Geger Online – 18 September 2026 | Eskalasi konflik di Timur Tengah telah membawa militer Amerika Serikat ke dalam posisi yang sulit secara logistik. Banyak pihak bertanya-tanya, bagaimana Iran menguras stok senjata AS hingga memicu kekhawatiran di lingkaran pertahanan Pentagon? Fenomena ini bukan sekadar soal kekuatan daya hancur, melainkan perang atrisi yang memaksa Washington mengeluarkan biaya fantastis untuk setiap pencegat rudal yang ditembakkan.
Sejak Operasi Epic Fury dimulai pada akhir Februari 2026, ketergantungan AS pada amunisi presisi tinggi melonjak drastis. Laporan terbaru dari Inspektur Jenderal Pentagon kepada Kongres mengungkap bahwa biaya operasional telah menembus angka 33,4 miliar dolar AS hanya dalam kurun waktu empat bulan. Dari jumlah tersebut, sekitar 22,3 miliar dolar AS habis terserap untuk pengadaan rudal dan amunisi. Inilah jawaban nyata mengenai bagaimana Iran menguras stok senjata AS; melalui taktik serangan yang memaksa pertahanan udara AS menembakkan puluhan pencegat Patriot dan THAAD setiap kali ancaman datang.
Sebagai gambaran, serangan ke Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania menunjukkan intensitas penggunaan amunisi yang tidak berkelanjutan. Militer AS harus mengerahkan 70 pencegat Patriot dan lebih dari selusin pencegat THAAD dalam satu gelombang serangan. Strategi Iran yang menggunakan hulu ledak terpecah dan serangan rumit membuat setiap intersepsi menjadi sangat mahal dan menguras persediaan strategis. Analisis dari Congressional Budget Office menunjukkan bahwa separuh hingga dua pertiga stok pencegat utama AS, termasuk SM-3 dan SM-6, telah terkuras sejak Juni 2025.
Also Read
Berikut adalah rincian estimasi nilai amunisi yang perlu segera diganti oleh pihak Pentagon:
| Jenis Amunisi | Estimasi Biaya Penggantian (USD) |
|---|---|
| Pencegat Pertahanan Rudal | 13,1 Miliar |
| Rudal Jelajah Serangan Darat | 7,3 Miliar |
| Amunisi Lainnya | 1,2 Miliar |
Kondisi ini menciptakan celah kerentanan yang serius. Di saat Washington berupaya memproduksi ulang amunisi, hambatan pada rantai pasok industri pertahanan domestik justru menjadi penghalang utama. Presiden Donald Trump sebelumnya sempat mengklaim pasokan senjata tidak terbatas, namun data lapangan membantah narasi tersebut. Kekosongan stok ini kini menjadi ancaman bagi stabilitas global, terutama bagi sekutu AS seperti Ukraina dan Taiwan yang sangat bergantung pada pasokan rudal pencegat buatan Amerika untuk pertahanan mereka.
Di sisi lain, Iran terus memperketat cengkeraman di Selat Hormuz sebagai bentuk balasan atas blokade dan serangan yang telah menelan ribuan korban jiwa. Ketegangan yang kian memuncak ini menempatkan AS dalam dilema besar: antara terus membiayai perang yang menguras kas negara atau mencari jalan keluar diplomatik. Keberhasilan taktik Iran dalam menekan kemampuan pertahanan AS menjadi bukti bagaimana Iran menguras stok senjata AS melalui perang jangka panjang yang melelahkan industri pertahanan Barat.
Pada akhirnya, konflik ini menunjukkan bahwa keunggulan teknologi tidak selalu menjamin kemenangan jika musuh mampu mengubah perang menjadi perlombaan logistik. Dengan menipisnya cadangan rudal strategis, Amerika Serikat kini menghadapi tekanan untuk segera melakukan reevaluasi terhadap strategi militernya sebelum krisis pasokan berdampak lebih luas pada keamanan nasional dan sekutu-sekutunya di seluruh dunia.



