Geger Online – 27 September 2026 | Situasi pangan nasional tengah menjadi sorotan tajam di tengah keluhan masyarakat mengenai fluktuasi biaya kebutuhan pokok. Saat ini, harga beras masih tinggi [titlebase] di berbagai wilayah, bahkan cenderung melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Kondisi ini memicu kekhawatiran publik, terutama mengingat pemerintah mengklaim bahwa stok beras nasional sebenarnya dalam kondisi melimpah.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman secara tegas menuding adanya praktik mafia yang bermain di balik fenomena ini. Menurutnya, oknum-oknum tidak bertanggung jawab sengaja memanipulasi distribusi sehingga terjadi kelangkaan di ritel modern dan lonjakan harga di pasar. Amran mengungkapkan indikasi penipuan yang sangat merugikan masyarakat, di mana beras yang seharusnya dibeli dengan harga wajar justru dipermainkan hingga mencapai angka yang fantastis. Praktik curang ini ditaksir telah merugikan hak rakyat hingga mencapai Rp90 triliun. Pemerintah menyatakan tidak akan memberi ruang bagi mafia beras dan siap melakukan tindakan tegas.
Di sisi lain, data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia mencatat dinamika yang cukup variatif pada akhir September 2026. Meskipun ada penurunan harga pada beberapa kualitas beras, secara umum harga beras masih tinggi [titlebase] di atas HET yang dipatok pemerintah yakni sebesar Rp13.500 per kg untuk medium dan Rp14.900 per kg untuk premium. Berikut adalah gambaran rata-rata harga beras nasional terkini:
Also Read
| Jenis Beras | Harga per Kilogram |
|---|---|
| Beras Bawah I | Rp14.900 |
| Beras Bawah II | Rp14.700 |
| Beras Medium I | Rp16.600 |
| Beras Medium II | Rp16.400 |
| Beras Premium I | Rp17.950 |
Variasi harga ini juga terlihat di daerah seperti Jawa Timur, di mana kenaikan harga tidak hanya menyasar beras tetapi juga komoditas lain seperti minyak goreng dan bawang merah. Berdasarkan pantauan sistem informasi daerah, harga beras masih tinggi [titlebase] dan terus dipantau untuk menjaga stabilitas pengeluaran rumah tangga. Pemerintah pun terus berupaya melakukan intervensi melalui operasi pasar serta penyaluran bantuan pangan kepada lebih dari 33,4 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia guna menekan harga di tingkat konsumen.
Selain beras, komoditas cabai juga menunjukkan tren kenaikan yang signifikan di beberapa daerah, menambah beban pengeluaran dapur masyarakat. Sementara itu, harga daging ayam dan telur ayam sempat mengalami sedikit penurunan di beberapa pasar. Faktor cuaca, biaya produksi, dan rantai distribusi menjadi variabel utama yang mempengaruhi volatilitas harga sembako saat ini.
Secara keseluruhan, tantangan utama yang dihadapi pemerintah adalah bagaimana memastikan rantai distribusi pangan berjalan transparan tanpa campur tangan spekulan. Meskipun pemerintah telah melakukan berbagai langkah mitigasi melalui program SPHP dan operasi pasar, efektivitas kebijakan tersebut sangat bergantung pada pengawasan di lapangan. Upaya pemberantasan mafia beras menjadi krusial agar masyarakat tidak terus terbebani oleh harga yang tidak rasional, sehingga stabilitas pangan nasional dapat segera pulih dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.




