— JAKARTA – PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), emiten emas yang terafiliasi dengan konglomerat Peter Sondakh, melaporkan lonjakan laba bersih signifikan sebesar 132,8% pada semester I-2026. Laba bersih emiten berkode saham ARCI ini mencapai US$ 80,25 juta, naik dari US$ 34,47 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pluang Maju Sekuritas pun memproyeksikan potensi kenaikan harga saham ARCI hingga 58%.

Kinerja positif Archi Indonesia didorong oleh pertumbuhan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan yang melonjak 67,47%, mencapai US$ 322,2 juta dari sebelumnya US$ 192,4 juta. Peningkatan ini turut mendongkrak laba per saham dasar menjadi US$ 0,0032, dibandingkan US$ 0,0014 pada periode yang sama tahun lalu.

Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali, menjelaskan bahwa perbaikan kinerja ARCI tidak semata-mata ditopang oleh kenaikan harga emas. “Efisiensi operasional, realisasi persediaan, serta ekspansi kapasitas menjadi sejumlah faktor yang membentuk prospek pertumbuhan ARCI,” ujar Jason di Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Kinerja keuangan yang impresif ini sejalan dengan pergerakan harga saham ARCI yang telah menunjukkan reli panjang. Pada penutupan perdagangan Jumat (28/8/2026), saham ARCI diperdagangkan di level Rp 1.390, mencatat kenaikan sebesar 95,7% dalam kurun waktu satu tahun.

Jason menambahkan bahwa peningkatan pendapatan ARCI diikuti oleh pertumbuhan laba kotor yang jauh melampaui kenaikan beban pokok penjualan. Laba kotor perseroan hampir berlipat ganda, melonjak menjadi US$ 146 juta dari US$ 77,73 juta. Hal ini mengindikasikan bahwa perbaikan efisiensi operasional berperan penting dalam memperbesar keuntungan perusahaan, di samping faktor harga emas.

Sebagian dari pertumbuhan laba pada semester I-2026 juga berasal dari penjualan persediaan yang sempat tertahan. Pada kuartal I, volume penjualan emas ARCI berada di bawah volume produksi, yang menyebabkan terbentuknya persediaan yang belum dicatat sebagai pendapatan. Persediaan ini kemudian terealisasi menjadi penjualan pada periode berikutnya. Jason menekankan pentingnya bagi investor untuk membedakan antara pertumbuhan yang berasal dari pemulihan penjualan tertunda dengan pertumbuhan yang bersifat struktural.

Meskipun sebagian lonjakan laba merupakan pemulihan dari kondisi sebelumnya, pertumbuhan ARCI berikutnya diproyeksikan memiliki penopang yang lebih fundamental. Perusahaan berencana menambah kapasitas pengolahan bijih sebesar 2 juta ton per tahun pada 2027, dari kapasitas saat ini yang mencapai 4 juta ton per tahun. Ekspansi ini diperkirakan akan meningkatkan produksi emas tahunan sebesar 30 ribu hingga 40 ribu ons.

Selain itu, ekspansi kapasitas memungkinkan ARCI mengolah material dengan kadar emas yang lebih rendah, yang sebelumnya dianggap tidak ekonomis. Dengan harga emas yang stabil tinggi, material marginal ini berpotensi menjadi ekonomis untuk ditambang, membuka peluang penambahan basis produksi.

Kontribusi dari tambang bawah tanah juga mulai menjadi penopang kinerja. Proyek Kopra yang dikembangkan anak usaha Archi Indonesia dilaporkan menghasilkan kadar emas tertambang sekitar 3 hingga 4 gram per ton, lebih tinggi dibandingkan rata-rata tambang terbuka. Peningkatan porsi produksi dari tambang bawah tanah dinilai dapat memperbaiki struktur biaya perusahaan.

Potensi Cadangan Emas dan Proyeksi Saham

Pluang Maju Sekuritas juga menyoroti potensi perubahan cadangan emas ARCI. Cadangan perseroan saat ini tercatat sekitar 3,2 juta ons, berdasarkan pernyataan JORC yang disusun saat harga emas berada di kisaran US$ 1.800 per troy ons. Dengan harga emas yang kini telah berlipat ganda, deposit yang sebelumnya tidak ekonomis dapat berubah menjadi cadangan yang layak ditambang.

Perusahaan secara konsisten mengalokasikan minimal US$ 10 juta per tahun untuk eksplorasi. Program pengeboran di lokasi seperti Marawuwung, Kopra, dan Araren telah menemukan mineralisasi emas dengan kadar rata-rata 5 hingga 27 gram per ton, menunjukkan potensi eksplorasi yang masih tersedia.

Dari sisi neraca keuangan, total ekuitas ARCI meningkat menjadi US$ 413,6 juta dari US$ 362,9 juta pada akhir tahun lalu. Liabilitas tercatat turun tipis menjadi US$ 660,9 juta, sementara total aset meningkat menjadi US$ 1,07 miliar. Perbaikan struktur permodalan ini memberikan ruang lebih besar bagi ARCI untuk mendanai ekspansi kapasitas pada 2027.

Di luar bisnis inti emas, ARCI juga sedang mengembangkan proyek panas bumi berkapasitas sekitar 40 MW. Proyek ini berpotensi menyediakan pasokan listrik yang lebih stabil untuk operasional dan membuka diversifikasi pendapatan di luar komoditas.

Risiko dan Rekomendasi Investasi

Meskipun prospeknya cerah, pergerakan harga emas tetap menjadi salah satu risiko utama bagi ARCI. Koreksi tajam harga emas dapat menekan margin perusahaan, meskipun efisiensi operasional terus membaik.

Rasio utang terhadap ekuitas ARCI masih relatif tinggi dibandingkan rata-rata sektor, meskipun menunjukkan tren perbaikan. Kebutuhan belanja modal untuk ekspansi kapasitas berpotensi memperlambat penurunan tingkat utang. Risiko operasional seperti gangguan cuaca, bencana alam, dan ketidakpastian regulasi pertambangan juga perlu diperhitungkan.

Dalam tinjauan terhadap pertumbuhan laba dan rencana ekspansi ini, tim riset Pluang Maju Sekuritas memberikan rekomendasi ‘buy’ untuk saham ARCI dengan target harga Rp 2.200 dalam jangka waktu 12 bulan. Target harga ini mencerminkan potensi kenaikan harga saham hingga 58% dari posisi saat ini.

Katalis penting yang perlu dicermati meliputi realisasi pembaruan pernyataan cadangan JORC, peningkatan kadar bijih dari Marawuwung pada semester II, serta perkembangan proyek ekspansi kapasitas. Potensi masuknya ARCI ke indeks emas global seiring meningkatnya likuiditas saham juga menjadi faktor pendukung. Namun, realisasi katalis tersebut perlu dicermati bersama risiko pergerakan harga emas, kebutuhan belanja modal, dan risiko operasional.