Krisis Leicester City Memuncak: Kekalahan Memalukan di Kandang Sendiri dari Peterborough

Author Image

Jalysa Jalysa Jalysa

-

gegeronline.co.id

Terbit

11 Oktober 2026, 13:52 WIB

Krisis Leicester City Memuncak: Kekalahan Memalukan di Kandang Sendiri dari Peterborough
Krisis Leicester City Memuncak: Kekalahan Memalukan di Kandang Sendiri dari Peterborough
SUMBER PILIHAN GEGERONLINE.CO.ID

Akses Berita & Informasi Terupdate Lebih Cepat

Jadikan gegeronline.co.id sebagai sumber utama di Google Search & AI Overviews agar tidak tertinggal update.

Geger Online – 11 Oktober 2026 | Stadion King Power kembali menjadi saksi bisu keterpurukan Leicester City setelah menelan kekalahan 1-3 dalam laga leicester vs peterborough di ajang League One. Di hadapan 29.839 penonton yang memadati stadion, tim tuan rumah tampil jauh dari ekspektasi, membuat tekanan terhadap manajer Russell Martin semakin tak terbendung. Pertandingan ini menandai debut liga yang sempurna bagi Robbie Savage sebagai manajer Peterborough, yang berhasil mengeksploitasi kelemahan taktis Leicester sejak menit awal.

Masalah sudah terlihat sejak susunan pemain diturunkan. Absennya Harry Souttar dan Sammy Braybrooke dari daftar pemain utama memicu kebingungan di kalangan suporter. Sepanjang babak pertama, Leicester tampak kehilangan keseimbangan di lini tengah dan kerap melakukan kesalahan elementer di area pertahanan. Peterborough tidak membuang waktu untuk menghukum kelalaian tersebut. Pada menit ke-12, Owura Edwards membuka skor melalui sepakan kaki kanan setelah memanfaatkan umpan matang Harley Mills, yang sekaligus menjadi awal petaka dalam pertemuan leicester vs peterborough kali ini.

Situasi semakin memburuk bagi The Foxes ketika Harry Leonard menggandakan keunggulan tim tamu pada menit ke-36. Pertahanan yang rapuh, terutama dari sisi Luke Thomas, memudahkan pemain Peterborough untuk menembus kotak penalti. Puncaknya, Warren O’Hora melakukan gol bunuh diri tepat sebelum jeda turun minum, membuat Leicester tertinggal telak 0-3. Sorakan kekecewaan dari pendukung tuan rumah menggema saat para pemain menuju ruang ganti, mencerminkan frustrasi mendalam atas performa yang jauh di bawah standar.

Memasuki babak kedua, Russell Martin melakukan tiga pergantian pemain sekaligus, memasukkan Wes Burns, Kamari Doyle, dan Ilari Kangasniemi dalam upaya mengubah formasi menjadi tiga bek. Perubahan ini sedikit memberikan energi baru. Pada menit ke-68, Emil Riis berhasil memperkecil ketertinggalan melalui skema serangan yang rapi, namun gol tersebut hanyalah pelipur lara. Meski sempat menciptakan beberapa peluang emas, termasuk aksi gemilang kiper Peterborough, Alex Bass, yang menggagalkan upaya Kamari Doyle, Leicester tetap tidak mampu bangkit dari ketertinggalan.

Hasil akhir 1-3 dalam duel leicester vs peterborough ini memaksa Leicester kini terpuruk di peringkat 17 klasemen sementara, hanya terpaut satu poin dari zona degradasi. Ketidakpastian mengenai masa depan klub sempat mencuat, namun Chief Football Officer, Jon Rudkin, menegaskan bahwa pemilik klub, Khun Top, tetap berkomitmen penuh untuk memulihkan kejayaan tim. Kendati demikian, bagi Russell Martin, kekalahan ini menjadi pukulan telak yang membuat posisinya sebagai manajer kini berada di ujung tanduk.

Secara keseluruhan, kekalahan di King Power Stadium ini bukan sekadar masalah teknis di lapangan, melainkan refleksi dari krisis stabilitas yang dialami klub dalam beberapa musim terakhir. Kegagalan untuk memenangkan duel-duel individu dan buruknya koordinasi antar lini menjadi pekerjaan rumah utama yang harus segera diselesaikan jika Leicester ingin menghindari degradasi yang lebih dalam. Tanpa adanya perbaikan drastis dalam mentalitas dan strategi, perjalanan Leicester di League One musim ini akan terus dipenuhi dengan tekanan dan ketidakpastian.

PARTNER NETWORK
Bangun Media & Aset Digital Lebih Cepat
Domain premium, website berita, optimasi publisher & solusi digital.

Related Post

Terbaru