Geger Online – 04 Oktober 2026 | Formasi Durupınar di Provinsi Ağrı, Turki, kembali menjadi pusat perhatian dunia arkeologi. Situs yang terletak tidak jauh dari Gunung Ararat ini menyimpan misteri mendalam terkait klaim keberadaan Bahtera Nabi Nuh. Saat ini, sebuah tim peneliti internasional yang dipimpin oleh Prof. Dr. Cenker Atila dari Departemen Arkeologi Sivas Cumhuriyet University tengah melakukan serangkaian eksplorasi intensif. Salah satu agenda utama tim adalah pengeboran 20 meter di lokasi diduga bahtera Nabi Nuh, peneliti tunggu hasil laboratorium [titlebase] sebagai langkah krusial untuk mengungkap rahasia di bawah permukaan tanah yang selama puluhan tahun menyimpan teka-teki.
Eksplorasi yang dimulai pada 2026 ini menggunakan pendekatan multidisiplin yang jauh lebih canggih dibandingkan riset-riset sebelumnya. Tim tidak lagi hanya mengandalkan pengamatan visual dari udara terhadap formasi sepanjang 157 meter yang menyerupai kapal tersebut. Berbagai teknologi mutakhir dikerahkan, di antaranya:
- Ground-Penetrating Radar (GPR) untuk memetakan struktur bawah permukaan.
- Electrical Resistivity Tomography (ERT) guna mengidentifikasi perbedaan material tanah.
- LiDAR untuk pemetaan topografi presisi tinggi.
- Pengeboran inti (core drilling) untuk pengambilan sampel fisik.
Ketegangan memuncak ketika tim melakukan pengeboran 20 meter di lokasi diduga bahtera Nabi Nuh, peneliti tunggu hasil laboratorium [titlebase]. Pada kedalaman sekitar 4 hingga 5 meter, mata bor yang digunakan tiba-tiba pecah setelah menghantam lapisan material yang sangat keras. Kejadian ini memicu spekulasi di kalangan tim peneliti; apakah lapisan tersebut merupakan kayu yang telah membatu (petrified wood) atau material lain dengan tingkat mineralisasi tinggi. Hingga saat ini, hipotesis tersebut masih memerlukan validasi ilmiah yang ketat.
Also Read
Sebelum insiden pecahnya mata bor tersebut, survei geofisika yang dilakukan antara tahun 2014 hingga 2021 telah memberikan petunjuk menarik. Data menunjukkan adanya pola linear dan struktur yang membentuk sudut siku-siku di bawah permukaan tanah. Temuan ini sempat memicu klaim bahwa struktur tersebut merupakan buatan manusia. Namun, secara akademis, komunitas peneliti tetap bersikap hati-hati. Mengingat sejarah perdebatan panjang, di mana riset geologi terdahulu sering menyimpulkan bahwa formasi Durupınar terbentuk secara alami akibat proses geologis, maka temuan terbaru ini harus melewati uji laboratorium independen.
Selain pengeboran konvensional, tim juga dikabarkan menyiapkan robot bawah tanah bernama Gopher yang dikembangkan oleh Dr. Robert Ross dari La Trobe University. Robot ini dirancang untuk menelusuri area yang diduga memiliki koridor dan ruang-ruang bawah tanah. Penggunaan teknologi robotik ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tanpa harus melakukan penggalian besar-besaran yang bersifat destruktif terhadap situs arkeologi tersebut.
Secara keseluruhan, meskipun antusiasme publik sangat tinggi terkait pengeboran 20 meter di lokasi diduga bahtera Nabi Nuh, peneliti tunggu hasil laboratorium [titlebase], para ahli menekankan bahwa hasil laboratorium adalah kunci utama. Sampel fisik yang berhasil diangkat dari kedalaman tanah akan dianalisis secara mendalam untuk menentukan komposisi kimianya. Apakah benar ini adalah sisa-sisa kayu dari kapal kuno atau sekadar formasi batuan alami, semua pertanyaan tersebut baru akan terjawab setelah data laboratorium dirilis secara resmi. Hingga saat itu tiba, status Formasi Durupınar masih menjadi salah satu misteri arkeologi paling menarik di abad ke-21.

