— JAKARTA – Harga batu bara terpantau mengalami kenaikan pada perdagangan Kamis, 27 Agustus 2026. Lonjakan ini terjadi seiring dengan peningkatan permintaan listrik dan menipisnya stok komoditas tersebut di sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di India.

Berdasarkan data perdagangan, harga batu bara Newcastle untuk kontrak Agustus 2026 tercatat stabil di level US$ 131,25 per ton. Sementara itu, kontrak September 2026 naik US$ 0,8 menjadi US$ 139,5 per ton, dan kontrak Oktober 2026 melonjak US$ 2 ke level US$ 141 per ton.

Pergerakan serupa juga terlihat pada harga batu bara Rotterdam. Kontrak Agustus 2026 meningkat US$ 0,4 menjadi US$ 124,6 per ton. Lebih lanjut, kontrak September 2026 melejit US$ 2,75 menjadi US$ 129,75 per ton, diikuti oleh kontrak Oktober 2026 yang melesat US$ 2,95 ke posisi US$ 129,75 per ton.

Krisis stok batu bara di India semakin nyata. Sebanyak 45 pembangkit listrik berbahan bakar batu bara di negara tersebut kini beroperasi dengan persediaan yang berada pada level kritis. Kondisi ini diperparah oleh lonjakan permintaan listrik di tengah pasokan batu bara yang terganggu oleh hujan monsun.

Data dari Central Electricity Authority (CEA) menunjukkan bahwa 45 pembangkit tersebut memiliki stok di bawah 25% dari kebutuhan ideal, atau persediaan yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pembangkitan selama tiga hari berturut-turut. Jumlah ini meningkat signifikan dari 31 unit yang dilaporkan pada akhir Juli lalu.

Hambatan pasokan dan distribusi batu bara dari wilayah produksi menuju pembangkit listrik akibat gangguan musim monsun telah mendorong harga batu bara domestik India naik pada pekan ini. Konsultan komoditas BigMint menyatakan bahwa “Pembangkit listrik termal India menguras persediaan batu bara secara tajam selama 23 hari pertama Agustus karena konsumsi batu bara terus melampaui pasokan.”

Persediaan batu bara di pembangkit listrik India dilaporkan turun 15,5% selama periode 1-23 Agustus. Penurunan ini terjadi karena penerimaan pasokan batu bara yang lebih lambat dibandingkan tingkat konsumsi.

Di sisi lain, musim monsun di India juga diwarnai oleh fenomena El Nino, yang menyebabkan suhu udara lebih panas dari biasanya. Peningkatan suhu ini mendorong penggunaan pendingin udara secara masif, sehingga meningkatkan permintaan listrik secara keseluruhan.

Seorang pejabat dari NTPC, produsen listrik termal terbesar di India, mengungkapkan bahwa “Musim monsun yang tidak merata telah mendorong permintaan listrik, terutama untuk pendingin udara. Namun, pasokan batu bara berjalan sangat terbatas.” Ia menambahkan bahwa sejumlah pembangkit membutuhkan lima hingga enam rangkaian kereta pengangkut batu bara, tetapi hanya menerima sekitar setengah dari kebutuhan tersebut.

Meningkatnya kebutuhan listrik untuk pendinginan ini membuat India semakin bergantung pada pembangkit listrik berbahan bakar batu bara. Kementerian Listrik India bahkan telah meminta sejumlah pembangkit untuk menunda jadwal pemeliharaan rutin hingga persoalan pasokan batu bara dapat teratasi.

Situasi ini berpotensi menjaga permintaan batu bara tetap tinggi dalam jangka pendek, terutama selama pasokan domestik India masih terganggu dan kebutuhan listrik akibat suhu panas terus meningkat.