Geger Online – 15 Oktober 2026 | Distrik Gorkha di Nepal kini tengah dirundung duka pascabanjir bandang yang melanda pada Minggu (11/10/2026). Hingga saat ini, penyebab banjir Nepal diselidiki, diduga lahir dari bendungan alami yang terbentuk akibat longsor besar di antara wilayah Lokpa dan Chumling. Fenomena ini memicu luapan air Sungai Budhi Gandaki yang sangat drastis, hingga ketinggian air dilaporkan melonjak dari 2 meter menjadi 8,5 meter dalam waktu singkat.
Bencana ini berdampak signifikan terhadap aksesibilitas dan keselamatan warga. Sirkuit Manaslu, yang merupakan destinasi pendakian populer, terputus total akibat hanyutnya jembatan dan jalur setapak. Otoritas penanggulangan bencana nasional (NDRRMA) mencatat setidaknya 200 rumah mengalami kerusakan, 12 rumah hanyut terbawa arus, serta rusaknya infrastruktur vital seperti menara komunikasi dan pembangkit listrik tenaga air. Hingga kini, lima warga desa masih dinyatakan hilang, sementara upaya pencarian terus diintensifkan oleh tim gabungan yang mengerahkan 437 personel dan helikopter militer.
Pakar meteorologi pemerintah, Binod Parajuli, menjelaskan bahwa sulitnya mendapatkan data akurat disebabkan oleh hancurnya stasiun hidrologi di lokasi kejadian. Namun, hipotesis awal mengenai penyebab banjir Nepal diselidiki, diduga lahir dari bendungan alami yang kemudian jebol, diperkuat dengan laporan warga setempat mengenai adanya longsoran es di hulu sungai. Kondisi ini membuat situasi di lapangan sangat tidak menentu bagi ratusan pendaki asing yang terjebak di sejumlah titik sepanjang jalur pendakian.
Also Read
Berikut adalah rincian dampak infrastruktur yang tercatat sejauh ini:
- Lebih dari 200 rumah warga rusak berat.
- 12 rumah dan sejumlah jembatan gantung hanyut terseret arus.
- Dua menara telepon dan 50 tiang listrik roboh.
- Kerusakan pada instalasi pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Bagi para penyintas, kondisi ini menghadirkan trauma mendalam, terutama karena Nepal baru saja berupaya bangkit dari bencana serupa pada Agustus lalu yang menelan ribuan korban jiwa. Psikolog dan organisasi kemanusiaan seperti Save the Children menyoroti dampak psikologis yang dialami anak-anak di Gorkha yang kini harus kembali menghadapi kehancuran lingkungan tempat tinggal mereka. Sementara proses evakuasi udara masih menjadi satu-satunya akses bagi mereka yang terisolasi, pihak berwenang terus berupaya memulihkan jaringan komunikasi yang terputus.
Meskipun operasi penyelamatan masih menjadi prioritas utama, para ahli tetap menekankan pentingnya evaluasi geologis di wilayah hulu. Mengingat penyebab banjir Nepal diselidiki, diduga lahir dari bendungan alami akibat material tanah atau es, pemetaan ulang kawasan rawan bencana menjadi krusial. Pemerintah Nepal sendiri telah mengalokasikan perhatian besar pada rekonstruksi infrastruktur pascabanjir, dengan proyeksi biaya mencapai miliaran dolar AS untuk memulihkan konektivitas di wilayah-wilayah terpencil agar dapat kembali normal dan aman bagi penduduk maupun pendaki.
Secara keseluruhan, situasi di Gorkha masih dalam status siaga. Masyarakat diimbau untuk menjauhi tepian sungai dan mengikuti arahan evakuasi ke dataran yang lebih tinggi. Ke depan, penguatan sistem peringatan dini di wilayah pegunungan akan menjadi fokus utama pemerintah agar risiko bencana serupa dapat dimitigasi lebih baik.




