Diplomasi Runtuh: Sengketa Sungai Nil Memanas, Mesir-Ethiopia Saling Usir Diplomat

Author Image

Raonaid arva (teutonic) Phyllis

-

gegeronline.co.id

Terbit

3 Oktober 2026, 15:52 WIB

SUMBER PILIHAN GEGERONLINE.CO.ID

Akses Berita & Informasi Terupdate Lebih Cepat

Jadikan gegeronline.co.id sebagai sumber utama di Google Search & AI Overviews agar tidak tertinggal update.

Geger Online – 03 Oktober 2026 | Kawasan Tanduk Afrika kini berada dalam titik didih baru setelah hubungan diplomatik antara Mesir dan Ethiopia berada di ambang kehancuran. Situasi geopolitik regional semakin tidak menentu setelah peristiwa sengketa Sungai Nil memanas, Mesir-Ethiopia saling usir diplomat [titlebase] terjadi pada Kamis, 1 Oktober 2026. Aksi saling usir ini menandai eskalasi drastis dari kebuntuan panjang terkait pengelolaan sumber daya air dan stabilitas keamanan di wilayah tersebut.

Perselisihan dimulai ketika pemerintah Ethiopia secara mendadak memerintahkan diplomat senior Mesir, Ahmed Moharam Ahmed Soliman, untuk meninggalkan wilayah Addis Ababa dalam kurun waktu 48 jam. Tanpa memberikan penjelasan resmi yang mendetail, langkah sepihak ini memicu reaksi keras dari Kairo. Pada hari yang sama, pemerintah Mesir merespons dengan menyatakan konselor Kedutaan Besar Ethiopia di Kairo, Egazi Emelo Borougi, sebagai persona non grata dan memberinya tenggat waktu yang sama untuk segera angkat kaki dari Mesir.

Pengamat melihat bahwa sengketa Sungai Nil memanas, Mesir-Ethiopia saling usir diplomat [titlebase] ini hanyalah puncak gunung es dari ketegangan yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade. Inti dari permasalahan ini adalah Bendungan Renaisans Ethiopia (GERD) yang dibangun di Sungai Nil Biru. Bagi Mesir, bendungan ini merupakan ancaman eksistensial karena Sungai Nil Biru menyumbang lebih dari 80 persen pasokan air tawar mereka. Penurunan debit air yang drastis dikhawatirkan akan melumpuhkan sektor pertanian dan mengancam ketahanan pangan bagi jutaan warga Mesir.

Di sisi lain, situasi regional kian keruh karena adanya tuduhan serius dari militer Ethiopia. Kepala Staf Angkatan Darat Ethiopia, Marsekal Birhanu Jula, menuding bahwa Mesir, Sudan, dan Eritrea terlibat dalam mendukung kelompok bersenjata yang berupaya menggulingkan pemerintahan Perdana Menteri Abiy Ahmed. Addis Ababa mengklaim bahwa dukungan asing tersebut menjadi bahan bakar utama bagi konflik internal yang kini meluas di wilayah utara Ethiopia. Pihak Kairo dengan tegas membantah tuduhan tersebut, menyebutnya sebagai upaya Ethiopia untuk menutupi kegagalan internal dalam mengelola krisis domestik mereka sendiri.

Meskipun upaya diplomasi terus didorong oleh Uni Afrika agar semua pihak menahan diri, kenyataan di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Presiden Mesir, Abdel Fattah El-Sisi, menegaskan bahwa meskipun negaranya tetap berkomitmen pada solusi damai, pihaknya tidak akan membiarkan eksistensi rakyat Mesir dikorbankan demi proyek bendungan yang tidak memiliki aturan operasional dengan kekuatan hukum tetap.

Secara keseluruhan, eskalasi konflik ini menunjukkan bahwa sengketa Sungai Nil memanas, Mesir-Ethiopia saling usir diplomat [titlebase] bukan sekadar masalah teknis pengelolaan air, melainkan telah bertransformasi menjadi krisis keamanan regional yang kompleks. Tanpa adanya dialog yang inklusif dan itikad baik dari kedua belah pihak untuk menanggalkan ego nasional, stabilitas di sepanjang aliran Sungai Nil dan kawasan Tanduk Afrika akan terus terancam oleh ketidakpastian politik dan potensi konflik terbuka yang lebih luas.

PARTNER NETWORK
Bangun Media & Aset Digital Lebih Cepat
Domain premium, website berita, optimasi publisher & solusi digital.

Related Post

Terbaru