Geger Online – 29 Oktober 2026 | PT Bank Mandiri (Persero) Tbk akhirnya memberikan penjelasan resmi terkait fasilitas kredit jumbo yang diberikan kepada grup usaha milik pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad, atau yang lebih dikenal sebagai Haji Isam. Langkah ini diambil menyusul permintaan klarifikasi dari Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait besarnya plafon pembiayaan yang mencapai Rp 40 triliun. Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan, Bank Mandiri (BMRI) mulai buka-bukaan soal kredit Rp 40 triliun ke Haji Isam untuk memberikan kepastian kepada publik dan investor mengenai profil risiko serta tujuan penggunaan dana tersebut.
Hingga saat ini, pihak bank menyatakan bahwa dari total plafon kredit sebesar Rp 40 triliun yang diberikan kepada PT Jhonlin Baratama, realisasi pencairan dana baru mencapai Rp 17 triliun. Sisa plafon sebesar Rp 23 triliun masih tersedia dan akan dicairkan sesuai dengan kebutuhan pengembangan usaha debitur. Adhika Vista, Senior Vice President Corporate Secretary Group Bank Mandiri, menegaskan bahwa dana tersebut dialokasikan secara spesifik untuk mendukung belanja modal (capex) serta kebutuhan operasional Grup Jhonlin di sektor pertambangan batu bara dan industri penunjangnya.
Keputusan Bank Mandiri (BMRI) mulai buka-bukaan soal kredit Rp 40 triliun ke Haji Isam juga menjawab kekhawatiran pelaku pasar mengenai sumber pembayaran kembali kredit tersebut. Pihak bank memastikan bahwa penilaian kelayakan kredit dilakukan dengan sangat ketat, dengan fokus utama pada arus kas operasional dari bisnis batu bara yang dijalankan oleh Jhonlin Group. Bank Mandiri tidak mendasarkan penilaian kredit pada fluktuasi harga saham di pasar modal, melainkan pada kinerja keuangan yang terukur dan kemampuan self-financing perusahaan.
Also Read
Terkait agunan, Bank Mandiri mengungkapkan bahwa fasilitas kredit ini dijamin oleh berbagai aset, baik aset tetap (fixed asset) maupun aset tidak tetap (non-fixed asset). Hal ini mencakup saham PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), serta rekening perusahaan. Namun, pihak bank menekankan bahwa nilai agunan hanyalah salah satu instrumen mitigasi risiko, sementara kemampuan bayar tetap bertumpu pada arus kas bisnis inti.
Analis pasar menilai bahwa meskipun eksposur kredit sebesar Rp 17 triliun terhadap satu kelompok usaha perlu dicermati, secara proporsional nilai tersebut masih berada dalam batas yang dapat dikelola. Mengingat total portofolio kredit Bank Mandiri yang mencapai ribuan triliun rupiah, eksposur ini setara dengan sekitar 1% dari total portofolio kredit perseroan secara keseluruhan. Fakta bahwa Bank Mandiri (BMRI) mulai buka-bukaan soal kredit Rp 40 triliun ke Haji Isam diharapkan dapat menepis spekulasi negatif dan memberikan transparansi penuh mengenai mekanisme pengawasan kredit yang dilakukan.
Untuk menjaga kualitas aset, bank telah menetapkan mekanisme pemantauan yang ketat terhadap penggunaan dana, termasuk kewajiban debitur untuk menyampaikan laporan aktivitas usaha secara berkala. Selain itu, terdapat mekanisme sinking fund yang telah diatur dalam dokumen pembiayaan untuk menjamin pemenuhan kewajiban bunga dan angsuran pokok secara tepat waktu. Dengan pola pengawasan ini, bank memastikan bahwa risiko kredit tetap terjaga dan selaras dengan prinsip tata kelola perusahaan yang baik.
Secara keseluruhan, pemberian fasilitas kredit oleh Bank Mandiri kepada grup usaha Haji Isam merupakan langkah ekspansi bisnis yang didasarkan pada perhitungan prospek industri batu bara yang masih menjanjikan. Transparansi yang diberikan oleh pihak bank mengenai plafon, realisasi, hingga mekanisme pengawasan menunjukkan komitmen perseroan dalam menjaga kepercayaan publik dan investor, sekaligus memastikan bahwa setiap kebijakan pemberian kredit tetap mematuhi prinsip kehati-hatian perbankan yang berlaku.

![Usai bertemu MSCI, BEI akan keluarkan 80 saham HSC dari IHSG, ini daftarnya [titlebase]](https://gegeronline.co.id/wp-content/uploads/2026/10/usai-bertemu-msci-bei-akan-keluarkan-80-saham-hsc-dari-ihsg-ini-daftarnya-titlebase.webp)

