Geger Online – 27 September 2026 | Dunia internasional kembali dikejutkan dengan pergeseran aliansi di Amerika Latin setelah pemerintah Kolombia secara mengejutkan mengumumkan kebijakan luar negeri yang radikal. Secara resmi, Kolombia resmi putus hubungan diplomatik dengan Iran [titlebase], sebuah langkah yang menandai perubahan drastis haluan politik negara tersebut di bawah kepemimpinan Presiden baru, Abelardo de la Espriella. Kebijakan ini efektif berlaku sejak 19 September 2026 dan diumumkan secara terbuka kepada publik pada Kamis (24/9/2026).
Keputusan Kolombia resmi putus hubungan diplomatik dengan Iran [titlebase] ini mencerminkan pergeseran ideologi yang tajam. Semasa pemerintahan Presiden Gustavo Petro, Kolombia dikenal memiliki hubungan yang cukup harmonis dengan Teheran, bahkan kerap membela posisi Iran dan Palestina di panggung internasional. Namun, sejak De la Espriella, seorang tokoh berhaluan sayap kanan, mengambil alih kekuasaan pada 7 Agustus lalu, orientasi politik Kolombia kini lebih mendekat ke arah Amerika Serikat dan Israel.
Pemerintah Bogota memaparkan sejumlah alasan mendasar di balik langkah tegas ini. Di antaranya adalah kekhawatiran terkait pelanggaran hak asasi manusia, dugaan hubungan Iran dengan kelompok teroris internasional, serta dampak blokade Selat Hormuz terhadap stabilitas pasokan energi global. Selain itu, pihak Kolombia menuduh Teheran telah secara konsisten menolak inspeksi dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA), yang dianggap sebagai ancaman bagi keamanan nasional dan regional.
Also Read
Di sisi lain, Iran merespons keras keputusan tersebut. Teheran menyebut tindakan Kolombia resmi putus hubungan diplomatik dengan Iran [titlebase] sebagai bentuk nyata dari pengaruh rezim Zionis dan Amerika Serikat. Pemerintah Iran mengecam langkah sepihak ini dan mengklaim bahwa kebijakan tersebut tidak mencerminkan kehendak rakyat Kolombia yang sebenarnya, melainkan hasil dari tekanan eksternal.
Ketegangan ini terjadi di tengah memanasnya situasi di kawasan Timur Tengah. Iran saat ini tengah terlibat dalam sengketa diplomatik yang luas terkait larangan penerbangan internasional yang didukung oleh Amerika Serikat. Penasihat senior pemimpin tertinggi Iran, Mohammad Mokhber, menegaskan bahwa Teheran tidak akan tinggal diam terhadap negara-negara yang berpihak pada kebijakan permusuhan AS. Sementara itu, Iran juga telah menawarkan draf proposal perdamaian melalui mediator Qatar untuk membuka kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz dalam waktu satu minggu, dengan syarat Amerika Serikat menghentikan aksi militer di kawasan tersebut.
Perubahan haluan politik Kolombia ini diprediksi akan mengubah peta geopolitik di Amerika Latin secara signifikan. Selain memutuskan hubungan dengan Iran, pemerintahan De la Espriella juga dikabarkan memiliki rencana untuk mengevaluasi hubungan dengan Kuba dan Nikaragua, serta berencana memindahkan kantor kedutaan besarnya untuk Israel ke Yerusalem. Langkah-langkah ini menunjukkan komitmen kuat Bogota untuk memperkuat aliansi strategis dengan blok Barat dalam menghadapi dinamika politik global yang semakin terpolarisasi.
Keputusan drastis Kolombia ini pada akhirnya menegaskan bahwa kebijakan luar negeri sebuah negara sangat bergantung pada arah ideologi pemimpinnya. Dengan terputusnya relasi diplomatik yang telah terjalin sejak tahun 1975 ini, masa depan kerja sama bilateral kedua negara kini berada dalam ketidakpastian, sementara dunia internasional terus memantau apakah langkah serupa akan diambil oleh negara-negara Amerika Latin lainnya.



