Geger Online – 22 September 2026 | Upaya untuk meredakan ketegangan ekonomi global kini menemui titik terang. Menjelang pertemuan krusial di Washington pada 24 September 2026, kabar mengenai Trump-Xi akan bertemu, China berpotensi borong gas AS senilai Rp 106,95 T menjadi sorotan utama pasar energi internasional. Langkah ini dipandang sebagai sinyal positif di tengah upaya kedua negara untuk memperbaiki hubungan perdagangan yang sempat membeku akibat perang tarif sejak Februari 2025.
Amerika Serikat saat ini memegang posisi sebagai eksportir gas alam cair (LNG) terbesar di dunia, sementara China merupakan salah satu konsumen energi terbesar. Sejak perang dagang memuncak, China praktis menghentikan impor LNG langsung dari AS. Namun, dengan adanya pertemuan tingkat tinggi ini, dinamika tersebut diperkirakan akan berubah. Analis dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Jane Nakano, menilai bahwa sektor LNG merupakan area yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Bagi China, pasokan energi dari AS menawarkan stabilitas di tengah ketidakpastian jalur logistik di kawasan Teluk Persia, sementara bagi AS, kembalinya China sebagai pembeli memberikan kepastian pasar yang berkelanjutan.
Secara teknis, perusahaan-perusahaan China saat ini masih memegang kontrak pembelian LNG dari AS sekitar 14 juta ton per tahun. Dengan nilai estimasi mencapai USD 6 miliar atau setara Rp 106,95 triliun, potensi transaksi ini menjadi salah satu agenda strategis dalam pertemuan tersebut. Selain isu energi, pertemuan di mana Trump-Xi akan bertemu, China berpotensi borong gas AS senilai Rp 106,95 T ini juga akan membahas enam isu panas lainnya, termasuk negosiasi tarif dagang, pembelian pesawat Boeing, hingga isu sensitif mengenai Taiwan dan peran China dalam konflik Iran.
Also Read
Pemerintah kedua negara dikabarkan tengah melakukan negosiasi intensif untuk memangkas tarif timbal balik pada perdagangan senilai USD 30 miliar. Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng untuk mematangkan kesepakatan tersebut. Fokus pembicaraan mencakup perpanjangan gencatan senjata tarif yang dijadwalkan berakhir pada 10 November mendatang.
Persaingan teknologi, terutama dalam bidang kecerdasan buatan (AI), juga menjadi poin krusial. Washington berupaya menjaga keunggulan teknologinya, sementara Beijing berharap adanya pelonggaran aturan yang membatasi akses perusahaan China terhadap teknologi canggih AS. Ketegangan mengenai tuduhan pengambilan data eksklusif oleh perusahaan AI China turut mewarnai atmosfer negosiasi ini.
Secara keseluruhan, pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping membawa harapan baru bagi stabilitas ekonomi dunia. Jika kesepakatan LNG terealisasi, ini bukan hanya soal angka, melainkan simbol mencairnya hubungan kedua negara adidaya tersebut. Dengan narasi bahwa Trump-Xi akan bertemu, China berpotensi borong gas AS senilai Rp 106,95 T, dunia kini menanti apakah komitmen ini mampu meredam inflasi global dan mengakhiri perang dagang yang telah membebani biaya pinjaman dan rantai pasok internasional selama lebih dari setahun terakhir.




