Geger Online — Prospek emiten menara telekomunikasi kembali mencuri perhatian investor seiring munculnya wacana konsolidasi antara PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Konsolidasi tersebut dinilai berpotensi menjadi katalis baru bagi industri menara setelah pertumbuhan permintaan menara dan penambahan tenant cenderung moderat dalam beberapa tahun terakhir.
Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Daniel Aditya Widjaja mengatakan, apabila merger MTEL dan TBIG terealisasi, entitas hasil penggabungan akan memiliki skala bisnis yang sangat besar. Berdasarkan estimasi Mirae Asset, perusahaan gabungan tersebut akan mengelola sekitar 65.800 menara dan 106.100 tenant, dengan tenancy ratio sekitar 1,61 kali.
“Merger MTEL dan TBIG berpotensi menjadi katalis pertumbuhan baru bagi industri menara telekomunikasi, terutama setelah pertumbuhan permintaan menara dan penambahan tenant cenderung moderat dalam beberapa tahun terakhir,” ujar Daniel dalam risetnya, Kamis (27/8/2026).
Wacana tersebut kembali mencuat di tengah kondisi pasar saham yang masih dibayangi sikap hati-hati investor. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah sekitar 1,5% ke level 6.405, sementara pelaku pasar mencermati risiko domestik, pergerakan rupiah, arus dana asing, serta ketidakpastian eksternal. Namun, di tengah tekanan indeks, Mirae Asset melihat masih terdapat peluang sektoral, khususnya pada industri infrastruktur telekomunikasi. Konsolidasi dinilai dapat memperbaiki prospek pertumbuhan sektor tersebut sekaligus menciptakan efisiensi dan skala ekonomi yang lebih besar.
Daniel menilai kombinasi MTEL dan TBIG memiliki potensi sinergi karena karakteristik geografis kedua perusahaan relatif saling melengkapi. MTEL memiliki konsentrasi aset yang lebih besar di luar Jawa, sedangkan TBIG mempunyai eksposur yang lebih besar di Pulau Jawa. Kondisi tersebut membuat potensi tumpang tindih aset dalam proses konsolidasi dinilai relatif terbatas.
Dari sisi operasional, konsolidasi juga berpotensi memperbesar skala jaringan serta memperkuat posisi tawar perusahaan menara dalam bernegosiasi dengan operator telekomunikasi. “Dengan skala yang lebih besar, perusahaan hasil konsolidasi memiliki peluang untuk memperoleh efisiensi dan posisi tawar yang lebih kuat dalam negosiasi kontrak maupun perpanjangan sewa menara,” kata Daniel.
Potensi sinergi menjadi semakin penting karena industri menara Indonesia tengah memasuki fase pertumbuhan yang lebih moderat. Setelah periode ekspansi yang agresif, pertumbuhan tenant baru mulai melambat sehingga perusahaan menara membutuhkan sumber pertumbuhan tambahan. Konsolidasi juga dapat menjadi strategi untuk mengoptimalkan utilisasi aset yang sudah ada, dibandingkan hanya mengandalkan pembangunan menara baru.
Katalis Lain di Industri Menara
Selain merger, prospek industri menara masih ditopang oleh perkembangan jaringan 5G dan kebutuhan infrastruktur digital. Operator telekomunikasi membutuhkan investasi berkelanjutan untuk memperluas dan meningkatkan kualitas jaringan, termasuk melalui pembangunan BTS, fiber optik, serta infrastruktur pendukung.
Data Telkom menunjukkan investasi telekomunikasi masih besar. Sepanjang 2025, Telkom Group membukukan belanja modal Rp 24,58 triliun yang antara lain dialokasikan untuk pengembangan dan modernisasi infrastruktur telekomunikasi, jaringan 4G dan 5G, serta berbagai infrastruktur digital. Telkomsel juga menambah 18.298 BTS 4G dan 3.938 BTS 5G sepanjang 2025. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi perusahaan menara untuk memperoleh pertumbuhan dari peningkatan kebutuhan kolokasi.
