anak.

Hal ini dibahas dalam webinar bertema “Good Enough Mom: Menjadi Ibu yang Cukup Baik, Bukan Ibu yang Sempurna.” Acara ini menghadirkan Psikolog Umum Ni Putu Ratih Cahya Pratiwi, yang aktif memberikan edukasi seputar kesehatan mental.

Dalam pemaparannya, Ratih menyatakan bahwa banyak ibu merasa lelah bahkan sebelum memulai aktivitas sehari-hari. Kelelahan yang dirasakan dapat membuat orang tua menjadi lebih mudah kewalahan dan kesulitan merespons situasi pengasuhan dengan tenang. Menurut Ratih, orang tua juga sangat membutuhkan waktu dan ruang untuk merawat diri. Upaya ini bukanlah bentuk pengabaian terhadap anak, melainkan bertujuan agar orang tua lebih siap dalam menjalankan perannya.

Ratih juga menjelaskan konsep good enough mom. Konsep ini menekankan bahwa seorang ibu tidak harus selalu tampil sempurna untuk dapat membangun hubungan yang baik dengan anak. Kemampuan untuk menyadari kesalahan dan kemudian memperbaiki hubungan dinilai lebih penting dibandingkan upaya mengejar pengasuhan yang tanpa cela.

Pendekatan good enough mom juga dapat membantu orang tua dalam menghadapi tekanan yang seringkali muncul dari media sosial. Beragam informasi dan gambaran mengenai keluarga ideal yang ditampilkan kerap menimbulkan tuntutan agar ibu dan ayah selalu mengambil keputusan yang tepat dalam setiap situasi.

Pemilik Kutus Kutus, Fazli Hasniel Sugiharto, berpendapat bahwa proses membangun keluarga lebih banyak ditentukan oleh konsistensi, komunikasi, dan dukungan sosial. “Para orang tua tidak hanya bertukar informasi mengenai pengasuhan, tetapi juga saling menguatkan ketika menghadapi tantangan sebagai ibu dan ayah,” ujar Arnie, sapaan akrabnya.

Selama mengikuti webinar, peserta diajak untuk mengenali aspek kehidupan sehari-hari yang paling banyak menguras energi, seperti waktu, kesabaran, atau ruang pribadi. Setelah itu, mereka diminta untuk menentukan langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk memulihkan aspek-aspek tersebut.

Sejumlah materi yang dibahas dalam webinar tersebut juga mendapat tanggapan positif dari para peserta. Salah seorang peserta mengaku bahwa pembahasan mengenai psikologi pengasuhan sangat dekat dengan pengalamannya sebagai ibu yang kerap merasa tidak sempurna dalam menjalankan perannya.

Komunitas sebagai Ruang Belajar

Saat ini, komunitas orang tua tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk bertukar pengalaman, tetapi juga telah berkembang menjadi sarana pembelajaran mengenai pengasuhan, kesehatan mental, dan relasi keluarga.

Format daring membuat pembahasan semacam ini dapat dijangkau oleh orang tua dari berbagai daerah. Namun, informasi yang diperoleh melalui komunitas tetap perlu disandingkan dengan panduan dari tenaga profesional, terutama ketika keluarga menghadapi masalah psikologis atau pengasuhan yang membutuhkan penanganan khusus.

Arniel menambahkan bahwa kesehatan dan kesejahteraan keluarga tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga mencakup aspek psikologis serta hubungan antaranggota keluarga. “Wellness tidak hanya dibangun melalui produk atau layanan. Yang paling penting adalah hadirnya ruang untuk belajar, berdialog, dan saling mendukung,” tuturnya.

Dukungan dari komunitas dapat membantu orang tua berbagi pengalaman dan mengurangi perasaan bahwa mereka menjalani tantangan pengasuhan seorang diri. Meskipun demikian, setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda sehingga pendekatan pengasuhan perlu disesuaikan dengan kebutuhan unik anak dan orang tua.

BBASH sendiri merupakan komunitas ibu dengan anak yang lahir pada periode sama dan berada di bawah naungan Mommils Birthclub. Komunitas tersebut menjadi ruang berbagi informasi dan pengalaman mengenai pengasuhan serta perawatan ibu dan anak.