— Pengembangan kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) mulai memicu gelombang investasi besar di sektor baterai. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM melaporkan, investasi sektor nikel pada semester I 2026 mencapai Rp71 triliun. Dari angka tersebut, lebih dari Rp50 triliun atau sekitar 70% dialokasikan untuk pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik.

Direktur Strategi dan Tata Kelola Hilirisasi Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Ahmad Faizal Suralaga, menyatakan bahwa tingginya investasi baterai menandakan pergeseran arah hilirisasi nikel Indonesia. “Lebih dari Rp 50 triliun dari Rp 71 triliun atau lebih dari 70% telah diinvestasikan langsung ke ekosistem baterai,” ungkapnya dalam acara International Battery Summit (IBS) 2026 di Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Menurut Ahmad, investasi nikel kini tidak lagi hanya terfokus pada pengolahan mineral mentah, melainkan bergerak menuju rantai nilai yang lebih tinggi. Pemerintah telah memetakan pengembangan ekosistem EV secara komprehensif, mulai dari pertambangan, pengolahan mineral, bahan baku baterai, prekursor, katoda, sel baterai, battery pack, manufaktur kendaraan, infrastruktur pengisian daya, hingga daur ulang baterai.

Pengembangan industri EV merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mengubah kekayaan sumber daya alam menjadi kekuatan industri nasional. Langkah ini sejalan dengan agenda hilirisasi Presiden Prabowo Subianto, yang menekankan penguatan kemandirian energi dan peningkatan nilai tambah sumber daya alam.

Untuk mengakselerasi investasi, pemerintah telah menyusun peta jalan hilirisasi yang mencakup 28 komoditas di delapan sektor strategis. Peta jalan ini diproyeksikan menarik investasi senilai US$618 miliar hingga 2040 dan berpotensi menciptakan lebih dari 3 juta lapangan kerja langsung.

Pemerintah juga menyediakan berbagai dukungan, termasuk insentif fiskal, penyederhanaan perizinan melalui Online Single Submission (OSS), serta insentif penelitian dan pengembangan. Salah satunya adalah super tax deduction hingga 200-300% untuk kegiatan vokasi dan riset pengembangan teknologi, yang diharapkan mendorong perusahaan meningkatkan investasi teknologi dan mempercepat transfer teknologi di industri baterai.

Tantangan Pasar dan Infrastruktur

Di sisi pasar, kendaraan listrik Indonesia memasuki fase baru. Tantangan industri kini tidak hanya pada peningkatan teknologi kendaraan, tetapi juga kesiapan ekosistem pendukung, khususnya infrastruktur pengisian daya.

Chief Executive Officer ALVA, Purbaja Pantja, mengakui bahwa pengalaman mengembangkan motor listrik menunjukkan konsumen masih mempertimbangkan ketersediaan fasilitas pengisian daya. Ia menjelaskan, teknologi baterai saat ini sebenarnya sudah mampu memenuhi kebutuhan mobilitas harian, seperti motor listrik ALVA yang dapat menempuh jarak hingga 140 kilometer dalam sekali pengisian.

Namun, masyarakat membutuhkan kepastian bahwa kendaraan listrik dapat dijadikan alat transportasi utama. “Pertanyaannya bukan hanya seberapa jauh kendaraan bisa berjalan, tetapi bagaimana memastikan pelanggan dapat menggunakan kendaraan listrik sebagai alat transportasi utama,” ujar Purbaja.

Mengingat mayoritas masyarakat Indonesia menggunakan sepeda motor sebagai kendaraan utama, jaringan pengisian daya menjadi faktor krusial untuk mengurangi kekhawatiran pengguna terkait jarak tempuh. Untuk mengatasi hal ini, ALVA terus memperluas jaringan Boost Charging Station, yang jumlahnya meningkat dari sekitar 180 unit menjadi hampir 500 unit.

Peningkatan infrastruktur ini berdampak pada penggunaan yang lebih tinggi. Jika tahun lalu pemanfaatan stasiun pengisian ALVA sekitar 1.600 jam, kini melonjak menjadi sekitar 68.000 jam. Purbaja melihat ini sebagai bukti meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap infrastruktur pengisian seiring bertambahnya pengguna kendaraan listrik.

Ke depan, ALVA berencana membangun jaringan pengisian yang mendukung perjalanan antarkota, mencakup rute seperti Jakarta-Bandung, Semarang-Yogyakarta-Solo, serta Surabaya-Malang. Jaringan ini akan terus diperluas hingga menghubungkan Jakarta, Cirebon, Semarang, dan Surabaya.

