Geger Online – 25 September 2026 | Pasar modal Indonesia mengalami tekanan hebat pada perdagangan akhir pekan ini. Sentimen negatif yang datang silih berganti membuat IHSG ambruk ke 6.298, asing banyak tadah saham-saham ini, Kamis (24/9). Pelemahan indeks sebesar 1,2 persen tersebut dipicu oleh aksi jual bersih investor asing yang mencapai angka fantastis, yakni Rp1,42 triliun, yang membuat para pelaku pasar harus waspada terhadap volatilitas yang masih tinggi.
Kondisi pasar yang terpuruk ini tidak terjadi tanpa alasan. Secara teknikal, pergerakan indeks memang terlihat rentan setelah gagal menembus level psikologis 6.300. Investor asing terlihat melepas kepemilikan mereka secara masif pada saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chip. Beberapa emiten yang menjadi sasaran utama aksi jual asing meliputi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), serta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM). Selain itu, saham seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga tak luput dari tekanan jual tersebut.
Fenomena di mana IHSG ambruk ke 6.298, asing banyak tadah saham-saham ini, Kamis (24/9) turut dipengaruhi oleh sentimen global yang kurang menguntungkan. Di Amerika Serikat, bursa Wall Street bergerak variatif akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah serangan rudal kelompok Houthi ke fasilitas minyak Arab Saudi yang memicu lonjakan harga minyak mentah Brent hingga di atas US$107 per barel. Ketidakpastian ini diperburuk oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun yang menyentuh level tertinggi sejak 2007, sehingga memicu aliran modal keluar dari aset berisiko di pasar negara berkembang.
Also Read
Dari sisi domestik, meskipun Bank Indonesia telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di level 5,75 persen sebagai upaya menjaga stabilitas ekonomi, langkah tersebut belum cukup kuat untuk menahan arus modal keluar. Lonjakan nilai impor Indonesia yang mencapai 19,94 persen secara tahunan hingga Juli 2026 juga menambah beban sentimen bagi investor domestik. Analis pasar modal menilai bahwa pelemahan ini merupakan bentuk aksi ambil untung (profit taking) setelah indeks sempat mencatatkan penguatan pada hari sebelumnya.
Bagi para investor, situasi saat ini menuntut kehati-hatian ekstra. Meskipun IHSG ambruk ke 6.298, asing banyak tadah saham-saham ini, Kamis (24/9), beberapa perusahaan sekuritas seperti BNI Sekuritas tetap memberikan rekomendasi saham yang layak dicermati, di antaranya PTRO, ULTJ, BULL, MDKA, MAPA, dan ERAA. Para analis menyarankan agar pelaku pasar tidak terburu-buru melakukan akumulasi dan tetap memantau area support di kisaran 6.220 hingga 6.280.
Secara keseluruhan, pasar saham Indonesia saat ini sedang berada dalam fase konsolidasi yang cukup dalam. Tekanan eksternal dari kebijakan moneter The Fed serta dinamika geopolitik global diprediksi masih akan membayangi pergerakan indeks dalam jangka pendek. Investor disarankan untuk selalu memantau perkembangan berita terbaru dan tidak hanya mengandalkan pergerakan teknikal semata dalam mengambil keputusan investasi di tengah kondisi pasar yang penuh dengan ketidakpastian ini.



