Geger Online – 26 September 2026 | Jakarta menjadi saksi sejarah baru bagi kekuatan maritim Indonesia. Di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, suasana khidmat menyelimuti Dermaga 107 saat Bendera Merah Putih berkibar, eks kapal perang Italia Garibaldi resmi beralih nama KRI Sriwijaya-100. Peristiwa monumental ini menandai babak baru bagi TNI Angkatan Laut yang kini secara resmi mengoperasikan kapal induk pertamanya untuk memperkuat kedaulatan laut Nusantara.
Prosesi pergantian bendera atau reflagging berlangsung dengan penuh wibawa. Setelah bendera Italia diturunkan, perlahan namun pasti, Bendera Merah Putih naik ke ujung tiang kapal diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, yang bertindak sebagai inspektur upacara, kemudian mengukuhkan nama kapal tersebut menjadi KRI Sriwijaya-100. Hadir dalam upacara bersejarah ini Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali, KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, KSAU Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono, serta sejumlah perwakilan dari Italia.
Pemilihan nama Sriwijaya bukanlah sekadar pemberian label administratif. Laksamana TNI Muhammad Ali menjelaskan bahwa nama ini dipilih untuk menghormati kejayaan kerajaan maritim tertua di Nusantara. Bendera Merah Putih berkibar, eks kapal perang Italia Garibaldi resmi beralih nama KRI Sriwijaya-100, membawa harapan besar agar Indonesia mampu mengembalikan kejayaan maritim masa lalu. Sriwijaya dikenal luas sebagai kekuatan laut yang disegani di Asia Tenggara, dan semangat itulah yang ingin dihidupkan kembali melalui kehadiran kapal induk ini.
Also Read
Kapal yang sebelumnya dikenal sebagai ITS Giuseppe Garibaldi ini menempuh perjalanan panjang dari Italia melalui Terusan Suez, Laut Merah, dan Samudra Hindia sebelum akhirnya bersandar di Jakarta pada 18 September 2026. Selama perjalanan tersebut, kapal melakukan singgah logistik di Mesir, Arab Saudi, dan Sri Lanka untuk memastikan kesiapan operasional setibanya di Indonesia.
KRI Sriwijaya-100 tidak hanya berfungsi sebagai simbol kekuatan militer, tetapi juga diproyeksikan untuk mendukung berbagai Operasi Militer Selain Perang (OMSP), terutama dalam misi penanganan bencana alam dan bantuan kemanusiaan. TNI AL telah melakukan persiapan matang, termasuk pengiriman 100 personel ke Italia untuk menjalani pelatihan intensif. Selain itu, pangkalan pendukung di Teluk Ratai, Lampung, saat ini sedang dikebut pembangunannya dan telah mencapai progres 76 persen.
Dengan integrasi KRI Sriwijaya-100 ke dalam Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT), TNI AL kini memiliki aset strategis yang mampu mendukung operasi helikopter dan drone. Kehadiran KRI Sriwijaya-100 menjadi tonggak sejarah yang membuktikan komitmen pemerintah dalam memodernisasi alutsista nasional. Ketika Bendera Merah Putih berkibar, eks kapal perang Italia Garibaldi resmi beralih nama KRI Sriwijaya-100, bangsa Indonesia mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa kejayaan maritim bukan lagi sekadar kenangan, melainkan visi masa depan yang sedang diwujudkan.
Sebagai penutup, hadirnya kapal induk ini diharapkan mampu menjadi pilar utama dalam menjaga stabilitas keamanan di wilayah perairan Indonesia yang luas. Sinergi antara modernisasi alutsista dan semangat sejarah Kerajaan Sriwijaya menjadi landasan kokoh bagi TNI AL dalam mengemban tugas negara di masa depan.


