— Di tengah rekor tertinggi yang diraih indeks utama seperti S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones, gejolak di sektor teknologi kembali memicu kekhawatiran global mengenai potensi munculnya gelembung kecerdasan buatan (AI bubble). Hasil survei Bank of America menunjukkan sekitar 45% manajer investasi menganggap AI bubble sebagai risiko pasar terbesar saat ini.

Menghadapi potensi kejatuhan pasar, investor legendaris Warren Buffett membagikan strategi utamanya untuk bertahan. Melansir Motley Fool pada Jumat (27/8/2026), Buffett menekankan kunci investasi bukan terletak pada seberapa besar suatu industri akan mengubah dunia atau bertumbuh, melainkan pada keunggulan kompetitif perusahaan serta ketahanan (durability) dari keunggulan tersebut.

Peringatan ini mengingatkan publik pada fenomena dot-com bubble akhir 1990-an. Saat itu, meski internet terbukti merevolusi dunia, banyak perusahaan teknologi dengan nilai penawaran perdana (Initial Public Offering/IPO) fantastis justru gulung tikar dalam hitungan tahun karena tak memiliki basis bisnis yang kuat.

Sejarah Membuktikan

Sejarah krisis mulai dari Depresi Besar, meletusnya gelembung dot-com, hingga krisis keuangan 2008 selalu memisahkan perusahaan pemenang dan pecundang.

Perusahaan raksasa (Big Tech) AS saat ini pun pernah mengalami fase terpuruk. Nilai saham Microsoft sempat anjlok lebih dari 60%, Amazon merosot hingga 95%, dan Apple pernah jatuh 50% dalam satu hari perdagangan pada 2000.

Kendati demikian, investor yang telah melewati berbagai periode pasar lesu (bear market) ini menyebutkan, perusahaan dengan fundamental bisnis dan keunggulan kompetitif yang kuat berhasil bangkit. Indeks S&P 500 bahkan melesat hingga hampir 1.500% sejak titik terendahnya pada Oktober 2002.

Terlepas dari apakah gelembung teknologi saat ini akan pecah atau tidak, memilih saham dengan daya saing berkelanjutan menjadi benteng pertahanan paling ampuh bagi investor jangka panjang.

Prinsip investasi Warren Buffett berbasis value investing telah diuji oleh berbagai dinamika krisis ekonomi selama lebih dari setengah abad. Berbekal strategi memilih perusahaan berharga wajar dengan parit pertahanan bisnis (economic moat) yang kokoh, perusahaan investasinya, Berkshire Hathaway, konsisten mengungguli pergerakan pasar secara keseluruhan.

Pelajaran dari masa lalu kembali relevan di tengah pesatnya adopsi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Lonjakan valuasi saham-saham berbasis teknologi tinggi sering kali memicu perilaku spekulatif di kalangan investor retail maupun institusional, yang mengabaikan kinerja keuangan riil perusahaan.

Revaluasi atas keunggulan kompetitif perusahaan menjadi krusial agar investor tidak terjebak dalam euforia pasar yang berisiko berujung pada koreksi tajam.