Geger Online – 19 Oktober 2026 | Prancis desak Israel seret penyerang diplomat Eropa ke pengadilan [titlebase] setelah serangkaian serangan brutal terhadap delegasi diplomatik di desa Taybeh, Tepi Barat. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Prancis, Pascal Confavreux, menegaskan bahwa tindakan kekerasan terhadap konsul jenderal Prancis, serta perwakilan Belgia dan Polandia, tidak dapat ditoleransi. Ia menambahkan bahwa Prancis menuntut Israel segera menangkap semua pelaku dan menyeret mereka ke pengadilan, demi menegakkan hukum internasional dan melindungi misi diplomatik.
Insiden terjadi pada akhir pekan 16-17 Oktober 2026, ketika rombongan diplomat dari Prancis, Belgia, Polandia, serta seorang wali kota Prancis, Bernard Baudoux, melintasi Taybeh untuk mengamati musim panen zaitun Palestina. Sekelompok pemukim Israel bertopeng menghentikan konvoi, melempari batu, dan merusak kaca mobil diplomatik Belgia. Baudoux dilaporkan dipukul dengan batang besi dan dijatuhkan ke tanah, meski selamat dari luka serius. Dua warga Palestina juga terluka dalam bentrokan tersebut.
Uni Eropa secara resmi mengutuk serangan itu, menuntut pertanggungjawaban penuh dan langkah preventif selama musim panen zaitun. Menteri Luar Negeri Belgia, Maxime Prevot, menegaskan bahwa serangan terhadap diplomat merupakan pelanggaran hukum internasional dan menuntut sanksi terhadap pelaku. Polandia dan Kanada juga menyuarakan keprihatinan, menekankan bahwa Israel wajib melindungi semua diplomat yang berada di wilayah pendudukan.
Also Read
Israel, melalui Menteri Luar Negeri Gideon Saar, menyatakan penyelidikan sedang berlangsung dan menegaskan bahwa pihak keamanan telah menahan sepuluh tersangka yang diduga terlibat. Polisi Israel menggelar operasi penangkapan di beberapa lokasi di Tepi Barat, menyita kendaraan dan barang bukti. Namun, kritik menganggap respons tersebut terlalu lambat, mengingat pola kekerasan berulang oleh pemukim selama musim panen zaitun.
Serangan ini menambah ketegangan politik menjelang pemilihan umum Israel pada akhir Oktober. Pemerintah Netanyahu berupaya menenangkan situasi, namun oposisi menuduh pemerintah mengabaikan tindakan kekerasan terhadap warga asing. Organisasi hak asasi manusia mencatat rata-rata enam insiden kekerasan per hari di wilayah pendudukan pada paruh pertama tahun ini, menyoroti kegagalan penegakan hukum yang konsisten.
Prancis desak Israel seret penyerang diplomat Eropa ke pengadilan [titlebase] dan menegaskan kembali komitmen kuatnya terhadap keamanan misi diplomatik. Confavreux menambahkan bahwa kebijakan permukiman Israel yang melanggar hukum internasional memperparah situasi, mengancam solusi dua negara, dan menimbulkan risiko bagi diplomat serta warga sipil. Ia menekankan bahwa Israel harus menghentikan segala bentuk intimidasi dan memastikan keamanan penuh bagi semua pihak yang beroperasi di wilayah tersebut.
Di tingkat regional, otoritas Palestina mengapresiasi dukungan internasional namun menuntut tindakan lebih tegas. Wali Kota Taybeh, Suleiman Khoury, menyatakan bahwa serangan tersebut menghambat upaya kerja sama antara komunitas internasional dan petani Palestina. Ia berharap bahwa tekanan diplomatik akan memaksa Israel untuk menegakkan hukum dan melindungi hak asasi manusia.
Kesimpulannya, serangan terhadap diplomatik di Taybeh telah memicu kecaman luas dari Prancis, Uni Eropa, dan negara-negara sahabat lainnya. Permintaan agar Israel menyeret penyerang ke pengadilan mencerminkan keprihatinan global terhadap impunitas yang mengancam stabilitas kawasan. Langkah selanjutnya akan sangat menentukan apakah Israel dapat memenuhi kewajiban hukumnya dan mengembalikan rasa aman bagi diplomat asing di wilayah yang terus menjadi sorotan dunia.