Selain 5G, pengembangan fixed wireless access (FWA) juga berpotensi menjadi katalis baru. Penggunaan jaringan seluler untuk menyediakan akses internet rumah dapat meningkatkan kebutuhan kapasitas jaringan dan pada akhirnya mendorong permintaan infrastruktur menara. Analis juga melihat kebutuhan fiber-to-the-tower sebagai peluang tambahan bagi perusahaan menara untuk memperluas sumber pendapatan di luar bisnis penyewaan menara.
Secara fundamental, kedua emiten memiliki basis bisnis yang relatif kuat. MTEL, misalnya, mencatat jumlah tenant sebanyak 63.084 pada akhir 2025, naik 5,4% dibandingkan 2024. Tenancy ratio perseroan juga meningkat dari 1,52 kali menjadi 1,57 kali. Sekitar 71% kolokasi MTEL berada di luar Jawa, memperkuat karakteristik geografis perseroan sebagai operator menara dengan eksposur nasional yang luas.
Pada semester I-2026, jumlah tenant MTEL kembali meningkat menjadi 63.866, sementara jumlah site mencapai 40.563. Rasio tenancy berada di level 1,57 kali. Sementara itu, TBIG memiliki 25.280 site telekomunikasi dengan 42.332 tenant per 30 Juni 2026. Dari jumlah tersebut, 25.172 merupakan menara telekomunikasi dan 108 merupakan jaringan distributed antenna system (DAS). Rasio tenancy TBIG tercatat 1,68 kali.
Sepanjang semester I-2026, TBIG membukukan pendapatan Rp 3,46 triliun dan EBITDA Rp 2,95 triliun. Perseroan juga menambah 2.023 gross tenancies pada periode tersebut, terdiri atas 1.417 site telekomunikasi baru dan 606 kolokasi.
Risiko Integrasi dan Dampaknya
Meski demikian, konsolidasi bukan tanpa risiko. Salah satu tantangan terbesar adalah integrasi aset, kontrak, sistem operasional, serta potensi tumpang tindih tenant. Pasar juga perlu memperhatikan dampak konsolidasi operator telekomunikasi terhadap perusahaan menara. Merger XL Axiata dan Smartfren menjadi XLSmart, misalnya, telah menimbulkan perubahan pada jumlah tenancy TBIG. Rasio tenancy TBIG turun dari 1,73 kali pada akhir 2025 menjadi 1,68 kali pada semester I-2026.
Karena itu, realisasi merger MTEL-TBIG akan membutuhkan kajian mendalam terkait struktur transaksi, valuasi, kepemilikan, potensi efisiensi, hingga dampaknya terhadap pemegang saham.
MTEL Jadi Pilihan Utama
Mirae Asset mempertahankan pandangan Neutral terhadap sektor infrastruktur telekomunikasi. Namun, untuk saham individual, sekuritas tersebut memberikan rekomendasi Buy untuk MTEL dengan target harga Rp 670 per saham dan Trading Buy untuk TBIG dengan target harga Rp 1.700 per saham.
TOWR juga dinilai berpotensi mendapatkan dampak positif apabila konsolidasi MTEL-TBIG terealisasi. Berbeda dengan MTEL dan TBIG yang harus menghadapi proses integrasi, TOWR dapat memperoleh manfaat dari perubahan struktur kompetisi tanpa menanggung risiko integrasi secara langsung.
Dari sisi valuasi dan prospek bisnis, konsolidasi industri menjadi salah satu faktor yang dapat mengubah peta persaingan bisnis menara telekomunikasi Indonesia. Jika merger terealisasi, skala perusahaan gabungan akan menciptakan pemain infrastruktur menara dengan salah satu portofolio terbesar di Indonesia.
Dengan demikian, prospek emiten menara tidak hanya bergantung pada pertumbuhan jumlah menara dan tenant, tetapi mulai bergeser ke optimalisasi aset, konsolidasi, ekspansi fiber, serta peluang dari siklus investasi 5G dan FWA.
Ikuti Geger Online
