Geger Online – 26 September 2026 | Sektor transportasi udara Iran kini menghadapi krisis eksistensial setelah Amerika Serikat secara resmi memberlakukan kebijakan pembatasan total yang membuat Sanksi AS hentikan penerbangan Iran, 90 persen rute luar negeri lumpuh. Kebijakan yang mulai berlaku efektif pada Rabu, 23 September 2026, ini tidak hanya membatasi operasional maskapai lokal, tetapi juga mengancam entitas asing dengan sanksi sekunder yang sangat berat.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan bahwa Washington menerapkan tekanan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam pernyataannya, ia memperingatkan bahwa setiap bandara atau perusahaan di luar negeri yang memberikan layanan pendaratan, pengisian bahan bakar, hingga penjualan tiket kepada maskapai Iran akan menghadapi risiko didepak dari sistem keuangan dolar Amerika Serikat. Dampak dari kebijakan ini membuat Sanksi AS hentikan penerbangan Iran, 90 persen rute luar negeri lumpuh di hampir seluruh wilayah operasional internasional mereka.
Data menunjukkan bahwa kapasitas penerbangan internasional Iran telah merosot drastis. Pada Agustus 2026, kapasitas penerbangan tercatat sudah lebih rendah 49 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dan angka ini terus memburuk pasca-pemberlakuan sanksi. Sejumlah negara tetangga seperti Georgia, Azerbaijan, dan Oman telah mengonfirmasi penghentian layanan bagi maskapai asal Iran. Bandara internasional di Baghdad juga telah membatasi akses bagi maskapai Iran, memaksa ribuan pelancong beralih ke jalur darat menuju Turkiye dan Armenia demi mendapatkan akses penerbangan lanjutan.
Also Read
Berikut adalah beberapa dampak utama dari kebijakan sanksi tersebut:
- Pembatalan massal rute penerbangan menuju Turkiye, Uni Emirat Arab, dan China.
- Penghentian layanan oleh maskapai besar dunia seperti Turkish Airlines, Emirates, dan Qatar Airways ke wilayah Iran.
- Kesulitan pengadaan suku cadang bagi armada pesawat Iran yang mulai menua.
- Hilangnya pendapatan negara dari biaya transit ruang udara yang mencapai lebih dari 300 juta dolar AS per tahun.
Presiden Iran, Massoud Pezeshkian, yang saat itu tengah menghadiri Sidang Umum PBB di New York, menanggapi langkah Washington dengan nada keras. Ia menyatakan bahwa tekanan dan intimidasi tersebut justru akan memperkuat perlawanan rakyat Iran. Meski demikian, realitas di lapangan menunjukkan tantangan logistik yang nyata. Pakar penerbangan Mohammadreza Ebrahimpour menilai bahwa situasi ini merupakan pukulan telak bagi infrastruktur penerbangan Iran karena ketergantungan pada pihak ketiga kini semakin sulit dipenuhi.
Secara keseluruhan, kondisi ini menciptakan isolasi udara yang belum pernah dialami Iran sebelumnya. Dengan Sanksi AS hentikan penerbangan Iran, 90 persen rute luar negeri lumpuh, nasib ribuan warga Iran yang terjebak di luar negeri serta keberlangsungan industri pariwisata dan logistik medis nasional kini berada dalam ketidakpastian yang panjang. Hingga saat ini, pemerintah Iran masih berupaya mencari celah operasional melalui rute-rute terbatas yang tersisa, namun tekanan dari Washington terus mempersempit ruang gerak maskapai nasional seperti Iran Air dan Mahan Air.