Selain jumlah stasiun, kecepatan pengisian juga menjadi fokus. Purbaja menargetkan teknologi pengisian cepat dapat mengisi baterai hingga penuh dalam waktu sekitar 25 menit, dengan target jumlah Boost Charging Station mencapai sekitar 1.000 unit pada akhir tahun.

Meskipun demikian, ekspansi jaringan pengisian masih menghadapi tantangan, terutama dalam menemukan lokasi strategis dan mitra yang tepat. “Menemukan lokasi yang tepat adalah kunci. Itu yang membuat proses ekspansi membutuhkan waktu,” kata Purbaja.

Memanfaatkan Momentum Elektrifikasi

Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (PERIKLINDO), Moeldoko, menekankan bahwa kehadiran EV merupakan momentum bagi Indonesia untuk memperkuat industri otomotif nasional.

“Di bidang teknologi ini sebenarnya sebuah momentum bagi bangsa Indonesia. Kita tidak mungkin mengejar mobil konvensional. Tetapi dengan kehadiran EV, ini sebuah momentum sesungguhnya, kita bisa melompat mengejar,” ujar Moeldoko.

Ia menambahkan, Indonesia harus memanfaatkan momentum elektrifikasi ini untuk membangun kemampuan teknologi mandiri, termasuk menghadirkan merek kendaraan listrik nasional. “Semestinya Indonesia sudah memiliki brand nasional tentang EV. Karena kita tidak mungkin lagi mengejar mobil konvensional. Ini momentum yang harus dimanfaatkan dengan baik,” katanya.

Moeldoko menjelaskan, transisi menuju kendaraan listrik akan mengubah struktur industri otomotif secara signifikan. Kendaraan berbasis mesin pembakaran internal memiliki ribuan komponen, sementara kendaraan listrik menggunakan komponen yang lebih sederhana. Perubahan ini akan berdampak pada rantai pasok otomotif, termasuk industri komponen yang bergantung pada kendaraan konvensional.

Oleh karena itu, Indonesia perlu mempersiapkan industri agar tidak hanya menjadi pasar kendaraan listrik, tetapi mampu menguasai teknologi utama seperti baterai. “Baterai menjadi salah satu teknologi paling penting dalam pengembangan EV. Kita harus memperkuat riset dan inovasi agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi,” tegasnya.

Moeldoko mengapresiasi kontribusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta perguruan tinggi dalam pengembangan riset teknologi baterai. Menurutnya, perkembangan baterai sangat pesat, sehingga Indonesia perlu meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan penelitian. “BRIN dan perguruan tinggi memberikan kontribusi dalam konteks riset yang mengantisipasi perkembangan teknologi, khususnya di bidang baterai yang lompatannya luar biasa,” kata dia.

Ekosistem Menjadi Kunci Keberhasilan

Moeldoko menegaskan bahwa keberhasilan transformasi kendaraan listrik tidak hanya bergantung pada produksi kendaraan, tetapi juga kesiapan ekosistem secara menyeluruh. Ekosistem ini mencakup pemerintah, industri, lembaga riset, perguruan tinggi, infrastruktur pengisian daya, hingga pembiayaan.

Pemerintah perlu memberikan kepastian regulasi agar investor yakin mengembangkan industri EV di Indonesia. Selain itu, pembangunan infrastruktur pengisian daya harus dipercepat. Moeldoko menilai PLN memiliki peran penting sebagai penggerak awal pembangunan charging station.

“Tanpa keterlibatan PLN yang semakin masif dalam pembangunan charging station, pihak swasta akan menunggu. Tetapi ketika ada lokomotifnya PLN, swasta akan ikut terlibat,” jelasnya.

Menurut Moeldoko, ukuran keberhasilan transformasi kendaraan listrik bukan hanya dari jumlah kendaraan yang terjual, melainkan seberapa besar manfaat ekonomi yang dihasilkan bagi Indonesia. “Keberhasilan transformasi kendaraan listrik bukan hanya tentang berapa banyak EV yang terjual, tetapi seberapa kuat Indonesia membangun teknologi, industri, lapangan kerja, dan nilai tambah,” tegasnya.

Dengan pengembangan ekosistem yang kuat, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi basis produksi kendaraan listrik global, tetapi juga mampu menguasai teknologi dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri.