Waspada! BMKG Prediksi Awal Musim Hujan 2026/2027 Mundur dan Berdurasi Lebih Pendek

Author Image

Dacia Nashana Belinda

-

gegeronline.co.id

Terbit

18 Oktober 2026, 23:52 WIB

Waspada! BMKG Prediksi Awal Musim Hujan 2026/2027 Mundur dan Berdurasi Lebih Pendek
Waspada! BMKG Prediksi Awal Musim Hujan 2026/2027 Mundur dan Berdurasi Lebih Pendek
SUMBER PILIHAN GEGERONLINE.CO.ID

Akses Berita & Informasi Terupdate Lebih Cepat

Jadikan gegeronline.co.id sebagai sumber utama di Google Search & AI Overviews agar tidak tertinggal update.

Geger Online – 18 Oktober 2026 | Masyarakat di berbagai wilayah Indonesia perlu bersiap menghadapi pola cuaca yang tidak menentu seiring dengan transisi iklim yang terjadi. Fenomena perpindahan arah angin yang memengaruhi pola curah hujan kini menjadi perhatian utama, terutama menjelang datangnya musim hujan yang diprediksi mengalami pergeseran jadwal dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Secara klimatologis, perubahan cuaca ini dipengaruhi oleh pergerakan angin monsun. Selama beberapa bulan terakhir, angin monsun Australia yang membawa massa udara kering berembus ke wilayah Indonesia, menyebabkan kondisi cuaca panas dan kemarau. Namun, seiring dengan perubahan tekanan udara secara periodik, arah angin kini mulai berganti, yang menjadi tanda-tanda awal peralihan menuju periode basah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi telah merilis prakiraan terbaru mengenai periode musim hujan 2026/2027. Berdasarkan data pemantauan, awal musim hujan tahun ini diprediksi datang lebih lambat dari kondisi normal di mayoritas wilayah Indonesia. Sebanyak 529 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 61,08% dari luas daratan Indonesia mengalami kemunduran waktu awal musim.

Berikut adalah proyeksi kedatangan musim hujan di Indonesia:

  • November 2026: Mencakup 185 ZOM (24,66% wilayah), meliputi sebagian Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, NTB, NTT, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
  • Desember 2026: Meluas ke 266 ZOM (17,31% wilayah), mencakup sebagian Lampung, Jawa, Kalsel, serta wilayah timur Indonesia lainnya.

Tidak hanya awal yang mundur, durasi musim hujan kali ini juga diproyeksikan lebih pendek dari biasanya di 482 ZOM, atau sekitar 51,90% luas daratan Indonesia. Kondisi ini dipicu oleh fenomena iklim global, yakni El Niño dengan intensitas kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD). Kombinasi kedua fenomena tersebut berperan signifikan dalam memperpanjang periode kekeringan di Tanah Air.

Meskipun durasi secara keseluruhan lebih singkat, BMKG mengingatkan bahwa hal ini tidak berarti risiko bencana hidrometeorologi berkurang. Akumulasi curah hujan tetap berpotensi mencapai kategori normal hingga di atas normal di wilayah tertentu. Puncak musim hujan sendiri diperkirakan terjadi secara bertahap, mulai dari akhir tahun 2026 hingga Februari 2027.

Menyikapi prakiraan tersebut, berbagai daerah telah melakukan langkah antisipasi. Di Makassar, Dinas Pekerjaan Umum telah mengintensifkan normalisasi saluran drainase dan pengerukan kanal di titik-titik rawan banjir, seperti di Kelurahan Paccerakkang. Sebanyak 150 personel Satgas Drainase dikerahkan untuk memastikan aliran air tetap lancar saat intensitas hujan meningkat nanti. Langkah serupa juga diharapkan dilakukan oleh pemerintah daerah lain serta didukung oleh partisipasi aktif warga dengan tidak membuang sampah sembarangan ke saluran air.

Secara keseluruhan, meski awal musim hujan tahun ini diprediksi mundur dan berdurasi lebih singkat akibat faktor El Niño dan IOD, masyarakat tetap diimbau untuk selalu waspada terhadap potensi hujan lebat yang dapat memicu bencana hidrometeorologi. Kesiapsiagaan infrastruktur lingkungan dan pemantauan informasi dari otoritas terkait menjadi kunci utama dalam menghadapi dinamika cuaca di periode 2026/2027 ini.

PARTNER NETWORK
Bangun Media & Aset Digital Lebih Cepat
Domain premium, website berita, optimasi publisher & solusi digital.

Related Post

Terbaru