— JAKARTA – Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menunjukkan performa impresif dengan meninggalkan tekanan jual dan melesat ke level Rp1.140. Penguatan ini terjadi setelah saham emiten Grup Sinar Mas tersebut sempat terpuruk di bawah Rp500. Tren kenaikan yang konsisten ini membuka peluang baru bagi DSSA, meskipun potensi aksi jual atau profit taking tetap perlu diwaspadai investor.

Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, saham DSSA ditutup menguat 6,54% pada Kamis (27/8/2026) dibandingkan hari sebelumnya. Kenaikan ini memperkokoh posisinya yang telah terakumulasi 11,76% dalam sepekan dan melonjak 163,89% selama tiga bulan terakhir.

Saham DSSA pernah menyandang predikat sebagai saham termahal di Bursa Efek Indonesia dengan harga Rp290.000 pada Juni 2024. Namun, emiten pertambangan batu bara ini mengalami penurunan tajam, bahkan sempat menyentuh level Rp480 pada akhir Mei 2026. Kebangkitan DSSA terjadi setelah sebelumnya dihantam sentimen negatif, termasuk keluarnya saham dari konstituen indeks MSCI dan FTSE Russell, serta kebijakan ekspor batu bara satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia.

Perjalanan saham DSSA diwarnai oleh dua kali pemecahan nilai saham atau stock split. Pertama pada Juli 2024 dengan rasio 1:10, disusul rasio 1:25 pada April 2026. Pemecahan saham ini membuat posisi saham termahal diambil alih oleh DCII. Pada hari pelaksanaan stock split 9 April 2026, harga teoritis saham DSSA tercatat Rp2.680.

Setelah gempuran sentimen negatif yang menekan laju saham hingga Rp480, DSSA secara perlahan membalikkan tren dan kembali menarik perhatian investor.

Kebangkitan Didorong Transformasi Bisnis

Pengamat Pasar Modal dan Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menjelaskan bahwa kebangkitan saham DSSA didorong oleh kombinasi beberapa faktor. “Rebound pasca tekanan akibat keluarnya saham dari MSCI dan FTSE Russell, kembalinya minat beli setelah valuasi terkoreksi, serta narasi transformasi bisnis menuju infrastruktur digital dan energi berkelanjutan,” ujarnya kepada Investor Daily, Kamis (27/8/2026).

Elandry mengidentifikasi proyek data center SMX01 sebagai katalis utama. Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV-2026, sehingga pasar mulai memberikan premi pada prospek bisnis artificial intelligence (AI) dan data center.

Secara fundamental, DSSA masih memiliki basis bisnis yang kuat dari sektor pertambangan batu bara, meskipun kinerjanya sangat sensitif terhadap harga komoditas. Pada kuartal I-2026, pendapatan dan laba memang menunjukkan penurunan tahunan sejalan dengan normalisasi bisnis batu bara. Namun, bisnis digital dan teknologi mencatat pertumbuhan 50% menjadi US$69,1 juta, menandakan diversifikasi mulai berjalan efektif.

Prospek Jangka Panjang Menarik

Elandry memandang prospek jangka panjang DSSA sangat menarik. Perseroan tengah membangun dua mesin pertumbuhan baru, yaitu data center dan energi rendah karbon. SMX01, dengan kapasitas awal lebih dari 18 megawatt (MW) yang dapat diperluas hingga 60 MW, berpotensi menjadi katalis re-rating.

Secara teknikal, DSSA masih berada dalam tren bullish dengan harga bergerak di atas rata-rata pergerakan jangka pendek hingga panjang. Momentum masih positif, namun setelah kenaikan sekitar 161% dalam tiga bulan, risiko profit taking juga meningkat.

Area support terdekat DSSA berada di kisaran Rp1.080–Rp1.030, sementara resistance berada pada Rp1.150 dan kemudian Rp1.200 per saham.

“Dengan mempertimbangkan fundamental batu bara yang masih siklikal serta nilai tambah dari bisnis digital yang belum sepenuhnya terealisasi, fair value DSSA kami perkirakan berada di kisaran Rp950–Rp1.000 per saham. Valuasi di atas level tersebut berarti pasar sudah mengantisipasi keberhasilan eksekusi data center dan transformasi bisnis secara lebih agresif,” kata Elandry.

Mengingat hal tersebut, Elandry merekomendasikan investor yang sudah memiliki saham DSSA pada harga rendah untuk melakukan take profit atau hold, karena harga telah berada di atas kisaran fair value dan target analis. Bagi investor baru, disarankan untuk menunggu pullback ke area support daripada mengejar kenaikan. Target harga jangka pendek berada di Rp1.150–Rp1.250, namun level tersebut lebih sesuai untuk trading dan tetap berisiko volatilitas tinggi.

Analisis Transaksi dan Momentum

Sementara itu, Head of Research KISI Muhammad Wafi melihat kenaikan DSSA perlu dicermati dari sisi pola transaksi. Kenaikan 163% saham kemungkinan besar terkait erat dengan pola transaksi pasar nego berulang. Namun, belum jelas apakah ini aksi akumulasi kembali atau bagian dari restrukturisasi korporasi untuk memenuhi ketentuan batas minimum free float, mengingat statusnya yang HSC.

Wafi menambahkan, penyebab kenaikan saham bisa juga dipengaruhi faktor rebound teknikal setelah keluar dari indeks MSCI dan FTSE Russell. “Tapi besarnya kenaikan DSSA ini jauh melampaui typical rebound, yang mengindikasikan terdapat faktor lain yang lebih dominan,” tuturnya.

Wafi menilai, kenaikan DSSA dalam tiga bulan terakhir telah membawa saham ke kondisi extremely overbought. Kondisi tersebut membuat saham rentan mengalami koreksi tajam ketika momentum mulai mereda atau muncul sentimen negatif.

Di sisi lain, Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat pergerakan DSSA secara teknikal masih berada dalam fase uptrend dan didominasi volume pembelian. Indikator MACD masih melandai di area positif, sedangkan Stochastic masih berpeluang menguat meski berada di area overbought.

Kondisi ini menunjukkan momentum penguatan DSSA masih terjaga. Selama volume pembelian tetap mendukung dan saham mampu bertahan di atas area support, tren kenaikan masih berpeluang berlanjut. Herditya merekomendasikan Trading Buy saham DSSA dengan target harga Rp1.245–Rp1.320. Untuk jangka pendek, rentang pergerakan DSSA berada pada support Rp1.075 dan resistance Rp1.215.