Geger Online — Olahraga angkat beban disarankan oleh para ahli kesehatan sebagai salah satu cara untuk mencegah berbagai penyakit, termasuk kanker payudara dan kekambuhannya. Mekanisme biologis yang diduga berperan dalam pencegahan ini berkaitan dengan respons inflamasi tubuh.
Menurut Senior Konsultan dan dokter spesialis bedah payudara di Solis Breast Care & Surgery Centre, dr Lim Sue Zann, inflamasi kronis dapat meningkatkan sitokin, yaitu molekul sinyal kimia yang dilepaskan tubuh saat terjadi peradangan. Peningkatan sitokin tertentu dapat menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan kanker.
“Olahraga diketahui dapat memengaruhi sistem inflamasi tubuh dan membantu meningkatkan berbagai respons anti-inflamasi. Salah satu respons yang juga kita kenal adalah pelepasan endorfin dan berbagai mediator lain setelah melakukan aktivitas fisik,” ujar dr Lim dalam sebuah paparan di Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Manfaat aktivitas fisik ini tidak hanya terbatas pada kanker payudara. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa olahraga juga dapat membantu menurunkan risiko kekambuhan pada pasien kanker lain, seperti kanker kolorektal.
Namun, dr Lim menekankan bahwa mekanisme spesifik bagaimana latihan beban dapat memberikan perlindungan terhadap kanker masih terus diteliti. “Jadi, penjelasan mengenai mekanisme tersebut sebaiknya dipahami sebagai mekanisme yang diduga, bukan sebagai satu-satunya mekanisme yang sudah terbukti secara pasti,” katanya.
Angkat Beban atau Kardio?
Mengenai efektivitas latihan beban dibandingkan olahraga kardio, dr Lim menjelaskan bahwa yang terpenting adalah tetap aktif dan konsisten dalam berolahraga. Latihan kekuatan atau angkat beban memiliki manfaat tersendiri, sama seperti aktivitas aerobik atau kardio yang memberikan kontribusi bagi kesehatan secara keseluruhan.
“Yang penting, jenis dan intensitas olahraga harus disesuaikan dengan kondisi setiap orang,” tegasnya.
Aktivitas fisik secara umum dapat memberikan manfaat bagi pasien kanker di berbagai tahapan pengobatan, mulai dari sebelum pengobatan, selama kemoterapi, sebelum atau setelah operasi, hingga setelah selesai menjalani kemoterapi. Tentu saja, penyesuaian jenis dan intensitas latihan sangat krusial.
“Jadi, pesan sederhananya: jangan menunggu sampai sehat untuk mulai bergerak. Mulailah sesuai kemampuan, lakukan secara rutin, dan sesuaikan dengan kondisi tubuh,” imbau dr Lim.
Ia mencontohkan, ada pasien yang tetap melakukan HIIT (High-Intensity Interval Training) selama kemoterapi. Namun, kemampuan setiap pasien berbeda dan tidak semua bisa melakukan latihan intensitas tinggi. “Kalau tidak mampu melakukan HIIT, tidak masalah. Pergi ke gym dan melakukan latihan beban saja sudah sangat baik. Yang paling penting adalah konsistensi. Jangan hari ini olahraga, besok berhenti, kemudian beberapa hari kemudian olahraga lagi. Kepatuhan dan keteraturan justru sangat penting,” pungkasnya.
Ikuti Geger Online
