Geger Online – 24 Oktober 2026 | Setelah menanti selama lebih dari 60 hari dalam kungkungan cuaca kering yang ekstrem, warga di Kelurahan Malino, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, akhirnya merasakan curahan hujan deras pada Jumat (23/10/2026). Guyuran air dari langit yang turun sekitar pukul 15.00 Wita selama satu jam tersebut menjadi pelepas dahaga bagi wilayah dataran tinggi yang sebelumnya dilanda kekeringan panjang.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar mengonfirmasi bahwa fenomena ini terdeteksi oleh radar. Selain Gowa, hujan serupa juga terpantau turun di wilayah dataran tinggi lainnya seperti Maros dan Pangkep. Menurut prakirawan BMKG, Farid, turunnya hujan deras ini dipicu oleh pergerakan awan yang terbentuk di laut, kemudian terbawa ke daratan dan mengalami kondensasi saat mencapai area dataran tinggi dengan ketinggian tertentu.
Namun, di sisi lain, fenomena cuaca ekstrem ini membawa kekhawatiran tersendiri, terutama bagi kawasan yang baru saja mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Para ahli lingkungan mengingatkan bahwa turunnya hujan deras di area bekas kebakaran dapat memicu erosi tanah yang parah. Tanpa adanya vegetasi pelindung, akar tanaman, dan lapisan serasah yang habis terbakar, tanah menjadi sangat rentan. Panas ekstrem dari api bahkan dapat membuat tanah menjadi hidrofobik atau sulit menyerap air, sehingga limpasan permukaan mengalir dengan kekuatan lebih besar dan berpotensi membawa sedimen serta material sisa kebakaran ke sungai.
Also Read
Dampak cuaca ekstrem ini tidak hanya dirasakan di Sulawesi Selatan. Di Kota Bogor, hujan yang disertai angin kencang juga sempat memicu banjir lintasan di Jalan Pacilong, Kecamatan Tanah Sareal, pada Kamis (22/10/2026). Air sempat menggenangi jalan utama hingga setinggi ban mobil, menyebabkan beberapa kendaraan mogok. Selain genangan, BPBD Kota Bogor melaporkan adanya insiden pohon tumbang dan bangunan roboh di beberapa titik akibat cuaca buruk tersebut.
Situasi ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk selalu waspada terhadap perubahan cuaca yang drastis. Baik di wilayah yang baru saja mengalami kekeringan maupun daerah yang kerap dilanda angin kencang, kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi tetap menjadi prioritas utama. Pemerintah setempat pun terus melakukan asesmen dan penanganan cepat di titik-titik yang terdampak guna memastikan keamanan warga.
Secara keseluruhan, fenomena cuaca yang terjadi dalam dua hari terakhir menunjukkan betapa dinamisnya kondisi iklim saat ini. Transisi dari kekeringan panjang menuju musim hujan memerlukan kewaspadaan ekstra, terutama terhadap risiko erosi di lahan kritis serta potensi pohon tumbang akibat angin kencang yang menyertai curah hujan tinggi.




